Social Items



Malam Jumat dan hari Jumat adalah satu paket waktu yang sering disebut sebagai “Jumat berkah”. Pemberian nama ini dikarenakan banyaknya amalan-amalan yang bisa kita amalkan untuk memperoleh berkah dari hari Jumat tersebut.

 

Jumat sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari adalah momen yang tepat untuk banyak beribadah kepada Allah SWT. Masyarakat muslim Indonesia sendiri sudah memiliki tradisi turun temurun untuk banyak melakukan ibadah.

 

Diantara amalan-amalan ibadah yang cukup sering dilakukan oleh umat Islam adalah membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat dan hari Jumat. membaca surat ke-18 dari Al Quran ini memiliki fadhilah atau keutamaan yang besar.

 

Keutamaan yang pertama adalah orang yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat akan dianugerahi cahaya antara dia dan Ka’bah. Hal itu seperti yang diriwayatkan oleh Addarimi dalam kitab sunannya,

 

 (عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: (مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Dari Abi Said Al Khudhri berkata: Barang siapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat, maka dia akan disinari cahaya dari antaranya dan Ka’bah.  (Sunan Addarimi no. 3450)

 

Adapun komentar mengenai hadits ini adalah sanadnya tersambung sampai dengan Abi Said Al Khudhri dan hadits ini dihukumi sebagai hadits Mauquf.

 

Selain keutamaan di atas, surat Al Kahfi juga memiliki keutamaan untuk orang yang menghafal 10 ayat pertama dari surat ini, yaitu akan terjaga dari fitnah Dajjal. Hal itu seperti yang tertulis dalam kitab shohih muslim,

 

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ

Dari Abi Darda’, sesungguhnya Nabi SAW bersabda: Siapa yang menghafal 10 ayat dari awal surat Al Kahfi, maka akan terjaga dari (fitnah) Dajjal. (Shohih Muslim Juz 1 hal 555).

 

Demikian adalah beberapa keutamaan dari surat Al Kahfi baik dengan menghafalnya atau membacanya pada malam Jumat. Dengan mengetahui keutamaan-keutamaan dari surat Al Kahfi ini kita dapat semakin semangat untuk mengamalkannya

 

Sumber: Tebuireng Online

Keutamaan Membaca Surah Al-Kahfi Pada Malam Jum’at

 


Imam Nawawi Rohimahullaj taala berkata “Siwa menurut istilah para ulama’ Yaitu egiatan menggunakan ranting atau yang semacamnya untuk menghilangkan warna kuning serta kotoran lain yang ada pada gigi”.

Sikat gigi modern yang telah kita gunakan sehari-hari merupakan perkembangan dari siwak, lalu apakah dengan siat dan pasat gigi itu termasuk bersiwak ?.jawabannya termasuk dalam katagori bersiwak, pada dasarnya bersiwak dianjurkan dengan kayu Arok. Tapi juga bisa menggunakan benda lain yang bisa membersihkan gigi, mulut dan gusi.

Manfaat Siwak

Dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak membuat bersih mulut dan mendatangkan ridho Allah” (H.R Ahmad, shahih)

 

Dari hadits diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dengan bersiwak kita mendapakatkan dua kebaiakan yang sangat mulia yakni:

Kebaikan duniawi yakni dapat membersihkan mulut.

Kebaian uhkrawi yakni mendapatkan ridho Allah Swt.

Perbuatan yang sangat mudah untuk kita amalakan dan memilki manfaat yang sangat agug, tapi sayangnya kegiatan ini sudah mulai ditinggalkan dan kadang kita menjadi tontonan oleh orang banyak padahal apa yang kita merupakan kesunnahan Nabi Muhammad Saw. Tapi ingatlah wahai saudaraku tetaplah mengamalkan apa yang tlah rosul ajarkan kepada kita tanpa memikirkan apa kata orang.


Cara Bersiwak

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterangkan dalam hadits berikut :

 

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ

“ Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai memulai pada bagian kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam urusannya yang penting semuanya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Maka dikala kita bersiwak hendakla dimulai dengan bagian mulut kanan lalu ke bagian mulut bagian kiri. Karena hal tersebut sesuai dengan kebiasaan Nabi ketika hendak memulai perbuatan baik.


Waktu Untuk Bersiwak

Sesungguhnya bersiwak itu disunnahan pada setiap saat. Tapi berikut hadits-hadits waktu disunnahkan bersiwak:

 

  • Ketika wudhu
Sabda Rosullah Saw:

 

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ

“ Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu” (HR. Ahmad, shahih).

  • Ketika shalat

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ

“Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari).

