Social Items

 



Pesantren Hasan Jufri.

Setiap malam  tanggal 15 bulan Hijriah atau yang disebut sebagai bulan atas, pondok kami mempunyai kegiatan khusus di dalamnya dengan mengadakan pembacaan Maulid / Qashidah Burdah.yang langsung di hadiri oleh Dr. GUS ALI ASYHAR .M.MPd.

 





Numun karena cuaca saat ini (bulan Jumadil Akhir) banyak teman-teman kami yang mengalami sakit diantaranya sakit gigi, sakit panas sehingga pada malam kita sangat memperhatikan betul terhadap kesehatan.

semoga dengan  membacanya Qosidah burda ini bisa menjadi sebab cintanya Allah dan Nabi terhadap kia. Aaamiiin...

 

 

 

 

 

 

Pelaksanaan Pada Setiap Tanggal 15 bulan Hijriah di Pondok Hasan Jufri

 






MEMELIHARA KESEHATAN BADAN


            Tujuan memelihara badan

1)      Agar stabil pencahariannya

2)      Agar merasa enak makan, minum, tidur dan istirahat

3)      Agar tidak terserang penyakit


HAK-HAK BADAN

1)      Bersih dari kotoran

2)      Kebersihan makanan, minuman, pakaian Dn tempat tinggal

3)      Olah raga

 

ANGGOTA BADAN YANG HARUS DIJAGA KEBERSIHANNYA DARI KOTORAN

1)      TUBUH

2)      WAJAH

3)      TANGAN

4)      MATA


   Akibat tidak memelihara kesehatan badan kestabilan pencaharianmu akan terganggu dan makan tidak enak, begitu pula tidur tidak merasa enak. Karena setiap badan minta hak-haknya yang harus dipenuhi


      HAK BADAN YANG WAJIB DIPENUHI

      Bab berhubungan pada diri sendiri selain hak-hak terhadap orang lain, masyarakat, lingkungan dan lainnya, hak terhadap diri sendiri yang harus dipenuhi. Kitab AtTahliyah Wa At-Targib Fi At-Attarbiyah Wa At-Tahdib menerangkan pula mengenai tanggung jawab terhadap apa yang kita miliki yakni badan kita,

 


MEMELIHARA KESEHATAN BADAN

 




Sebagai makhluk sosial pertemanan sudah menjadi adat  dalam kehidupan. Pertemanan juga bisa menjadi penghibur ketika seseorang sedang merasakan sumpek, kesepian, gelisah dan lain sebagainya.


Dalam pertemanan sudah pasti ada  teman yang baik dan juga sebaliknya (tidak baik). Lalu, apakah teman yang tidak baik ini harus kita jauhi?


Jawab : berteman dangan orang yang tidak baik adakalanya harus kita jauhi dan tidak juga kita jauhi.


Menyikapi masalah yang seperti ini, sebagai orang tuatentunya sudah memberi perhatian lebih terhadap perkembangan dan lingkungan anaknya. Jika seorang anak berteman dengan teman yang tidak baik, maka orang tua khususnya wajib menjauhkan anaknya dari teman yang seperti itu.


Sangatlah penting bagi orang tua untuk mengetahui bahwa berteman itu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi anak, bahkan anak yang tidak mempunyai teman bisa dikatakan kurang normal dari segi sosial dan pastinya dia memilki problem tersendiri yang menyebabkannya tidak bisa berbaur dengan orang lain,  kerena anak kecil yang normal dia akan senang berkumpul dengan teman-temannya dan bermain bersamanya.


Tidak harus menjauhi teman teman yang tidak baik, bukan berarti malah ikut-ikutan teman nya yang tidak baik. Akan tetapi dengan cara berusaha mengarahkan agar bagaimana teman kita ini sedikit demi sedikit menjadi lebih baik.

