Jangan Bergantung pada Siapa Pun
Karena Manusia Bukan Pohon, dan Kamu Bukan Monyet
Sejak kapan kita belajar hidup dengan terus
bersandar?
Menunggu orang lain menguatkan, mengharapkan tangan lain menolong, dan kecewa
ketika yang diharap tak kunjung datang.
Padahal kita manusia.
Bukan pohon yang akarnya harus menancap pada batang lain agar tetap berdiri.
Dan kamu bukan monyet, yang hidupnya berpindah dari satu dahan ke dahan lain
untuk merasa aman.
Bergantung pada manusia
adalah awal dari banyak luka.
Hari ini mereka ada, besok bisa pergi.
Hari ini memuji, esok bisa mencela.
Bukan karena mereka jahat, tapi karena manusia memang terbatas punya lelah,
punya urusan, dan punya hidupnya sendiri.
Islam mengajarkan kita
satu bentuk keteguhan: tidak menggantungkan
hati pada makhluk.
Bukan berarti menutup diri dari bantuan, tapi tidak menjadikan manusia sebagai
sandaran utama.
Sebab siapa pun yang terlalu berharap pada manusia, cepat atau lambat akan
diuji dengan kekecewaan.
Kemandirian bukan
tentang keras pada diri sendiri,
tapi tentang dewasa dalam bersikap.
Mampu berjalan meski sendirian.
Mampu bangkit tanpa tepuk tangan.
Mampu tetap lurus walau tak ada yang menuntun.
Bersandarlah hanya
kepada Allah.
Karena Dia tidak pernah lelah mendengar doa,
tidak pernah bosan melihat usaha,
dan tidak pernah pergi ketika semua menjauh.
Manusia boleh hadir
sebagai teman perjalanan,
bukan sebagai tempat menggantungkan hidup.
Jadi, kuatlah.
Berdirilah dengan kakimu sendiri.
Karena kamu diciptakan untuk berjalan,
bukan untuk bergelantungan.
