Social Items



Sebanyak 300-an santri dijadwalkan pulang ke daerahnya masing-masing, sebelum santri  dipulangkan ada beberapa proses yang harus dilalui sEperti bersih-bersih semua area pondok, berkemas, ziarah, mushafahah dengan pengasuh dan juga melunasi tunggakan-tunggakan di pondok. Proses pemulangan santri saat akan keluar pondok diberi masker gratis yang mana harus santri pakai hingga sampai ke rumah masing-masing.


Kamis tanggal 16 April 2020 merupakan hari kepulangan santri Hasan Jufri yang menetap di pondok, kepulangan telah dilakukan secara bergilir antri menurut desa santri masing karna hal itu upaya untu mencegah terjadinya berdesakanya santri secara seakaligus, dan upaya tersebut untu menanggulangi hal-hal yang saat ini menyerang manusia (Covid 19) agar menhindarkan santri berkerumunan sekaligus.

Sebelum pulang pengasuh berpesan bahwa selama liburan santri sangat tidak diharapkan keluar rumah kecuali ada kepentingan, tidak boleh keluyuran di mlam hari, di himbau untuk berada di rumah saja untuk tidak memperkeruh masalah. Dan kepada wali santri sangat diharap bantuannya untuk membantu para santri untuk tetap di rumah masing-masing.
#dirumah aja

KEPULANGAN SANTRI HASAN JUFRI






Dalam kitab Negarakertagama_disebutkan bahwa Pulau Bawean bernama Buhun. Dalam cacatan Serat _Praniti Wakya Jangka Jaya Baya dijelaskan bahwa penduduk Bawean bermula pada tahun 8 skala, yang sebelumnya belum berpenghuni. Pemerintahan klonial Belanda dan Eropa pada abad ke 18 menanamakan pulau ini dengan sebutan lubeck, Baviaan, Boviqn, Lobok.

Pada awalnya diduga bahwa Pulau Bawean dihuni oleh penduduk yang berasal dari Madura (1350 M), hal ini terlihat dari gaya bahasa ibu di sebagian besar penduduk Bawean mirip dengan bahasa Madura. Akan tetapi kapan proses ini mulai tidak bisa dipastikan. Menurut cerita rakyat Bawean, orang Masura masuk bersama dengan kedatangan agama Islam yang dibawa oleh Maulana Umar Mas'ud, yang yang lebih dahulu mengalahakan raja Babi yang kafir dan kaya sihir. Meski demikian, orang Bawean tidak mau disebut orang Madura, mereka menamakan dirinya sebagai orang Bawean. Alasan yang dikemukakan orang bawean tentang perbedaan mereka dengan orang Madura, yaitu: orang Bawean berasal dari keturunan campuran (Jawa, Madura, Bugis, Mandar dan Palembang).

Berdasarkan catatan histografi_menyebutkan bahwa di Pulau Bawean telah berdiri kerajaan Islam di bawah penguasaan Sayyid Maulana Umar Mas'ud pada tahun 1601-1630, hingga generasih ketuju penerusnya yakni Raden Panji Prabunegoro atau Raden Tumenggung Pandji Tjokrokusumo pada tahun 1747-1789. Sampai pada tahun 1743 pulau ini berada di bawah kekuasaan Madura. Raja Madura terakhir adalah Tjakraningrat IV dari bangkalan. Apda tahun itu, VOC menduduki pulau ini dan memerintahnya melalui seorang _prefect(kepala deprtemen). Kemudian sesudah pulihnya pemerintahan sementara oleh Inggris, pulau Bawean menjadi ke-asistenresiden-an yang terpisah di bawah Surabaya, kemudian digabungkan dengan _afdeling_Gresik di bawah seorang kontrolir, dan sejak tahun 1920 sampai 1965 menjadi kawedanan. Sejak tahun 1965 pulau ini diperintah oleh dua camat dalam bahasanya. Walaupun sebagian penduduknya berasal dari Madura, lama-kelamaan terbentuk kebudayaan barunyang terpisah dari Madura. Penduduk Bawean kemudian semakin berorientasi ke darerah perantauan, khususunya Singapura dan pesisir barat Melayu, sehingga unsur-unsur kebudayaan Melayu mulai berpengaruh dan mendominasi.

Kelompok penduduk lain, yang sejak dahulu kala ikut menghuni pualau Bawean adalaha penduduk Sulawesi. Nelayan Bugis menemukan tempat nafkahnya di perairan yang kaya akan ikan disekeliling pulau Bawean terutama bagian utara. Mereka menghuni Desa Sidogedungbatu, Kepuhlegundi, Kepuhteluk, Tanjungori, Tambak, Pekalongan, Sukaoneng dan Gelam.

Di Bawean bagian utara, juga terdapat desa Diponggo yang sebagian besar penduduknya berbahasa Jawa. Langgengya bahasa jawa di Desa Diponggo diduga adalah bagian dari keramat (keistimewaan) seorang penyebar agama islam yang bernama Waliyah Zaenab (1580 M). Ia adalah cucu dari Sunan Sendang Dhuwur Paciran Lamongan yang menikah dengan cucu sunan giri yang bernama pangeran Sedo Laut (meninggal di laut). Waliyah Zainab datang ke Bawean bersama suami dan kerabatnya. Naas, perahu yang ditumpanginya mendapat musibah dan tenggelam. Suami Waliyah Zaenab dan beberapa kerabatnya meninggal dunia. Yang selamat hanya dua orang , yaitu Waliyah Zaenab dan satu pembantunya bernama yang bernama Mbah Rambut.