 

Terkadang kita kurang mampu untuk mengarahkan dengan cara yang seperti itu, mungkin dengan cara kita mencerminkan sesuatu yang baik kepada teman kita itu juga merupakan salah satu contoh dalam mengajak teman kita agar hijrah dari kejelekan.

 


Mengatasi Teman Dengan Mengarahkan Pada Sesuatu Yang Baik



Dalam Islam manusia berasal dari satu asal yaitu dari Nabi Adam dan Hawa. Manusia merupakan makhluk yang Allah SWT ciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Di samping itu manusia dibekali dengan ilmu pengetahuan dan akal serta kemauan, dengan demikian dia tau membedakan mana yang baik dan yang benar.

 

Namun banyak manusia yang salah dalam bertingkah karena hawa nafsu yang ada dalam diri mereka, dan suatu hal yang sangat sulit untuk dikendalikan yaitu mengendalikan hawa nafsu. Bahkan Jihad yang paling besar menurut hadist nabi muhammmad saw adalah melawan hawa nafsu.

 

Jihad yang paling utama dalam islam yaitu jihad melawan hawa nafsu sebagaimana hadits Rasulullah saw sebagai berikut:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

 

Artinya: Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad berjuang melawan dirinya dan hawa nafsunya.

 

Ada tiga amalan yang utama dilakukan oleh setiap muslim untuk mendapatkan pahala dan ridha Allah Saw, yaitu :

1.     Menilai Diri Sendiri

Diri sendiri adalah hal yang paling dekat dengan kita; bila kita tidak mengenal kepada diri sendiri, lantas bagaimana mungkin kita bisa mengenali Allah Swt?, Imam al-Ghazali juga mengutip hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya)

2.    Dzikir kepada Allah disetiap keadaan

Orang yang selalu ingat pada Allah Swt akan mendapat kemudahan dalam mengatasi berbagai rintangan yang datang menghadang. Hal itu terjadi karena Allah selalu ingat dan memperhatikan keadaan orang yang selalu ingat pada-Nya, Dia selalu memberi pertolongan kepada orang yang selalu ingat pada-Nya. Firman Allah dalam surat Al Baqarah 152 :

فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ

 

Artinya: Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku. (Al Baqarah 152).

3.    Membantu saudara dengan harta

Orang yang banyak bersedekah, ia seperti air yang memadamkan api. Dosa-dosa kita dihapuskan dengan pahala kebaikan yang berlimpah dari amalan sedekah. Dengan sedekah, Allah SWTakan menghapus dosa-dosa hamba-Nya. Untuk itulah, sedekah bisa menjadi salah satu amalan yang harus konsisten kita lakukan.

Rasulullah Saw bersabda, “Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api.” (HR. At-Tirmidzi).

 

 

Wallahu A’lam

Mencari Ridha Allah Swt dengan tiga Amalan



Islam ialah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW untuk umat manusia, agar dapat bahagia didunia dan diakhirat.

 

Inti dari ajaran islam (rukun Islam) adalah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt dan Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan pergi haji bila mampu.

 

Dalam Islam Tuhan pencipta manusia dan seluruh alam semesta adalah Allah SWT. Tidak akan pernah ada alam semesta, manusia, dan kehidupan jika Allah Swt tidak menciptakannya. Tiadalah Allah menciptakan segala di dunia, kecuali memiliki tujuan yang jelas.

 

Sebagai hamba Allah Swt kita harus senantiasa melaksanakan segala perintahnya dan meninggalkan segala larangannya. Sebagaimana tujuan Allah menciptakan kita tidak lain hanyalah untuk beribadah kepadanya. Dalam Al-Quran disebutkan bahwa:

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja)” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

 

Dalam bahasa Arab, hamba Allah disebut Abdullah ('Abd Allah). Hamba ('abid) artinya orang yang mengabdi atau orang yang beribadah. kedudukan segala makhluk ciptaan Allah adalah sebagai hamba Allah

 

 

Kita hidup didunia ini hanyalah sementara saja, janganlah kita isi kehidupan yang sebentar ini dengan hal-hal yang sia-sia. Dalam berbuat kita haruslah yakin bahwa Allah Swt selalu mengawasi kita dan sudah seharusnya kita merasa takut kepada Allah Swt karena dosa-dosa yang telah kita perbuat.