  • Ketika membaca Al Qur’an

Dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhyiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Kami diperintahkan untuk bersiwak dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

إن العبد إذا قام يصلي أتاه الملك فقام خلفه يستمع القرآن ويدنو فلا يزال يستمع ويدنو حتى يضع فاه على فيه فلا يقرأ آية إلا كانت في جوف الملك

“ Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak mendirikan shalat datanglah malaikat padanya. Kemudian malaikat itu berdiri di belakangnya, mendengarkan bacaan Al-Qu’rannya, dan semakin mendekat padanya. Tidaklah dia berhenti dan mendekat sampai dia meletakkan mulutnya pada mulut hamba tadi. Tidaklah hamba tersebut membaca suatu ayat kecuali ayat tersebut masuk ke perut malaikat itu.” (HR. Baihaqi, shahih)

  • Ketika masuk rumah

Dari Al Miqdam bin Syuraih dari ayahnya, dia berkata,

 

سَأَلْتُ عَائِشَةَ قُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَتْ بِالسِّوَاكِ

Aku bertanya pada Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika mulai memasuki rumah beliau?” Aisyah menjawab, “Bersiwak” (Muttafaqun ‘alaihi).

  • Ketika hendak shalat malam

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

 

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ

“ Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur di malam hari, maka beliau bersiwak.” (Muttafaqun ‘alaih, Shahih Fiqhu Sunnah)

 

 Allahu a’lam.bis showab.


JIKA SUNNAH ROSULMU ENGKAU ACUH BAGAIMANA ENGKAU MENGAKU MENCINTAINYA ?

 

 

Allah SWT menganugerahi Nabi Sulaiman AS sebuah mu’jizat bisa berbicara dengan binatang, suatu ketika beliau bertemu seekor semut dan bertanya, “Berapakah rezeki yang engkau perlukan untuk hidupmu setahun?”


Sang semut berkata, “Sebutir gandum!”

“Hanya sebutir gandum?” kata Nabi Sulaiman, hampir tidak percaya.

“Ya, hanya sebutir gandum!!” Kata sang semut menegaskan.

 

Nabi Sulaiman menempatkan semut tersebut dalam suatu wadah tertutup, dan memberikan sebutir gandum untuk keperluan hidupnya.

 

Setahun kemudian Nabi Sulaiman membuka wadah tertutup itu, dan beliau melihat gandum tersebut masih ada separuh, dan semut tersebut dalam keadaan sehat-sehat saja. Beliau berkata kepada sang semut, “Engkau bilang jatahmu satu butir gandum setahun, mengapa masih ada separuhnya setelah setahun ini?”

 

Sang semut berkata, “Kalau aku di luar sana, Allah yang menjamin rezekiku, dan aku bertawakkal kepada-Nya. Allah tidak akan pernah lupa dan lalai dengan rezeki yang menjadi bagianku. Karena engkau menempatkanku di tempat tertutup, dan engkau memaksa aku ‘tawakal’ kepada engkau, maka aku hanya memakan separuh jatahku. Aku tidak yakin apa engkau akan ingat kepadaku setelah setahun ini, karena itu aku mencadangkan separuhnya, kalau-kalau engkau lupa dengan jatahku!!”

 

Nabi Sulaiman bersujud dan mengucapkan kalimat-kalimat pujian akan Kebesaran dan Keadilan Allah.

 

Kisah Seekor Semut yang Tawakkal


Rabiul Awal dikenal juga dengan bulan Maulid yang disebut juga bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

Bulan Rabiul Awal juga merupakan bulan lahirnya Rasulullah. Kelahiran Nabi Muhammad menjadi rahmat yang membedakan antara yang hak dan yang bathil, dan menjauhkan kita dari berbagai kehancuran dan bermacam-macam bahaya baik di dunia dan akhirat.

 

Allah SWT berfirman,

وَإِنَّكَ لَتَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

"Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (As-Syura: 52).

 

Ø Mengapa kita memperingati maulid Nabi ?

Maulid nabi menjadi suatu ada yang sangat baik untuk menunjukkan kecintaan yang dalam kepada Rasulullah serta sebagai ungkapan rasa cinta dan syukur atas kelahiran sang penerang dunia.

Allah SWT telah memerintahkan kita untuk bergembira atas rahmat yang Allah berikan kepada kita. Sedangkan Rasulullah ialah rahmat yang paling mulia dan berharga.

 

Allah SWT telah berfirman:

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

"Kita tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi semua yang ada di alam semesta." (Al-Anbiya: 107)

 

Ø Amalan Di Bulan Rabiul Awal yang Berfaedah

Dibawah ini merupakan bentuk dari sebuah amalan-amalan yang harus kita ketahui dan kita laksanakan di bulan Rabiul Awal, karena banyak sekali pahala yang akan didapatkan. Berikut amalannya :

 

1. Membaca sholawat Nabi

Sebagaimana ketika kita membaca tasyahud akhir ketika sholat. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, Rasulullah bersabda:

“Barang siapa membaca shalawat ini, maka aku bersaksi untuknya di hari kiamat dengan sebuah persaksian dan memberinya syafa‘at”.

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

Artinya : “Ya Allah. Berilah (yakni, tambahkanlah) sholawat (sanjungan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi sholawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia. Ya Allah. Berilah berkah (tambahan kebaikan) kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha terpuji (lagi) Maha Mulia.”

 

2. Memperbanyak sedekah

Memperbanyak sedekah tidak akan membuat kita menjadi miskin. Bahkan sebaliknya dengan banyak bersedakh maka akan semakin banyak pula rezeki yang kita punya. Keberkahan adalah berkumpulnya orang yang selalu melakukan dan mendapatkan kebaikan.