Selain itu juga, ada juga kelompok pedagang yang berasal dari Palembang disebut Kemas. Dahulu, kelompok Kemas ini adalah pengusaha kaya raya di Bawean, namun sekarang sudah tidak lagi tampak kelebihannya di bandingkan dengn masyarakat bawean lainny. Sudah barang tentu, semua kelompok penduduk in telah memberi warna kehidupan pulau tersebut. Lagi pula,hasrat merantau orang Bawean juga telah membawa pengaruh terhadap komposisi Asia di pulau ini.

Sejarah Asal usul Pulau Bawean



Tak terasa bulan Rajab telah berlalu. Hanya tinggal satu bulan lagi menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Tutup tanggal bulan Rajab, menandai masuknya bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa. Bulannya Nabi Muhammad Saw.

Di Bulan Sya’ban Rasulullah saw. melakukan puasa, ada yang mengatakan penuh sampai disambung dengan Ramadhan, ada pula yang mengatakan sebagian besar. Dalam salah satu kesaksian istri Nabi Muhammad Saw, Sayyidah ‘Aisyah ra, didawuhkan,

لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu, mengapa Rasûlullâh mengistimewakan Sya’ban dengan puasa sunah?

Nabi Muhammad saw menjawab setidaknya dengan dua alasan:

Pertama, bulan Sya’ban adalah bulan laporan amal. Hari yang istimewa. Selalu kita sambut tiap tahun dengan merayakan malam nishfu Sya’ban. Dalam sebuah hadis didawuhkan,

ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﻬْﺮٌ ﺗُﺮْﻓَﻊُ ﻓِﻴﻪِ اﻷَْﻋْﻤَﺎﻝُ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺏِّ اﻟْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﻋﻤﻠﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ

Sya’ban adalah bulan diangkatnya (dilaporkan) amal kepada Tuhan yang menguasai seluruh alam. Maka saya senang saat amal saya dilaporkan saya sedang berpuasa” (HR An-Nasa’i)

Hadis ini secara kandungan hampir mirip dengan hadis tentang anjuran puasa Senin Kamis. Hari Senin adalah hari kelahiran beliau, dan Kamis adalah hari diangkat amal dalam waktu satu minggu. Namun pada malam nishfu Sya’ban, menurut riwayat, yang diangkat adalah amal selama satu tahun penuh.

Kedua, Sya’ban adalah bulan catatan ajal

ﻗَﺎﻝَ: ” ﺇِﻥَّ اﻟﻠَّﻪَ ﻳَﻜْﺘُﺐُ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻧَﻔْﺲٍ ﻣﻨﻴﺔ ﺗِﻠْﻚَ اﻟﺴَّﻨَﺔَ، ﻓَﺄُﺣِﺐُّ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻴَﻨِﻲ ﺃَﺟَﻠِﻲ ﻭَﺃَﻧَﺎ ﺻَﺎﺋِﻢٌ».

Sesungguhnya Allah menentukan kematian setiap jiwa pada tahun itu (ditentukan di bulan sya’ban). Maka saya senang jika ajal mendatangi saya dalam keadaan berpuasa”

Terkait status hadis ini diberi penilaian oleh Al-Hafidz Al-Haitsami:

ﺭَﻭَاﻩُ ﺃَﺑُﻮ ﻳَﻌْﻠَﻰ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻣُﺴْﻠِﻢُ ﺑْﻦُ ﺧَﺎﻟِﺪٍ اﻟﺰَّﻧْﺠِﻲُّ، ﻭَﻓِﻴﻪِ ﻛَﻼَﻡٌ، ﻭَﻗَﺪْ ﻭُﺛِّﻖَ.

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Didalamnya terdapat perawi bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji (guru dari Imam Syafi’i), ia dikomentari oleh ulama lain dan juga ada yang menilai perawi terpercaya”

Bulan Sya’ban sangat dianjurkan untuk berpuasa. Kita sebagai umat nabi Muhammad Saw tentu saja selalu mengikuti sunah-sunah beliau.

Adapun redaksi niat puasa bulan Sya’ban jika kita melafalkan niat di malam hari adalah,

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

Aku berniat puasa sunah Sya‘ban esok hari karena Allah SWT.”

Sedangkan jika melafalkan niat di siang hari sebelum masuk waktu dzuhur, dengan catatan belum melakukan hal yang membatalkan puasa adalah,

صَوْمَ هَذَا اليَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَعْبَانَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnati Sya‘bana lillâhi ta‘âlâ.

Aku berniat puasa sunah Sya‘ban hari ini karena Allah SWT.”

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Sumber: Lirboyo net.


KEUTAMAAN BULAN SYA'BAN






Ba’da sholat maghrib tepatnya hari senin malam selasa tanggal 16 Maret 2020 pengasuh PP. Hasan Jufri menghimbau dan menyampaikan kepada seluruh santrinya  untuk membatasi berinteraksi dengan masyarakat luar. Beliau meyampaikan bahwa Jumat tanggal 20 maret 2020, merupakan jumat terakhir bagi santri untuk dapat dijenguk oleh orang tua mereka sebelum diperbolehkan kembali dua minggu setelahnya yaitu Jumat 03 April 2020.

Dalam waktu tersebut maka santri sangat tidak boleh berinteraksi dengan masyarakat luar sebelum akhirnya mendapat informasi lanjutan dari kepemerintahan terutama melalui informasi lanjutan dari PALANG MERAH INDONESIA provinsi Jawa Timur

Karna virus ini sangat cepat penyebarannya beberapa hari lalu kita mendengar di Indonesia hanya ada dua orang yang terjangkit virus tersebut tapi saat ini jumlahnya meningkat drastis dengan cepat di daerah jawa timur saja sudah 65 orang yg terjangkit virus ini, 134 untuk jumlah seluruh Indonesia.