 

Ungkapan yang terkenal di dunia tasawuf yaitu anta maqshudi wa ridhaka mathlubi (Engkaulah tujuan kami dan hanya keridhaan Engkaulah yang kami cari). hanya Allah-lah tujuan hidup dan keridhaan-Nya merupakan satu-satunya motivasi amaliah

Takut Kepada Allah Swt




Pondokku adalah tempat kebanggaan Rasulullah.

Adalah tempatku menimba ilmu.


Adalah tempat bagiku belajar mandiri.


Adalah tempat bagiku belajar menghargai satu antara yang lain.


Adalah tempatku menjajah diri dari kebodohan.


Adalah tempat yang lebih mengenal agama


Adalah tempat bagiku  untuk melatih mental.


Adalah tempat pembawa rezeki.


Adalah tempat yang paling baik di Dunia untuk mencari ilmu.


Adalah tempatku dimana orang-orang belajar menahan nafsuh.


Adalah surganya Dunia.


Adalah tempat belajar sabar dengan cobaan yang menimpa.


Adalah tempat yang mana doa insyaAllah dikabulkan.


Adalah tempat melatih hidup miskin sebelum kemiskinan mendatangi kita, karena dengan ilmu meskipun serendah apapun ekonomi kita kalo disertai dengan ilmu, maka hati kita akan selalu cukup dengan apa yang  kita miliki.



Aku bangga punya pondok.


Aku bersyukur ada di pondok.


Aku merasa lebih baik berada di pondok.


 Terma kasih ya Allah sudah membukakan hatiku untuk nyantren





Pondok Adalah Tempat Yang Amat Baik Bagiku



Setiap hari kita mesti memiliki waktu luang yang banyak, dan banyak orang yang tak sadar bahwa waktu tersebut tidak akan kembali lagi. Padahal waktu itu sangatlah berharga bagi setiap manusia. Bahkan sampai dikatakan oleh Rasulullah Saw :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

 

Artinya: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”.Hadits riwayat Imam Bukhari, no. 5933

 

Dzikir merupakan suatu amalan yang tidak memiliki batasan. Tidak mempunyai batas waktu dan tempat. Dan dzikir mempunyai keutaan tersendiri disbanding ibadah-ibadah lainnya.

 

Sudah semestinya bagi orang muslim untuk mengisi kekosongan waktunya dengan perkara-perkara yang bermanfat baik didunia ataupun diakhirat. Keutamaan berdzikir bagi setiap muslim adalah dilakukan setiap waktu baik dengan ucapan atau dengan hati.

 

Orang yang senantiasa berzikir kepada Allah, Ia selalu ingin terhubung secara langsung dengan Allah SWT dan mendapat perhatian khusus dari Allah Swt.

 

Rasulullah SAW pernah menggambarkan perumpamaan orang yang berdzikir seperti orang yang hidup, sementara orang yang tidak berdzikir kepada Allah perumpamaannya seperti orang yang mati.

 

Sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Musa, R asulullah Saw bersabda:

 عن أبى موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَيَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Artinya: Dari Abu Musa r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabbnya, adalah seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR Bukhari, Muslim dan Baihaqi)

 

 

Wallahu A’lam

Orang Yang Tidak Berzikir adalah Orang Mati




Dalam berperilaku sehari-hari tentunya kita tak lepas dengan yang namanya berbicara dengan orang yang ada di sekitar kita. Namun apakah yang kita bicarakan sudah bisa dikatakan baik menurut kita, atau malah menjadi suatu kesalahan bagi kita yang tiap harinya di ulang-ulang?