 

3. Melaksanakan puasa sunnah

Melakukan puasa sunnah seperti senin dan kamis, serta puasa tengah bulan Yaumul Bids pada tanggal 13-14-15 Hijriyah. Karena dengan berpuasa sunnah pada tanggal tersebut pahala kita akan dilipat gandakan oleh Allah SWT.

 

4. Memperbanyak amalan kebaikan

Bagi kita semua alangkah baiknya untuk melakukan dan mengerjakan amal yang baik-baik. Jangan sampai kita melakukan amalan yang tidak diridhoi oleh Allah SWT dan bersifat maksiat. Orang-orang zaman dahulu pernah mengatakan, bahwa di bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW ini pantang untuk melakukan segala bentuk maksiat.


sumber : umma.com


HAFIMULTIMEDIA



KEUTAMAAN DAN AMALAN-AMALAN DI BULAN ROBIUL AWAL

 

Dua orang lelaki memasuki ruang pengadilan dan berdiri di depan hakim. Orang yang satu bertubuh diri dan kekar. Wajahnya masih segar dan tampak muda. Usianya sekitar empat puluh tahun. Sedangkan yang satunya seorang laki-laki yang tampak tua rentah. Punggungnya seperti sudah bongkok. Dia berdiri bertumpu pada tongkatnya.


Lelaki muda berkata, “wahai tuan hakim, sepuluh keping uang emas kepada sahabatku ini. Dia berjanji akan membalikannya jika keadaannya membaik. Jika aku memintany dia selalu menghindar dan mengelak”.


Sang hakim bertanya pada orang tua itu, “apa yang kau katakan setelah mendengar perkataan temanmu itu?”


Orang itu menjawab, “kuakui, dia memang pernah meminjamiku sepuluh keping uang emas, tetapi sudah aku kembalikan tuanku.”


Hakim itu berdiri dan berkata, “apakah kau berani bersumpah di deoan pengadilan bahwa kamu telah mengembalikan sepuluh keping emas itu kepada temanmu?”.


Orang tua itu langsung menjawab dengan suara lantang, “Ya, aku berani, Tuan hakim”.


Sang hakim berkata “Baiklah, sekarang angkat tanganmu dan bersumpahlah”.


Orang itu menoleh kepada lelaki muda yang ada di sampingnya dan meminta agar lelaki itu memegang tongkatnya sebentar. Dengan begitu dia mengangkat tangan kanannya ketika bersumpah.


Orang tua itupun mengangkat tangan kanannya dan berkata, “Aku bersumpah demi Allah bahwa aku telah mengembalikan sepuluh keping emas kepadanya.


Tuan hakimpun mengecam lelaki muda yang telah menudu tidak baik kepada orang tua itu. Lelaki muda itu seketika meminta maaf kepada tuan hakim, mungkin dia telah lupa bahwa orang tua itu telah mengembalikannya.


Orang tua itu lalu mengambil kembali tongkatnya. Sebelum keduanya pergi meninggalkan pengadilan, tiba-tiba terlintas pemikirang yang mengejutkan dalam kepala tuan hakim. Dia segera memanggil keduanya.


Keduanya kembali menghadap tuan hakim. Lalu tuan hakim bertanya kepada orang tua, “Apakah, kau biasa memakai tongkat, pak tua?”


Orang tua itu menjawab “kadang-kadang, tuanku”.


Tuan hakim juga menanyakan hal sama pada lelaki muda. Dia menjawab, “Tidak tuanku, aku tidak pernah melihat sebelumnya dia memakai tongkat.”


Tuan hakim meminta orang tua itu menyerahkan tongkatnya. Hakim memegang tongkat itu dan memeriksanyadengan seksama, tuan hakim merasa tongkat itu agak berat, hakim memegang lekukan di pangkal tongkat yang biasa dibuat pegangan dan memutarnya, teryata bisa.


Saat itu, wajah lelaki tuah pemilik tongkat pucat pasi. Lalu tuan hakim menriknya kuat-kuat, dan lepaslah lekukan itu, teryata, ttongkat itu berlubang. Lubangnya di sumpal dengan menggunakan secarik kain. Tuan hakim menarik kain yang menyumpal lubang itu. Lalu, dia memiringkat tongkat itu , mengarahkan lubangnya ke bawah. Seketika terdengar suara gemerincing uang emas berjatuhan di hadapan hadirin. Seketika tubuh orang tua itu bergemetar.


Lalu tuan hakim meminta agar lelaki muda itu memumuti kepingan-kepingan uang emas itu. Setelah terkumpul semua, lelaki muda itu menghitung dan ternyata berjumlah sepuluh keping.


Tuan hakim langsung berkata kepada orang tua itu, “Hai orang tua busuk, kau kira bisa menipu lelaki ini dan mengelabuilu!, aku sudah curiga kepada sejak kamu menyerhkan tongkat kepada temanmu sebelum bersumpah. Apakah kau kira sumpahmu benar?”.