Hal ini dilakukan untuk menanggulangi tersebar luasnya virus tersebut apa lagi bagi kami seorang santri yang pasti berinteraksi dengan teman, berinteraksi dengan seksama maka dan tidak menutup kemungkinan virus tersebut akan tersebar dengan cepat di lingkungan santri yang sangat sosialis.


Maka dari itu Pengasuh memberikan amalan untuk santrinya agar tidak dapat terjangkit dari virus ini dengan cara membaca sholawat Tibbil Qulub kapanpun dan dimanapun terutama saat pagi ketika hendak minum maka dengan membaca 11 kali sholawat tersebut lalu ditiupkan ke gelas yang sudah diisi dengan air lalu diminumnya sendiri untuk sebagai obat dan kekebalan tubuh agar tidak terjangkit virus COVID-19.




MENANGGULANGI VIRUS CORONA (COVID-19)



PENERIMAAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN HASAN JUFRI
TAHUN AJARAN 2020/2021

Syarat pendaftaran

Syarat Formal

  • Mengisi formulir pendaftaran
  • Menyerahkan Foto Copy berkas:

Kartu kelarga (KK)
Nomor Induk Siswa Nasional (NISN)
Kartu Indonesia Sehat (KIS) bagi yang punya

  • Mendatangani surat peryataan siap mematuhi peraturan pondok


Syarat Finansial
  • Membayar biaya administrasi
  • Melunasi uang syariah bulan pertama
  • Mulanasi uang catering bulan pendaftaran

Tata cara pendaftaran
  • Sowan kepada pengasuh dengan diantar wali
  • Mengisi formulir pendaftaran
  • Melengkapi berkas administrasi yang diperlukan
  • Bersedia menempatii kamar yang disediakan atau yang ditentukan oleh pengurus



Program pendidikan

Pendidikan Formal

MTs. Hasan Jufri
  • International Class Programe (ICP)
  • Takhassus Bahasa Arab (TBA)
  • Reguler
MA. Hasan Jufri
  • Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
  • Ilmu pengetahuan Sosial (IPS)
  • Agama (MAK)
SMK. Hasan Jufri
  • Nautika Kapal Penangkap Ikan (NKPI)
  • Akutansi
STAIHA Bawean
  • Pendidikan Agama Islam (PAI)
  • Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
  • Hukum Ekonomi Syariah (HES)
  • Ahwalus Syakhsiayah (AS)
Pendidikan Non Formal

  • Madrasah Diniyah Ula (ULA) 
  • Madrasah Diniyah Wustho (MDW)
  • Takhassus BIqiratail Kutub




PENERIMAAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN HASAN JUFRI TAHUN AJARAN 2020/2021



Dari ayat tentang wudlu’ ini, adalah keberadaannya yang baru diturunkan saat Nabi sudah hijrah ke Madinah, padahal perinntah soat turun pada saat isro’ waktu Nabi masih berada di Mekah. Sehingga timbul pertanyaan, bagaimana mungkin QS.Al maidah: 6 dijadikan dalil tentang kewajiban wudlu’?, Bukankah sebelumnya Nabi sudah meaksanakan solat?, apakah sewaktu di Mekah beliau tidak berwudlu’ sebelum solat?.

Perlu diketahui, walaupun ayat wudlu’ baru diturunkan di Madinah, namun sebelumnya Nabi sudah diajarkan oleh jibril tentang cara-cara wudlu’. Sehingga, keberadaan ayat wudlu’ ini adalah sebagai penegas dan penguat bagi ajaran yang sudah di sampaikan Jibril pada pagi hari setelah peristiwa isro’.(1)


Fardu-fardunya wudhu’ 


وفروض الوضوء ستة اشياء النية عند غسل الوجه وغسل الوجه وغسل اليدين إلى المرفقين ومسح بعض الرأس وغسل الرجلين إلى الكعبين والترتيب على ما ذكرناه


Fardu-fardunya wudhu’ itu ada 6 (enam) perkara yaitu: (2)
  • Niat
Merupakan sesuatu yang sangat penting karena setiap sesuatu dapat dibedakan dengan cara niat. Dan niat secara syara’nya menghendaki sesuatu bersamaan dengan awal dari mengerjakan sesuatu tersebut (di daam hati). Berbeda dengan azm, azm merupakan menghendaki sesuatu tidak bersamaan dengan pekerjaan tersebut.
  • Membasuh wajah
Merupakan sesuatu yang sangat penting karena setiap sesuatu dapat dibedakan dengan cara niat. Dan niat secara syara’nya menghendaki sesuatu bersamaan dengan awal dari mengerjakan sesuatu tersebut (di daam hati). Berbeda dengan azm, azm merupakan menghendaki sesuatu tidak bersamaan dengan pekerjaan tersebut.

  •  Membasuh kedua tangan 
Batasan tangan ini yaitu sampai siku-siku. Dan juga wajib membersihkan kotoran di bawah kuku ketika berwudhu’ karna hal tersebut bisa menghalangi meratanya air.

  • Membasuh sebagian kepala
Hal tersebut berlaku kepada laki-laki dan perempuan yang batas minimalnya adalah 3 helai rambut
  • Membasuh kedua kaki
Kaki merupakan anggota badan yang paling karna itu akan selalu bersentuhan dengan apa saja yang kita pijak maka dari itu kaki juga merupakan anggota yang wajib ketika berwudhu’. Batas kaki yaitu sampai mata kaki.

  • Tartib (terus menerus)
Maksudnya adalah dengan mengurutkan atau mendahulukan fardu-fardu wudhu’ dari yang pertama hingga yang terakhir. (fardhu 1 sampai 5).