Setiap apa yang kita ungkapkan dari apa yang keluar dari lisan kita itu nanti akan di minta pertanggung jawaban kelak dihadapan Allah.


Nah.. kalo seperti ini kita dapat mengintrogasi diri apakah setiap apa yang kita keluarkan dari lisan kita sudah baik atau sebaliknya. Maka dari itu kita harus pandai-pandai dalam menyikapi hal yang seperti ini.


Mungkin apa yang keluar dari lisan kita itu sudah baik menurut kita akan tetapi bagi orang lain itu tidak seperti apa yang kita bayangkan. ada baiknya jika kita memikirkan terlebih dahulu setiap apa-apa yang mau dikeluarkan dari lisan kita apakah sudah baik menurut kita dan juga baik mnurut orang lain.


Dalam riwayat Muslim disebutkan:

 

  إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، يَنْزِلُ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

 


"Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kalimat tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dan karenanya dia terjatuh ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat." (HR. Muslim no. 2988).

 

Menyenangkan orang itu adalah suatu keindahan. Apakah setiap perkara yang dapat membuat orang lain terhibur itu juga merupakan suatu keindahan? Tentuya tidak karena banyak orang yang ketika berbicara tentang sesuatu yang dapat menyenangkan atau dapat menghibur seseorang tampa ia sadari malah menjadi suatu bencana bagi dia.


Alangkah baiknya jika seorang mengarahkan pembicaraan dari yang tidak ada manfaatnya atau bahkan dari sesuatu yang bernilai dosa menjadi pembicaraan yang bermanfaat yang dapat membawa diri seseorang kepada perkara yang dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka.


Jika kita berbicara pribadi seseorang (gosip) yang dapat menyakitkan seseorang maka haruslah atau bersegeralah bagi  kita untuk minta maaf sebelum terlambat. Karena membicarakan seseorang yang dapat menyakiti hatinya itu dosanya sama halnya merobohkan ka’bah sebanyak 70 kali, begitu juga dengan gosip dosanya sama seperti makan daging saudaranya sendiri.


Sudah terbukti  bahwasanya lisan itu lebih tajam  daripada pedang.

 

WALLAHU A'LAM

Dipikirkan Dulu Sebelum Mengungkapkan



Didalam kehidupan ini ada perkara yang tampak secara jelas sehingga seseorang bisa menyikapinya dengan semestinya. Demikian pula ada perkara yang tersembunyi sehingga seseorang tidak mudah menyikapinya.

 

Oleh karenanya kita dalam melihat sesuatu janganlah memandang luarnya saja, karena bisa jadi ada kebaikan didalamnya. Dalam beramal janganlah kita menganggap remeh suatu ibadah karena bisa jadi ridha Allah ada didalamnya.

 

Dan sebaliknya janganlah kita menganggap remeh suatu dosa, mungkin murka Allah Swt ada didalamnya.

 

Guru kita pernah berkata “Allah SWT menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara” yang mana telah dijelaskan dalam kitab Al-Fushul al-‘Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyyah sebagai berikut:


إنَّ اللهَ خَبَّأَ ثَلَاثًا فِى ثَلَاثٍ : خَبَّأَ رِضَاهُ فِيْ طَاعَتِهِ فَلَاتَحْقِرُوا مِنْ طَاعَتِهِ شَيْئاً فَلَعَلَّ رِضَاهُ فِيْهِ، وَخَبَّأَ سُخْطَهُ فِيْ مَعْصِيَتِهِ فَلَا تَحْقِرُوْا مِنْ مَعْصِيَتِهِ شَيْئًا فَلَعَلَّ سُخْطَهَ فِيْهِ، وَخَبّأَ وِلَايَتَه فِي خَلْقِه فَلَا تَحقِرُوْا مِن عِبَادِهِ اَحدًا فَلَعَلهُ وَلِيُّ اللهِ

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah SWT menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara. Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya, maka jangan remehkan sesuatu pun dari ketaatan kepada-Nya, mungkin di situlah letak ridha-Nya. Allah menyembunyikan murka-Nya dalam perbuatan maksiat, maka jangan meremehkan sesuatu dari maksiat kepada-Nya, mungkin di situlah letak murka-Nya. Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya, maka jangan meremehkan siapa pun dari hamba-hamba-Nya, mungkan ia adalah wali-Nya.”