Kemudian teuan hakim menoleh kepada kepada lelaki muda pemilik sepuluh keping emas itu seraya berkata kepadanya, “Orang tua ini licik dan pendusta. Dia menyerahkan tongkat yang di dlamnya ada sepuluh keping emas kepadamu. Lalu, dia bersumpah telah menyerahkan emas kepadamu karena saat itu emasmu sedang berada dalaam genggamanmu. Sementara itu, kamu tidak tahu. Inilah tipu daya dia.”


Akhirnya hakim menoleh kepada prajurit pengadilan dan memberi perintah tegas, “ tangkap orang tua busuk ini dan masukkan dia kedalam penjara sapai aku menentukan hukuman yang pantas untuk orang yang mepermainkan sumpah dean menghianati amanah.


Kemudian, lelaki muda itu keluar dari pengadilan denagn hati gembira. Dia seperti tidak percaya bahwa uang emasnya akan kembali. Orang-orang yang menghadiri pengadilan itu terkagum-kagum oleh kecerdasan dan keadilan sang hakim yang telah mampu mebuka rahasia yang tersimpan dalam tongkat orang tua yang berkhianat itu.

TONGKAT SANG PENGKHIANAT


SUNGGUH DURHAKA ANAK YANG MENDO'AKAN ORANG TUANYA 5 KALI SEHARI


Oleh : Ustadz Arifin Nugroho

Pada saat sholat Dhuhur ada kajian dari Syaikh yang mengisi kajian sambil berjualan buku. Di akhir kajian, saya sempatkan utk membeli buku yang di jual oleh Syaikh tadi. Judul bukunya "Melipat gandakan Keuntungan Dengan Berbakti Kepada Orangtua." Dalam satu bab di buku tersebut di bahas mengenai *Adab Kepada Orangtua

 

Dimana dikatakan bahwa "Sungguh durhaka seorang anak yang hanya mendo'akan kedua orangtuanya hanya 5 kali dalam satu hari." Saya bingung, kenapa kita sudah mendo'akan orangtua sehari 5 kali, kok masih di bilang anak durhaka ? Saya coba balik lagi ke Masjid tempat saya membeli buku tersebut, saya tanyakan kepada pengurus kajian di Masjid itu, di mana saya bisa menemui Syaikh yang kemarin memberi kajian di Masjid ini.

 

Dan setelah saya dapatkan nomor ponselnya, saya hubungi dan kami janjian untuk bertemu di sebuah Masjid yang kebetulan beliau sedang mengisi kajian juga. Selesai kajian, saya bertemu dengan beliau, dan saya bertanya, kenapa kok seorang anak yang sudah mendo'akan kedua orangtuanya 5 kali sehari, masih di katakan anak yang durhaka ?

 

Syaikh itu kemudian meminta kepada saya untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua. Dan saya bacakan do'a yang biasa saya baca setelah sholat.

"Rabighfirli waliwalidayya" "Stop", kata si Syaikh. "Ulangi lagi". "Rabighfirli waliwali dayya"

"Stop, ulangi lagi." "Rabighfirli waliwalidayya" "Stop, ulangi lagi". Terus saya ulangi sampai sepuluh kali.

Kemudian si Syaikh bertanya kepada saya, "Apakah kamu capek?" "Tidak, Syaikh" "Apakah kamu sampai berkeringat ?" "Tidak, Syaikh" "Apakah kamu sampai mengeluarkan uang membaca do'a seperti yang kamu baca tadi?" Kembali saya jawab tidak, "Kamu gak perlu mengeluarkan uang, kamu gak perlu mengeluarkan keringat, kamu gak perlu mengeluarkan tenaga yang besar hanya untuk membacakan do'a ampunan kepada kedua orangtuamu." "Tapi kenapa kamu hanya bisa memintakan ampunan buat orangtuamu sehari semalam cuma 5 kali ?" "Padahal sejak kamu masih berada dalam perut ibumu, berapa banyak keringatnya yang sudah ibumu keluarkan karena beratnya menanggung kamu yang berada diperutnya ?"

 

"Betapa sakitnya ibumu saat melahirkan kamu, berapa besar biaya yang sudah dikeluarkan kedua orangtuamu untuk membesarkan kamu?" "Dan sebagai balasannya, kamu hanya bisa mendo'akan kedua orangtuamu cuma 5 kali dalam sehari semalam?" "Padahal satu kali saat kamu membacakan do'a untuk kedua orangtuamu, *Rabighfirli waliwalidayya*, saat itu juga satu dosa dari orang tuamu dihapuskan ALLAH Subhaanahu Wa Ta'alaa ".

 

"Dan ada sebuah kisah, dimana ada seorang orangtua yang saat dia dimakamkan penuh dengan dosa, tiba-tiba, saat orangtua tersebut sedang kesusahan di alam kuburnya, ALLAH Subhaanahu Wa Ta'alaa berikan keringanan dan ALLAH berikan kemuliaan." "Sampai-sampai si ahlul kubur bingung, kenapa dia diangkat derajatnya seperti ini ?" "Kemudian jawab malaikat, "Ini berkat do'a anak-anakmu" Masya Allah... 