Sumber: 
(1) Kearifan Syariat
(2) kitab taqrib

As Shodiq

PENGERTIAN WUDLU' DAN RUKUN-RUKUNNYA



Ketika melakukan puasa sunah, terkadang seseorang mendapatkan suguhan makanan maupun minuman dari orang lain yang tidak mengetahui bahwa ia sedang berpuasa. Keadaan itu sering dilema, apakah membatalkan puasa sunahnya atau tetap melanjutkan.

Dalam menghadapi keadaan demikian, apabila ada kekhawatiran menyinggung perasaan orang lain yang memberikan makanan, maka lebih utama membatalkan puasa dan ia sudah mendapatkan pahala yang telah dilakukannya. Namun apabila ada tidak kekhawatiran menyinggung perasaan orang tersebut, maka lebih baik untuk tetap berpuasa dan mengatakan secara halus bahwa ia sedang berpuasa., maka Syekh Zainuddin al-Malibari menjelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:



يُنْدَبُ الْأَكْلُ فِي صَوْمِ نَفْلٍ وَلَوْ مُؤَكَّدًا لِإِرْضَاءِ ذِي الطَّعَامِ بِأَنْ شَقَّ عَلَيْهِ إِمْسَاكُهُ وَلَوْ آخِرَ النِّهَارِ لِلْأَمْرِ بِالْفِطْرِ وَيُثَابُ عَلَى مَا مَضَى وَقَضَى نَدْبًا يَوْمًا مَكَانَهُ فَإِنْ لَمْ يَشُقُّ عَلَيْهِ إِمْسَاكُهُ لُمْ يُنْدَبِ الْإِفْطَارُ بَلِ الْإِمْسَاكُ أَوْلَى قَالَ الْغَزَالِي: يُنْدَبُ أَنْ يَنْوِيَ بِفِطْرِهِ إِدْخَالَ السُّرُوْرِ عَلَيْهِ.



“Disunahkan membatalkan dengan makan ketika puasa sunah meskipun puasanya sangat dianjurkan dalam rangka melegakan pemberi makanan. Hal itu dilakukan ketika ia merasa sulit untuk tetap melanjutkan puasanya, meskipun telah di penghujung hari. Membatalkan itu adalah perintah dan ia akan mendapatkan pahala puasa yang telah dilakukannya. Ia juga dianjurkan untuk menqadlai di lain hari. Namun apabila ia tidak merasa sulit mempertahankan puasanya, maka tidak dianjurkan membatalkan puasa dan hal itu lebih utama. Imam al-Ghazali menambahkan, saat membatalkan puasanya disunahkan berniat membahagiakan orang yang memberikan makanan.”[1]



Imam Taqiyudin al-Hishni juga menjelaskan dalam kitab Kifayah al-Akhyar:

وَمَنْ شَرَعَ فِي صَوْمِ تَطَوُّعٍ لَمْ يَلْزَمْهُ إِتْمَامُهُ وَيُسْتَحَبُّ لَهُ الْاِتْمَامُ فَلَوْ خَرَجَ مِنْهُ فَلَا قَضَاءَ لَكِنْ يُسْتَحَبُّ وَهَلْ يُكْرَهُ أَن يَخْرُجَ مِنْهُ نَظَرٌ إِنْ خَرَجَ لِعُذْرٍ لَمْ يُكْرَهْ وَإِلَّا كُرِهَ وَمِنَ الْعُذْرِ أَن يُعِزَّ عَلَى مَنْ يُضِيْفُهُ امْتِنَاعَهُ مِنَ الْأَكْلِ



 “Orang yang berpuasa sunah tidak wajib menyelesaikannya. Akan tetapi ia dianjurkan untuk menyelesaikannya. Apabila ia membatalkan puasa sunah di tengah jalan, tidak ada keharusan qadha baginya, tetapi hanya dianjurkan (qadha). Apakah membatalkan puasa sunah itu makruh? permasalahan ini patut dipertimbangkan. Apabila ia membatalkannya karena uzur, maka tidak makruh. Tetapi jika tidak karena udzur tertentu, maka pembatalan puasa sunah makruh.  Dan di antara contoh uzur ialah penghormatan kepada orang yang menjamunya yang dapat mencegahnya untuk makan.”[2]

Ketentuan ini hanya berlaku hanya pada puasa sunah. Adapun puasa wajib (Ramadhan, puasa Qadla, dan puasa Kafarat) harus tetap melanjutkan puasanya. []waAllahu a’lam



[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in, hlm. 493.
[2] Taqiyudin al-Hishni, Kifayah al-Akhyar, I/208.


Sumber : Lirboyonet


As Shodiq

Menerima suguhan makanan ketika puasa sunnah


        BIOGRAFI KH. BAJURI YUSUF






KH. Bajuri Yusuf lahir pada tanggal 20 Maret 1950 di Desa Lebak Kecamatan Sangkapura. Beliau memulai pendidikannya dari kampungnya sendiri. Beliau masuk di Sekolah Rakyat (SR) Desa Lebak di pagi hari. Sedangkan sore hari belajar di Madrasah Wajib Belajar Nahdlatul Ulama (MWBNU). Semenjak belajar di SR, beliau sudah menunjukkan ide-ide kreatifnya.

Disamping belajar, KH. Bajuri Yusuf juga menggembala kambing. Ini dimaksudkan agar beliau menjadi pemimpin. Sebab memimpin manusia sama susahnya memimpin kambing. Beliau teringgat ayahnya, bahwa Nabi Muhammad sebelum diutus menjadi Nabi juga menggembala kambing.bila sukses mengembala kambing, maka akan sukses pula dalam memimpin manusia.