 

Dari kutipan di atas dapat diuraikan sebagai berikut:

Pertama, Allah menyembunyikan ridha-Nya dalam amal ketaatan kepada-Nya.

Kedua, Allah menyembunyikan murka-Nya atas perbuatan maksiat yang dilakukan hamba-Nya.

Ketiga, Allah menyembunyikan para wali-Nya di antara makhluk-Nya

 

 

Wallahu A’lam

Allah SWT menyembunyikan tiga perkara dalam tiga perkara







Pastinya santri memiliki peran dalam keseharianya yang harus diperjuangkan dalam hidupnya. keadaan santri di pondok adalah suatu rahmat dari Allah yang tidak diberikan pada semuaa orang lain.oleh karena itu marilah kita sebagai santri pergunakan waktu kita yang ada di pondok dengan sebaik-baik mungkin agar nantinya mendapatkan ilmu yang barokah dan sesuai hasil. Memang santri ketika keluar dari pondok tidak semuanya jadi guru, dan tujuan kita mondok dan kita mondok bukan hanya semata-mata ingin dipuji-puji orang, dan marilah kita mengaca matai suatu kitab Ta’limul muataallim, naah… dikitab saja sudah dikasih tau nih niat bagaimana niat dalam belajar belajar “niat belajar hendak nya bagi seorang pencari ilmu niat agar mendapatkan ridho dari Allah swt, dan menghilangkan kebodohan yang ada pada diri kita dan orang lain, ingin menegakkan agamanya Allah, karena menegakkan agamanya Allah itu semua butuh pada ilmu”.


Banyak orang yang sudah keluar dari pondok karena sudah merasakan manisnya ilmu orang ini ingin lebih memilih dirinya untuk menetap di pondok (mencari ilmu) padahal orang ini sudah mempunyai dampingan dalam hidupnya.


Mencari ilmu niat karena manjalankan kewajiban, dan yang penting kita sudah belajar terserah nantinya faham atau tidak dan itu bukan urusan kita karena seungguhnya yang memberi pamahaman itu adalah Allah. Jadi kita benar-benar belajar untuk menghilangkan  kebodohan yang ada pada diri kita. Karena Allah itu tidak akan mengubah suatu nasib hambanya apabila ada dari seorang hamba ini tidak mau untuk mengubahnya.


Dan karena ilmu seseorang diangkat derajatnya oleh Allah, seorang ulama’ tinggi derajatnya karena ilmunya, beitu juga seorang dokter terlihat luar biasa di mata sesorang juga karena ilmu. dan karena ilmu seseorang bisa mendapatkan kebahagian dunia dan akhirat Nabi bersabda.



مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ


“Barangsiapa yang menginginkan dunia maka hendaklah berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka hendaklah dengan ilmu. Barang siapa yang menginginkan keduanya, maka hendaklah dengan ilmu.”