Sekarang, apakah kita masih berat untuk membacakan do'a untuk kedua orangtua kita sehari lebih dari 50 kali ?

 

Renungkanlah .....

 


SUNGGUH DURHAKA ANAK YANG MENDO'AKAN ORANG TUANYA 5 KALI SEHARI


Maulid Nabi Muhammad Saw

 

Pada 12 Rabiul awal 1224 Hijriah malam ahad ba’da isya, Pondok Pesantren Hasan Jufri memperingati hari lahirnya insan yang mulia yakni Nabi Muhammad Saw. Yang di ikuti seluruh santri dan para undangan.

 

Sebelum acara dimulai para santri melantunkan shalawat-shalawat pujian untuk Rosulullah Saw, sebagai langkah awal agar acara Maulid Nabi bisa berjalan dengan lancar sesuai harapan.

 

Eky Arisandi(santri) sebagai mc membacakan susunan acara pada malam tersebut, pembacaan ayat suci Al-qur’an dibacakan oleh Ustad Yarmis, setelahnya di lanjutkan dengan pembacaan maulid Simtuddurar bersama, dengan diiringi tabuhan rebana oleh grup Diaul Mujtaba’.

 

Acara inti dalam acara tersebut yakni ceramah agama yang di sampaian oleh Kiai Masyhud yang membahas tentang "Rasulullah adalah paling baiknya panutan", sebagaimana firman allah dalam surah Al-Ahzab ayat : 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”

 

Ayat yang agung di atas, di setiap bulan Rabi’ul Awwal, biasanya menjadi ayat yang paling sering terdengar dari corong-corong masjid. Tentu saja melalui mimbar-mimbar ceramah maulid. Para penceramah maulid juga tidak pernah lupa mengingatkan makna inti yang terkandung dalam ayat tersebut, bahwa kita sebagai ummat Nabi Muhammad wajib untuk menjadikan beliau sebagai panutan dalam mengamalkan agama.

 

Dan do’a sebagai penutup acara dibacakan oleh Kiai Mufidz Hilmi, setelahnya diakhiri dengan makan bersama sebagai rasa syukur dalam memperingati maulid nabi Muhammad SAW dan sebagai harapan agar kelak ketika di akhirat kita bisa mendapatan syafaat rosulullah SAW.

Maulid nabi Muhammad Saw



Pelaksanaan Hari Santri diselenggarakan setiap tahun sekali bertepatan tanggal 22 Oktober 2020 bertujuan untuk mengenang jasa para Ulama dan para Santri yang gugur memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

 

Untuk memperingati acara tersebut, pondok pesantren hasan jufri melaksanakan upacara bendera yang di ikuti oleh para ustad dan para santri. Dalam acara tersebut seluruh santri dan ustad di haruskan untuk memakai masker sebagai upaya untuk menjalankan dan mentati protokol kesehatan.

 

pada upacara tersebut dipimpim oleh jauhar hidayat (santri) dan pembinanya Farhan Aqil (santri), dan memberi sambutan yang isinya “pertumpahan darah di indonesia bukan hanya dari pahlawan revolusi saja, melainkan dari para Santri dan Kiai. Maka dari itu seluruh santri wajib memperingati hari santri yang tujuannya untuk menghormati para kiai yang sudah gugur membela Indonesia dari penjajah.

 

Biasanya untuk memeriahkan hari santri Pondok Pesantren hasan jufri mengadakan perlombaan, maka untuk tahun ini kita harus menahan diri agar tidak terjadi kerumunan banyak orang dikarenakan masa Pandemi virus Covid-19 yang masih ada di Indonesia khususnya di pulau Bawean.

 

Semoga tahun depan kita bisa melaksanakan hari santri tanpa adanya Covid-19.

HARI SANTRI DI PONDOK PESANTREN HASAN JUFRI

 




Imam Ghozali pujangga islam yang terkenal itu, berasal dari negeri Thus. Sebuah daerah yang perbatasan dengan Mashad. Pada masa itu lebih kurang pada abad ke-5 Hijriyah, Naisabhur (yang tidak jauh dari Thus) merupakan pusat ilmu pengetahuan di daerah tersebut.


Biasanya penduduku disekitar thus akan perhi menuntut ilmu di Naisabur, tak terkecuali Al Ghozali. Ia pergi ke Naisabur dan Gurgan, dengan semangat yang tinggi, bertahun-tahun ia belajar kepada ulam’-ulama’ dan orang-orang bijak setempat.


Untuk menjaga ilmu pengetahuan yang diperolehnya, ia mencatat setiap yang di dapat dari guru-gurunya. Ia sangat mencintai jeri panyahnya ini, bagaikan dirinya sendiri.