Pada tahun 1964, beliau mendapatkan tugas belajar PPUPAN ( Pendidikan Pengadilan Urusan Pengadilan Agama Negeri) di Kediri dari Departemen agama. Tugas ini tidak sampai selesai karena meletusnya peristiwa 1965. Akhirnya, KH. Bajuri Yusuf melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantrem Krapyak Jogjakarta di bawah asuhan KH. Ali Ma'sum.

Setelah menamatkan sekolah formal di Pesantren Krapyak, atas anjuran pengasuh, beliau melanjutkan ke IAIN Sunan Kali Jogo tapi tidak sampai lulus. Beliau pergi ke Saudi Arab karena mendapat beasiswa dari Dar Al Hadits. Beliau mengaji ke Sayyid Muhammad al Alawi di mekkah selama 2 tahun. Pasca dari mekkah, beliau ke Baghdad Irak untuk belajar di Universitas Baghdad. Selama 4 tahun di Irak, beliau menamatkan pendidikannya dan mendapat gelar LISS (Lesson of Islamic Study and Science).

Ketika ingin melanjutkan ke S-2 di Uiversitas di Madinah, beliau diminta pulang sebentar karena ayahnya sakit. Dua minggu setelah kedatangannya di Bawean, ayahya, KH. Yusuf Zuhri wafat. KH. Bajuri Yusuf diminta untuk melanjutkan mengasuh pondok pesantren.



Selama belajar, KH. Bajuri Yusuf aktif di berbagai organisasi. Ketika menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak 1970, beliau ditunjuk menjadi kordinator keamanan karena keberanian dan kedisiplinannya. Beliau memang jago pencak silat Bawean. Tahun 1971, beliau ditunjuk menjadi lurah pondok. Beliau juga aktif di Gerakan Pemuda Ansor Daerah Istimewa Jogjakarta tahun 1970-1973 dengan menjadi wakil ketua PW GP. Ansor DIY Jogjakarta. Bahkan ketika di Baghdad, beliau dipercaya  menjadi wakil ketua Perhimpunan Pelajar Islam (PPI) untuk wilayah Iraq priode 1978-2979.

Selain di organisasi, KH. Bajuri Yusuf juga menyenangi olahraga dan seni. Olahraga yang digandrungi adalaha sepak bola dan pencak silat. Bahkan beliau pernah didaulat menjadi pelatih pencak silat untuk mahasiswa indonesia di Baghdad. Sedangkan seni yang digemari adalah tari Saman. Pencak Silat dan Tari Saman adalah budaya warga Bawean.

Selain mengasuh Pondok Peantren Hasan Jufri, KH. Bajuri Yusuf juga aktif mengabdikan dirinya di Nahdhatul Ulama' cabang Bawean. Pada mulanya, beliau dipercaya menjadi ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama' (LDUN) cabang Bawean. Sejak 1987, beliau diamanari menjadi Raisy Syuriah PCNU Bawean sampai tahun 2002. Banyak usaha yang telah dilaksanakannya, antara lain : membangun kantor NU Bawean dan mendirikan balai pengobatan NU di MWCNU Daun dan MWCNU Tambak.

Pada tahun 1998, ketika PBNU membidani lahirnya Partai Kebangkitan Bangsa, KH. Bajuri Yusuf ikut membidani lahirnya PKB di Pulau Bawean. Kerja kerasnya menjadikan PKB menang mutlak di Bawean (80%) dan mengantarkan wakilnya ke DPRD Kabupaten Gresik. Beliau baru mengundurkan diri dari hiruk pikuk politik pada 2002 dan fokus pada pengembangan Pondok Pesantren Hasan Jufri.

Pernikahannya dengan Nyai Faizah binti KH. Hilmi dari Desa Kebuntelukdalam Kecamatan Sangkapura (1981), menghasilkan 3 puteri dan 2 putra.



Pada bulan September 2014, KH. Bajuri Yusuf wafat, kepengasuhan diamanatkan kepada putranya yang ke empat, yaitu K. Muhammad Najahul Umam, dalam mengasuh, beliau didampingi oleh Nyai Hj. Faizah Bajuri , Dr. Ali Asyhar dan KH. Abdul Halim.


Sumber : Pesantren Hasan Jufri Dari Masa Kemasa


As Shodiq

Pengasuh pondok pesantren Hasan jufri 3


PERISTIWA-PERISTIWA DI BULAN RAJAB


Bulan Rajab Merupakan salah satu dari Asy Huru Hurum (Bulan-bulan yang dimuliakan), yang dimana juga dikatan di dalam hadits Nabi Saw. Bahwa Rajab Syahrullah (bulannya Allah) yang terdapat banyak sekali keutamaan di dalamnya.

Bulan Rajab merupakan bulan yang istimewa, karena pada bulan ini terjadi beberapa peristiwa besar. Salah satunya adalah Isra’ Mi’raj, ketika Nabi Muhammad Saw menerima perintah shalat lima waktu. Selain Isra’ dan Mi’raj masih banyak peristiwa bersejarah yang terjadi di bulan Rajab.

Terhitung ada sekitar sembilan peristiwa besar dan bersejarah bagi umat Islam di dunia. Sembilan peristiwa bersejarah tersebut adalah:

Pertama
Isra Mi’raj. Sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dari Masjid al-Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Palestina, kemudian naik ke langit ketujuh dan menghadap Allah Swt sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat al-Isra’ ayat 1.

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 27 Rajab pada masa kenabian Nabi Muhammad Saw. Oleh sebab itu, setiap tanggal 27 rajab, umat islam selalu memperingati Isra’ Mi’raj. Selain sebagai bentuk syukur, juga untuk mengenang sejarah besar umat islam.


Kedua
perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) ke Ka’bah di Makkah, peristiwa ini terjadi pada pertengahan bulan Rajab, setelah Rasulullah Saw hijrah ke Madinah. Adapun hikmah dari perpindahan arah kiblat adalah untuk menguji keimanan umat islam dalam beribadah kepada Allah SWT.