WALLAHU A’LAM


Perjuangan Santri Di Pesantren

 










KISAH NYATA: NABI TIDAK MEMAKSA TAPI MENGAJAK MASUK ISLAM DENGAN CARA YANG HALUS


            “Dulu pernah ada seorang anak kecil Yahudi yang mengabdi pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu suatu saat ia sakit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya, lalu beliau mengatakan, “Masuklah Islam.” Kemufian anak kecil itu melihat ayahnya yang berada di sisinya. lalu ayahnya mengatakan ,”Taatilah Abal Qosim(yaitu Rasulullah)-shallallahu ‘alaihi wa sallam-“. Akhirnya abak yahudi tersebut masuk islam. Kemudian Nabi keluar dari rumahnya dan berkata, “segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan anak tersebut dari siksa api neraka.” (HR. Bukhori no.1356)


            Ibnu Katssir (Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim, I/305) dan Wahbab al-Zuhaili (al-Tafsir al-Munir, II/22) menceritakan, al-Husain dari golongan Anshar, suku bani Salim bin ‘Auf, memiliki dua putera beragama Nashrani, sedang ia seorang muslim.


            “Bolehkah saya memaksa kedua puteraku, karena mereka tidak taat padaku dan tetap ingin beragama Nashrani? “tanyanya pada Nabi Muhammad Saw.


            Atas pertanyaan dan keinginan memaksa itu, maka turunlah Qs. Al-Baqarah [2]: 256: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada yang sesat.”


            Menafsiri ayat diatas, Ibn Katsir (I/305) menuliskan, maksud ia ikrahah fi al-din adalahIa turikhu ahadan ‘ala al-dukhul fi din al- islam (Jangan kalian memaksa seseorang memasuki atau menganut Islam!). sebab, semua adil kebenaran islam sudah jelas, sehingga tidak perlu ada pemaksaan .


            Maksud “tidak ada ikrah”, berarti kita sama sekali tidak boleh memaksa orang lain untuk menganut kepercayaan seperti yang kita yakini. Allah menghendaki agama-Nya dianut secara suka rela dan ikhlas tanpa paksaan .Tugas kita hanyalah menyampaikan , bukan memaksa, karena hidayah itu urusan Allah. Firman-Nya: “Apakah engkau ingin memaksa mereka hingga mereka itu menjadi orang-orang yang beriman?.”(QS. Yunus [10]: 99.)





KISAH NYATA: NABI TIDAK MEMAKSA TAPI MENGAJAK MASUK ISLAM DENGAN CARA YANG HALUS


hafimultimedia



Fakta menunjukkan bahwa banyak orang yang berilmu, pintar dan pandai tetapi ilmunya tidak banyak bermanfaat buat orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, banyak orang yang sebenarnya tidak pintar-pintar amat tetapi justru ilmunya bermanfaat banyak baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain di sekitarnya.


Kata oarng tua jawa jaman dahulu, kalo ingin sukses dalam manuntut ilmu harus berani hidup perihatin, hidup susah, bersakit-sakit terlebih dahulu. Sedangkan di pesantren selain diajarkan untuk belajar yang tekun, juga di anjurkan untuk menjalankan laku tirakat (jalan mendekatkan diri pada Tuhan) dengan memperbanyak amalan-amalan sunnah seperti puasa, sholat malam, dzikir, mengurangi waktu tidur dan sebagainya.


Kembali ke cerita Mbah Syafaat, konon dulu ketika menjadi santri dilaluinya dengan penuh penderitaan. Hidup sangat pas-pasan bahkan rela nyambi sebagai buruh tani. Sering kena penyakit kudis selama menjadi santri. Bahkan konon katanya, beliau pernah berpuasa lapan tahun. Sebuah perjuangan dan penderitaan yang Panjang.


Terdengar tidak masuk akal memang. Tetapi perihal tirakat, sudah menjadi hal biasa di kalangan santri Blok Agung. Diantara santri terdapat omongan begini, belum benar-benar jadi santri Blok Agung kalua belum puasa dalail (puasa tiga tahun berturut-turut, setiap hari, kecuali hari yang diharamkan puasa). Saya sendiri adalah salah satu santri yang tidak melakukan se ekstrim itu, paling banter cukup puasa sunnah hari senin dan kamis saja.  


(Dalam Belajar Ilmu Agama) Lebih Baik Jadi Orang Yang Tahu Daripada Orang Pintar