Dan setelah bertahun-tahun belajar, akhirnya Ghozali berencan untuk pulang ke kampung halamanya. Al Ghoazali menyusun dan mengumpulkan catatan-catatannya, lalu ikut kafilah yang akan pergi ke kampungnya. Di tengah jalan, kafilah itu dihadang oleh segerombolan perampok, mereka, mereka mengambil setiap baramh yang dijumpainya


Saat gilirang barang-barang bawaan Al Ghozali, ia berkata pada perampok tersebut, “kalian boleh ambil semua barang-barangku, tapi tolong jangan kalian ambil yang satu ini”


Gerombolan kelompok tersebut menduga bahwa pasti itu adalah barang-barang yang bernilai. Secepat kilat ia merebut dan membukanya. Mereka tidak melihat apa-apa kecuali setumpukan lembaran-lembaran kertas hitam”


“Apa ini ? untuk apa kamu menyimpannya ? tanya perampok itu.


“Itu barang yang tidak berguna bagi kalian, namun sangat berguna bagiku, “jawab al Ghozali.


“Apa gunanya ?”

“Ini adalah hasil pelajaranku selama beberapa tahun,”jawaab Ghozali  “jika kalian merampasnya dariku maka ilmuku akan habis, dan usahaku bertahun-tahun akan sia-sianya”


“Hanya sebatas inikah lembaran-lembaran inikah ilmumu ?”


“iya” jawab Ghozali.

العلم فى الصدور لا فى اسطور

"Ilmu itu letaknya di sanubari hati bukanlah di lembaran kertas”

“Ilmu yang disimpan dalam bungkusan dan dapat dicuri bukanlah ilmu,, pikirkanlah nasib dirimu baik-baik” kata si perampok tersebut.


Ucapan sederhana yang keluar dari yang keluar dari mulut perampok tersebut betul-betul mengguncang jiwa dan kesadaran Al Ghozali. Ia yang saat itu masih berfikir untuk sekedar mengikuti gurunya dan mencatat ilmunya di buku-buku tulis saja, seketika berubah pikiran yakni, berusaha melatih otaknya lebih banyak, mengkaji dan menganalisa. Lalu menyimpan ilmu-ilmu itu di “buku otaknya”.


Al Ghozali berkata bahwa “Sebaik-baiknya yang membimbing kehidupan keilmuanku adalah nasehat yang aku dengar dari seorang perampok.”

 


HAFIMULTIMEDIA

 

NASEHAT PERAMPOK KEPADA IMAM GHOZALI

 




Wahai kawanku yang dimuliakan Allah perlu kita ketahui bahwa mencari ilmu adalah pekerjaan yang sangat mulia, yang mana kita dapat menggapai surga dengan perantara ilmu tersebut sebagaimana hadits Nabi Saw. melalui Abi Darda’:

وَعَنْ أَبي الدَّرْداءِ قَال: سمِعْتُ رَسُول اللَّهِ ، يقولُ: منْ سَلَكَ طَريقًا يَبْتَغِي فِيهِ علْمًا سهَّل اللَّه لَه طَريقًا إِلَى الجنةِ، وَإنَّ الملائِكَةَ لَتَضَعُ أجْنِحَتَهَا لِطالب الْعِلْمِ رِضًا بِما يَصْنَعُ، وَإنَّ الْعالِم لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ منْ في السَّمَواتِ ومنْ فِي الأرْضِ حتَّى الحِيتانُ في الماءِ، وفَضْلُ الْعَالِم عَلَى الْعابِدِ كَفَضْلِ الْقَمر عَلى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وإنَّ الْعُلَماءَ وَرَثَةُ الأنْبِياءِ وإنَّ الأنْبِياءَ لَمْ يُورِّثُوا دِينَارًا وَلا دِرْهَمًا وإنَّما ورَّثُوا الْعِلْمَ، فَمنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحظٍّ وَافِرٍ. رواهُ أَبُو داود والترمذيُّ.

Dari Abu Ad-Darda’ R.A. berkata: saya mendengar Rasulullah Saw. bersabda: Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah Swt. akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang diperbuatnya. Dan bahwasanya penghuni langit dan bumi serta ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang ‘alim (berilmu). Keutamaan orang ‘alim (berilmu) terhadap orang ‘abid (ahli ibadah) bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan bahwasanya para nabi tidak akan mewariskan dinar dan dirham (kekayaan duniawi) tetapi para nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barang siapa yang mununtut ilmu darinya, maka dia telah mengambil bagian yang sempurna. (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Diriwayatkan oleh Abu Dhar bahwa Rosulullah Saw bersabda :

Artinya : bahwasanya perjalananmu untuk belajar satu bab dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada sembahyang seratus raka’at dan perjalanmu untuk mengajar satu bab dari ilmu, diamalkan ilmu itu atau tidak lebih baik bagimu dari pada sembahyang seribu rakaat. Dan barang siapa mempelajari sesuatu bab dari ilmu untuk diajarkan kepada orang lain akan diberinya pahala tujuhpuluh nabi. Barangsiapa duduk didepan seorang alim sejam-dua jam, mendengar dari padanya sepatah-dua patah, makan bersamanya sesuap-dua suap atau berjalan bersamanya selangkah-dua langkah aakan dikaruniai Allah dua syurga, tiap syurga sebesar dunia ini dua kali.