Ketiga
pertempuran kecil antara utusan Rasulullah Saw “Abdullah bin Jahsy” dengan kelompok dagang kaum Quraisy. Pada bulan rajab juga terjadi peperangan kecil antara utusan Rosulullah SAW yang dipimpin oleh Abdullah bin Jahsy, melawan kelompok dagang kaum Quraisy, yang kemudian menjadi sebuah perang yang disebut dengan perang badr.

Keempat
kekalahan bangsa Romawi di perang Tabuk. Perang yang terjadi pada 9 Hijriyah/630 M, merupakan perang yang menandai kemenangan dan dominasi islam atas seluruh semenanjung arab waktu itu. Walaupun menempuh perjalanan yang jauh dari Madinah ke Syam.

Kelima
pembebasan Kota Damaskus dari kekuasaan bangsa romawi. Pada bulan Rajab, tepatnya pada tahun 14 H/635 M. pasukan umat Islam dibawah komando panglima Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan Khalid bin al-Walid, berhasil menaklukan kota Damaskus dan menguasainya.

Keenam
setahun setelah terjadinya pembebasan kota Damaskus, terjadi peperangan Yarmuk di bawah komando Khalid bin al-Walid yang terjadi pada hari senin di bulan Rajab, pada tahun 15 H/636 M.

Ketujuh
terjadinya pembebasan kota Hirrah di Irak di bulan Rajab, yang dilakukan oleh Khalid bin al-Walid. Sebagaimana yang dijelaskan Ibnu Katsir dalam Bidayah wa an-Nihayahnya.

Kedelapan
pembebasan Baitul Maqdis dari cengkraman tentara Salib. Pada 27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M, panglima perang umat Islam pada saat itu, Shalahuddin al-Ayyub bersama pasukan umat Islam, mengepung kota Yerussalem untuk membebaskan Baitul Maqdis yang sudah 88 tahun lamanya dikuasai oleh tentara salib. Adzan dan Shalat Jum’at pun mulai dikumandangkan dan dilaksanakan kembali di Masjid al-Aqsha.

Kesembilan
runtuhnya Khilafah Turki Utsmani.  Sejarah yang terjadi pada 28 Rajab 1342 H atau 03 Maret 1924 M, adalah runtuhnya Kesultanan Ottoman Turki yang dihapus oleh Musatafa Kemal Ataturk. Pasca runtuhnya Kesultanan Ottoman Turki, kehidupan masyarakat Turki berubah, karena Turki menyatakan diri sebagai negara sekuler. Islam yang berfungsi sebagai agama dan sistem hidup, serta bermasyarakat dan bernegara mulai digantikan.

Jika melihat peristiwa-peristiwa bersejarah yang terjadi, bulan Rajab merupakan bulan perjuangan umat Islam, dimulai berjuang untuk yaqin dan patuh pada perintah Allah dan Rasul-Nya, hingga perjuangan memperebutkan kota-kota yang dikuasai oleh tentara salib.

Oleh karena itu, di bulan Rajab yang mulia ini. Selain melakukan ibadah dan amalan-amalan yang dianjurkan oleh agama. Juga harus diperbanyak spirit perjuangan dan perubahan untuk menjadi yang lebih baik dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan, serta menjaga spirit perdamaian, sebagaimana selaras dengan visi dan misi agama Islam yang Rahmatan lil Alamin

Sumber : Islam.co


As Shodiq

PERISTIWA-PERISTIWA DI BULAN RAJAB


KEUTAMAAN BULAN RAJAB BESERTA AMALANNYA







Ketika memasuki bulan Rajab, ada doa khusus yang biasa diucapkan oleh umat Islam. Yaitu, Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana Wa Ballighnaa Ramadhana. Yang artinya: “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan.”

Salah satu keutamaan bulan Rajab adalah pahala yang akan diberikan untuk orang yang melakukan puasa di bulan ini.

Amalan-amalan yang bisa dilakukan ketika memasuki bulan Rajab, di antaranya:

Pertama:
Rasulullah SAW bersabda: “Bulan Rajab adalah bulan permohonan pengampunan bagi ummatku, maka hendaknya mereka memperbanyak istighfar di dalamnya.” Yakni:

Asthagfirullah wa atubu ilaihi
“Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya”

Kedua:
Dalam suatu riwayat disebutkan, “Bagi yang tidak mampu berpuasa agar memperoleh pahala puasa di bulan Rajab, maka hendaknya setiap hari ia membaca tasbih berikut 100 kali:

Subhanal Ilâhil Jalîl, Subhâna Man Lâ Yanbaghit Tasbîhu Illâ Lahu, Subhânal A’azzil Akram, Subhâna Man Labisal ‘Izzi Wa Huwa Lahu Ahlun.

“Mahasuci Tuhan Yang Maha Agung, Mahasuci yang tak layak bertasbih kecuali kepada-Nya, Mahasuci Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Mahasuci Yang Menyandang keagungan dan hanya Dia yang layak memilikinya.”

Ketiga:
Membaca: Yâ Dzal Jalâli Wal-Ikrâm, Yâ Dzan Na’mâi Wal-Jûd, Yâ Dzal Manni Wath-Thawl, Harrim Syaibatî `Alan Nâri.

“Wahai Yang Maha Agung dan Maha Mulia, wahai Pemilik kenikmatan dan kedermawanan, wahai Pemilik anugerah dan karunia, selamatkan putihnya rambutku dari api neraka.”

