Tidak ada perpisahan yang benar-benar ringan bagi orang tua. Apalagi berpisah dengan anak yang setiap harinya menjadi denyut kehidupan: tawanya menghidupkan rumah, tangisnya menggetarkan hati, dan kehadirannya adalah doa yang berjalan. Namun ada perpisahan yang tidak lahir dari keterpaksaan, melainkan dari cinta yang lebih jauh pandangannya—cinta yang menembus dunia dan mengarah ke akhirat.
Mengondokkan anak bukan sekadar memindahkan ia dari rumah ke pesantren. Itu adalah keputusan batin. Sebuah pertaruhan rasa. Orang tua menahan rindu, menelan sepi, dan merelakan hari-hari tanpa suara kecil yang biasa memanggilnya. Semua itu dilakukan bukan karena tak sayang, tetapi karena terlalu sayang untuk membiarkan anak tumbuh tanpa arah cahaya.
Ada air mata yang jatuh diam-diam saat pertama kali meninggalkan gerbang pesantren. Ada hati yang bergetar setiap malam, membayangkan apakah anak sudah makan, apakah ia mampu beradaptasi, apakah ia menangis dalam sunyi. Tapi justru di sanalah letak keikhlasan diuji. Orang tua belajar menyerahkan yang paling dicintainya kepada penjagaan Allah.
Pesantren mengajarkan hal yang tak selalu bisa diajarkan rumah: kesabaran dalam keterbatasan, kemandirian dalam kesederhanaan, adab sebelum ilmu, dan tunduknya hati sebelum cerdasnya akal. Di sana, anak belajar bangun bukan karena disuruh, tetapi karena kesadaran. Belajar menahan ego, menghormati guru, dan berdamai dengan hidup apa adanya.
Orang tua yang mengondokkan anak sejatinya sedang menanam investasi akhirat. Mereka mungkin tak bisa menemani setiap langkah kecil anaknya, tapi mereka sedang menyiapkan langkah panjang menuju ridha Allah. Mereka rela kehilangan pelukan hari ini, demi pertemuan yang lebih indah kelak—pertemuan yang bukan hanya di dunia, tapi di surga.
Tidak semua orang tua kuat mengambil jalan ini. Maka mereka yang mampu, patut dihormati. Karena mereka memilih luka kecil di hati, demi keselamatan besar di masa depan. Mereka paham bahwa anak bukan sekadar titipan untuk dibahagiakan di dunia, tetapi amanah yang harus dituntun menuju keselamatan akhirat.
Jika kelak anak itu tumbuh dengan akhlak yang baik, shalat yang terjaga, dan hati yang mengenal Allah, maka setiap rindu yang dulu ditahan akan menjelma pahala yang tak terputus. Dan saat itulah orang tua akan tersenyum, menyadari: perpisahan sejenak ini ternyata adalah bentuk cinta yang paling jujur.
Sebab cinta sejati tidak selalu ingin dekat, tapi ingin selamat—hingga akhir.