Dikatakan bahwa ilmu itu lebih afdhol dari amal karena lima perkara :

  • Ilmu tanpa amal bisa terjadi, tetapi amal tanpa ilmu tidak bisa
  •  Ilmu tanpa amal berguna, tetapi amal tanpa ilmu tidak  
  • Amal itu lazim dan ilmu adalah penerang sebagai pelita
  • Tingkat ilmu ulama adalah tingkat para nabi
  • Ilmu adalah sifatnya Allah sedang amal adalah sifatnya hamba Allah dan sifat Allah tentu lebih afdhol dari sifat hambanya.

Menurut Ibnu Abbas r.a. bahwa nabi sulaiman a.s. telah memilih diakala di perintah memilih antara ilmu dan kerajaan,dan Nabi sulaiaman memilih ilmu, maka baginya telah dikaruniai Allah ilmu dan kerajaan.

Suatu tanda kemuliaan ilmu ialah firman Allah kepada Rosulullah Saw :

وقل رب زدنى علما

Katakakanlah ya Muhammad : ya tuhanku tambahkanlah ilmuku.

Diceritakan bahwa Rosulullah suatu ketika melihat Iblis berada dipintu masjid. Rosulullah menanyakan padanya : apa yang engkau perbuat disini hai Iblis ? Berkata si Iblis : saya hedak mengacau laki-laki itu yang sedang sembahyang, tetapi takut pada laki-laki sedang tidur. Kembali bertanya Rosulullah : kenapa engkau tidak pada orang yang sembahyang itu, padahal ia sedang beribadah dan menghadap tuhan dan takut dari pada orang yang sedang tidur dan tidak sadar itu. karena orang yang sedang sembahyang itu adalah orang bodoh yang mudah sekali untuk dikacau, sedang yang tidur adalah orang alim yang waktu-waktu bila ia sadar dari tidurnya dapat menggagalkan usahaku untuk merusak dan mengacau terhadap orang bodoh itu, jawab Iblis.

Diantara salah satu maqalah ulama’:

نوم العالم خير من عبادة الجاهل

Artinya : sesungguhnya tidurnya orang alim lebih baik dari pada ibadahnya ibadahnya orang bodoh.

Pada maqalah tersebut membungtikan bahwa begitu mulya orang alim yang dapat mengamalkan ilmunya, jadi marilah kita bersama mencari ilmu dan juga berusahalah mengamalkan apa yang kita ketahui dengan semampunya.

MENCARI ILMU SALAH SATU JALAN KE SURGA

 



Pada suatu hari petani timun di daerah bangkalan sering mengeluh. Setiap timun yang siap dipanen selalu kedahuluan dicuri maling. Begitu peristiwa itu terus menerus terjadi, akhirnya petani timun tak sabar lagi. Setelah lama mengambil keputusan dalam bermusyawrah maka para petani berniat untuk soan ke Mbah Kholil. Sesampainya di rumah Mbah Kholil seperti biasanya kyai tersebut sedang mengajar kitab Nahwu. Kitab pemula bagi santri yang tidak lagi asing didengar yaitu kitab Jurumiyah.

Sebuah kitab untuk belajar bahasa arab bagi tingkat pemula. “Assamulaikum, kyai” ucap salam para petani serentak. “Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh” jjawab Mbah Khalil. Melihat banyaknya petani yang datang ke rumah Beliau, lalu Mbah Kholil bertanya: “Sampean ada keperluannya ?”

“Benar kyai, akhir-akhir ini ladang timun kami selalu dicuri maling, ksmi memohon kepada kiai penangkalnya,” kata petani dengan nada memohon dengan penuh harap. Ketika itu, kitab yang dikaji oleh sang kyai kebetulan sampai pada lafadz “Qoma Zaidun” yang berarti Zaid telah berdiri. Lalu serta merta kyai menunjuk kepada lafadz tersebut. “ ya karna pengajian ini sampai pada lafadz Qoma zaidun makan lafadz ini saja pakai sebagai penangkal”.seru kiai dengan tegas dan mantap. “sudah kyai ?” ujar para petani dengan nada bingung dan tanda tanya.”Ya sudah” jawab Mbah Kholil menandaskan. Mereka puas denganmendapatkan penangkal dari sang kiai. Para petani pulang ke rumah masing dengan keyakinan kemujaraban penangkal dari Mbah Kholil.

Keseokan harinya, sebagaimana biasanya para petani pergi ke ladang timun masing-masing. Betapa terkejutnya mereka melihat pemandangan yang menakjubkan. Sejumlah pencuri timun berdiri terus-menerus tidak bisa duduk dan juga lari. Maka tak ayal lagi, pencuri timun yang selama ini merajalela diketahui dan dapat ditangkap. Akhirnya penduduk berdatangan ingin melihat pencuri tang tidak bisa duduk itu, mereka para petani juga kasihan, segala upaya mereka lakukan, namun tidak ada hasilnya para pencuri itu tetap tidak bisa duduk, semua maling tetap berrdiri dengan muka pucat karena semakin banyaknya masyarakat yang berdatangan.