Keempat:
Rasululah saw bersabda: “Barangsiapa yang membaca di bulan Rajab Istighfar berikut sebanyak 100 kali dan mengakhirnya dengan bersedekah, Allah akan mengakhirinya dengan rahmat dan maghfirah. Barangsiapa yang membacanya 400 kali, Allah memcatat baginya pahala 100 syuhada’:

Astaghfirullâha Lâilaha Illa Huwa Wahdahu Lâ Syarîkalah, Wa Atûbu Ilaihi.
“Aku memohon ampun kepada Allah, tiada Tuhan kecuali Dia Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya, aku bertaubat kepada-Nya.”


Kelima:
Membaca Lailâha illallâh (1000 kali). Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca di bulan Rajab Lâilâha illallâh sebanyak seribu kali , Allah mencatat baginya seratus ribu kebaikan dan membangunkan baginya seratus kota di surga.”

Keenam:
Membaca Astaghfirullâh Wa Atûbu Ilaihi, pagi dan sore sebanyak (70 kali) dan diakhiri dengan membaca doa:

Allâhummaghfirlî Wa Tub `Alayya
“Ya Allah, ampuni aku dan bukakan pintu taubat bagiku.”

Dalam suatu hadis dikatakan,  “Barangsiapa yang membaca Istighfar pagi dan sore sebanyak 70 kali dan kemudian diakhiri dengan doa tersebut dengan mengangkat tangannya, jika ia mati di bulan Rajab matinya diridhai oleh Allah dan tidak disentuh oleh api neraka karena berkah bulan Rajab.”

Ketujuh:
Membaca Istighfar berikut sebanyak seribu kali agar diampuni dosanya oleh Allah:

Astaghfirullâha Dzal Jalâli Wal-Ikrâm Min Jamî`Idz Dzunûbi Wal-Âtsâm
“Aku mohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia dari semua dosa dan kesalahan.”

Kedelapan:
 membaca Surat Al-Ikhlash sebelas ribu kali atau seribu kali atau seratus kali.
Dalam suatu riwayat dikatakan, “Barangsiapa yang membaca Surat Al-Ikhlash seratus kali pada hari Jum’at bulan Rajab, ia akan memperoleh cahaya yang mengantarkan ke surga.”

Kesembilan:
Dalam suatu hadist disebutkan, “Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, dan melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam). Rakaat pertama setelah Fatihah membaca ayat Kursi seratus kali, dan rakaat kedua setelah Fatihah membaca Surat Al-Ikhlash dua ratus kali, maka saat matinya ia akan menyaksikan tempatnya di surga atau diperlihatkan kepadanya.”

Kesepuluh:
Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang melakukan shalat sunnah empat rakaat (2 kali salam) pada hari Jum’at di bulan Rajab antara shalat Zuhur dan Ashar; setiap rakaat setelah Fatihah membaca ayat Kursi tujuh kali dan Surat Al-Ikhlash, kemudian sesudah salam membaca Astaghfirullâhalladzî lâilâha illâ Huwa wa as-aluhut tawbah (10 kali), Allah mencatat baginya dari hari itu (hari ia melakukan shalat) sampai hari kematiannya setiap hari seribu kebaikan; memberinya untuk setiap ayat yang ia baca satu kota di surga dari yaqut merah; untuk setiap hurufnya satu istana di surga dari mutiara; diberinya pasangan bidadari dan diridhai tanpa sedikitpun murka; dan Allah mencatatnya sebagai orang-orang ahli ibadah, dan mengakhiri hidupnya dengan kebahagiaan dan pengampunan yang terbaik.”

Kesebelas:
Puasa tiga hari: hari Kamis, Jum’at dan Sabtu. Dalam suatu hadis disebutkan, “Barangsiapa yang berpuasa pada Kamis, Jum’at dan Sabtu di bulan-bulan yang mulia, Allah mencatat baginya ibadah sembilan ratus tahun.”

Kedua belas:
Shalat enam puluh rakaat selama bulan Rajab; setiap malam dua rakaat, setiap rakaat setelah Fatihah membaca Surat Al-Kafirun (3 kali) dan Surat Al-Ikhlash (sekali). Sesudah salam membaca doa berikut sambil mengangkat tangan:

Lâilaha Illallâhu Wahdahu Lâ Syarîkalah, Lahul Mulku Wa Lahul Hamdu, Yuhyî Wa Yumît, Wa Huwa Hayyun Lâ Yamût, Biyadihil Khayr Wa Huwa ‘Alâ Kulli Syay-In Qadîr, Wa Ilayhil Mashîr, Walâ Hawla Wala Quwwata Illâ Billahil `Aliyyil `Azhîm. Allahumma Shalli `Alâ Muhammadin An-Nabiyyil Ummi Wa Âlihi.

“Tiada Tuhan kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dialah Yang Menghidupkan dan mematikan. Dia Yang Hidup dan tidak mati, di tangan-Nya segala kebaikan, Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, kepada-Nya kembali segalanya, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Tinggi dan Maha Agung. Ya Allah, sampaikan shalawat kepada Muhammad Nabi yang ummi dan keluarganya.”

Diriwayatkan dari Nabi SAW, “Bahwa orang yang melakukan amalan tersebut Allah mengijabah doanya dan memberinya enam puluh pahala haji dan umrah.”

Ketiga belas:
Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang membaca Surat Al-Ikhlash (100 kali) dalam shalat sunnah dua rakaat di malam bulan Rajab, nilainya sama dengan berpuasa seratus tahun di jalan Allah, dan memberinya seratus istana di surga, setiap istana bertetangga dengan para Nabi (AS).”

Keempat belas:
Ali bin Abi Thalib, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca setiap hari dan malam di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan Surat Al-Fatihah, ayat Kursi, Surat Al-Kafirun, Al-Ikhlash, Al-Falaq, dan An-Nas masing-masing (3 kali), kemudian membaca masing-masing (3 kali):

Subhânallâhi Wal-Hamdulillâhi, Wa Lâilâha Illallâh Wallâhu Akbar, Walâ Hawla Walâ Quwwata Illâ Billâhil `Aliyyil `Azhîm.
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.”

Allâhumma Shalli `Alâ Muhammadin Waâli Muhammad
“Sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad”

Allâhummaghfir Lil-Mu’minîna Wal-Mu’minât
“Ya Allah, ampuni kaum mukminin dan mukminat.”

Kemudian membaca istighfar berikut (400 kali):

Astaghfirullâha Wa Atûubu Ilaihi
Aku mohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya,

Maka Allah swt akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya walaupun sebanyak tetesan hujan, daun-daun pepohonan, dan buih di lautan.


Sumber : Islam.co


As Shodiq

KEUTAMAAN BULAN RAJAB BESERTA AMALANNYA

PERATURAN PONDOK PESANTREN PUTRI HASAN JUFRI

KEBUNAGUNG LEBAK SANGKAPURA BAWEAN

PERIODE 2019/2020


PERATURAN PONDOK PESANTREN PUTRI HASAN JUFRI


      KEWAJIBAN 
  1. Menjaga nama baik atau almamater pondok pesantren
  2. Menghormati serta takdim terhadap pengasuh serta keluarganya
  3. Menghormati semua ustadz dan ustadzah 
  4. Menghormati kepada yang lebih tua serta mengasihi kepada yang lebih muda
  5. Wajib berjama’ah  lima waktu serta ngaji al-quran dan kitab-kitab lainya
  6. Wajib berbahasa halus pada semua orang
  7. Wajib belajar
  8. Wajib bagi santri memegang uang tidak lebih dari RP 50.000 dan selebihnya di tabung
  9. Wajib menggunakan bross(PIN)
  10. Wajib memakai ruku’(mukennah) terusan bewarna putih
  11. Wajib menabung syahriyah pada waktunya , yakni setiap awal bulan
  12. Pemjengukan santri selain hari jum’at tidak di perbolehkan
  13. Wajib membawa baju dengan ketentuan : 1. Baju sehari-hari + Hijab : 6, 2. Baju tidur : 4
  14. Wajib izin ketika melewati batas ketentuan keluar area pondok
  15. Wajib memakai seragam pondok , jika : 1. Pulang dari pondok, 2. Keluar area batas pondok, 3. Dan acara-acara penting lainnya.
  16. Wajib berada di dalam kamar ketika jam menunjukkan pukul 11:00 malam
  17. Wajib ke UKP bagi yang sakit
  18. Wajib membeli surat bagi yang sakit
  19. Wajib memakai hijab melebihi dari dada
  20. Wajib memakai penghalang (talesan) ketika mandi
  21. Wajib menjaga kebersihan poondok
  22. Wajib piket bagi yang telah di tentukan
  23. Wajib menjaga ukhuwah islamiyah
  24. Wajib menjaga inventaris-inventaris pondok
  25. Wajib menghafal jus amma bagi kelas IX dan XII
  26. Wajib bagi santri untuk menunjukkan (kartu wali santri) kepada pengurus, jika ingin pulang dari pondok
  27. Mematuhi semua  kewajiban –kewajiban di atas

    LARANGAN

  1. Dilarang membawa masuk HP,MP3,LEPTOP kedalam pondok maupun alat eletronik lainya , kecuali ada izin  dari pihak yang berwenang
  2. Dilarang  mencuri
  3. Dilarang berpacaran serta menyimpan foto yang bukan mahrom
  4. Dilarang surat- menyurat dengan ajnabiyah
  5. Dilarang memakai baju yang ketat/transparan
  6. Dilarang memegang uang lebih dari RP 50.000
  7. Dilarang menjenguk santri selain hari Jum’at kecuali ada kebutuhan yang mendesak dan mendapatkan izin dari pihak yang berwenang
  8. Dilarang membawa baju melebihi dari batas ketentuan
  9. Dilarang melewati batas-batas ketentuan yang telah ditetapkan
  10. Dilarang menggunakan bahasa kasar kepada siapa saja
  11. Dilarang memanjangkan kuku
  12. Dilarang bertengkar sesama santri
  13. Dilarang memakai perhiasan yang berlebihan kecuali anting
  14. Dilarang bermain Facebook kecuali ketika di jenguk
  15. Dilarang mewarnai rambut
  16. Dilarang memakai jaket ketika pulang
  17. Dilarang berbicara dan bercanda ketika wirid
  18. Dilarang membuat keramaian, ketika : 1. Jam 11.00 malam, 2. Waktu berjama'ah, ngaji, dan belajar
  19. Dilarang pulang dari pondok tanpa ke POSKESTREN bagi yang sakit
  20. Dilarang ditelfonkan selain pengurus
  21. Dilarang mencuci baju selain waktunya
  22. Dilarang merusak inventaris pondok
  23. Dilarang membantah atau membangkang semua peraturan di atas.
     KETENTUAN- KETENTUAN
  1. Bagi santri yang sakit wajib ke-POSKESTREN
  2. Santri yang sakit  atau berobat, hanya boleh  di bawa atau berobat bersama kesehatan, kecuali ada izin dari pihak yang berwenang.
  3. Santri yang sakit,jika melebihi dari 3 hari, maka boleh di bawa pulang setelah di bawa ke rumah sakit atau di bawa periksa oleh kesehatan, kecuali ada faktor utama yang menyebabkan wajib di bawa pulang.
      
·                   
·                   

As Shodiq

·                     



·         
·         
·         
·         
·      



 







 


PERATURAN PONDOK PESANTREN PUTRI HASAN JUFRI