Satu-satunya jalan agar maling-maling tiu bisa duduk ialah sowan lagi ke Mbah Kholil, maka diputuskanlah wakil dari para petani untuk sowan. Setibahnya di kediaman beliau utusan itu mengutarakan maksud ia datang, lalu utusan itu diberi obat penangkalnya. Lalu obat itu disentuhkan kepada tubuh para maling maka mereka bisa duduk kembali. Dan para pencuri itupun menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mencuri lagi di ladang yang selama ini menjadi sasaran empuk pencurian.

Maka sejak saat itu petani di daerah bangkalan menjadi aman dan makmur. Sebagai rasa terimakasih kepada Mbah Kholil mereka menyerahkan hasil panennya ke pondok pesantren berdokar-dokar. Sejak saat itu berhari-hari para santri kebanjiran timun, dan hampir di seluruh pojok-pojok pesantren dipenuhi dengan timun.

surat Fathir, ayat 28 berbunyi:

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَآبِّ وَاْلأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا إِنَّ اللهَ عَزِيزُ غَفُورٌ


Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang2 melata dan binatang2 ternak ada yang bermacam2 warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba2Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Sumber: Biografi Syaikhona Kholil madura dan 11 Kyai


HAFIMULTIMEDIA

QOMA ZAIDUN SANG SYAIKH (KAROMAH AULIYA')



Berbakti kepada orang tua tentulah wajib hukumnya, karena sebab beliaulah kita dapat berada di dunia ini. Untuk menjadi anak yang berbakti haruslah kita menanamkan rasa hormat dan patuh untuk selalu menaati perintahnya selagi hal tersebut dalam hal kebaikan.


Karena Rasulullah SAW bersabda:

” رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ "

Artinya: Ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua".


Jadi maksudnya jika seorang hamba ingin mendapatkan ridho sang ilahi maka patuhilah kedua orang tua, begitu pula sebaliknya jika seorang hamba membuat kedua orang tuanya murka maka Allah juga murka terhadapnya.

وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا

“dan sembahlah allah dan janganlah kalian menyekutukannya dengan sesuatu, dan berbuatlah kebajikan bagi ibu bapak”. (Qs. An Nisa’: 36)

Firman allah diatas, memerintahkan kepada seluruh hambanya untuk menyembahnya dan janganlah sesekali menyekutukannya, kemudian kita diperintahkan berbakti kepada kedua orang tua dalam arti kebaktian yang paling sempurna, karena kebaikan ibu bapak dapat menyebabkan pertumbuhan seorang anak mulai dari keadaan lemah ketika ia masih bayi sampai menjadi seorang yang sempurna jiwa raganya. karena sampai kapanpun seorang anak tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orang tuanya.

Maka untuk membalas jasa baik ibu bapak, seorang anak diperintahkan berbakti kepada keduanya. Tetapi sangat aneh sekali jika ada seorang anak yang mendurhakai ibu bapaknya, tidak mengenang jasa baik keduanya, bahkan menyakiti keduanya dengan sikap kasar dank eras, karena ia merasa kuat, pintar, dan mampu. Ia tidak sadar kalau dirinya tertipu oleh nafsu buruknya atau kawan-kawan yang tidak baik. Ia tidak sadar kalu dirinya akan m=segera mendapat siksa ketika didunia berupa kedurhakaan anaknya, kesempitan rizkinya dan kesia-siaan hidupnya didunia, seperti disebutkan dalam sabda Rosulullah Saw berikut :

 “ada tiga orang yang tidak akan dilihat oleh allah dengan pandangan rahmat dihari kiamat kelak, salah satunya adalah seorang yang durhaka kepada ibu bapaknya”

Alangkah buruknya nasib seorang yang pernah menduhakai orang tuanya. Ia akan mendapat siksa didunia dan siksa diakhirat sebagai imbalan yang buruk bagi perilakunya yang jahat terhadap kedua orang tuanya.

Disebutkan ada seorang lelaki dating kepada ibnu umar seraya menggendong ibunya dan ia berkata : “apakah aku telah membalas jasa baik ibuku ini?”

Jawab Ibnu Umar : “tidak, sedikitpun engkau tidak dapat membalas jasa baik ibumu, karena jasa baiknya mengharapkan engkau hidup, tetapi jasa baikmu mengharapkannya mati.”

Hendaknya kita takut kepada Allah dan berbaktilah kepada kepada kedua orang tua, agar kita semua mendapat ridha Allah, karena ridha allah ada di ridha kedua orang tua dan murka allah ada dimurka kedua orang tua. Dengan demikian surge dan neraka seseorang tergantung kepada kedua orang tua. Jika seorang telah berbakti kepada ibu bapaknya, maka sebaiknya ia meneruskan kebaktiannya terhadap keduanya. Jika seorang telah durhaka kepada ibu bapaknya, maka sebaiknya ia segera bertaubat kepada Allah.



HAFIMULTIMEDIA


TIDAK SEDIKITPUN ENGKAU DAPAT MEMBALAS JASA KEDUA ORANG TUAMU