Tidak semua luka datang dari musuh.
Sebagian justru lahir dari orang yang pernah kita percaya, kita bela, bahkan kita doakan. Di titik itu, hidup terasa bising. Hati ramai oleh pertanyaan: “Kenapa harus aku?”
Namun ketenangan bukanlah hidup tanpa luka.
Ketenangan adalah kemampuan untuk tidak membiarkan luka menguasai arah hidup kita.
Rahasia pertama hidup tenang adalah menerima bahwa disakiti bukan selalu tanda kita salah. Kadang kita sudah berbuat baik, tapi tetap dikhianati. Islam tidak pernah mengajarkan kita memaksa semua orang berlaku adil kepada kita. Yang diajarkan adalah menjaga agar hati tidak ikut rusak oleh kezaliman orang lain.
Rahasia kedua adalah berhenti menuntut penjelasan dari orang yang tidak berniat memahami. Tidak semua luka butuh klarifikasi. Ada sakit yang sembuh justru ketika kita berhenti menunggu permintaan maaf yang tak pernah datang. Allah Maha Mengetahui, dan itu sudah lebih dari cukup.
Rahasia ketiga: memaafkan bukan berarti mengizinkan luka terulang. Memaafkan adalah membebaskan diri dari dendam, bukan menghapus kewaspadaan. Hati boleh bersih, tapi akal tetap harus siaga. Islam mengajarkan husnuzan, namun juga memerintahkan kehati-hatian.
Rahasia keempat adalah mengembalikan sandaran hati hanya kepada Allah. Selama ketenangan digantungkan pada manusia, selama itu pula kita mudah kecewa. Tapi ketika hati bersandar pada Allah, luka manusia tidak lagi punya kuasa besar. Kita sadar: yang pergi memang manusia, tapi Allah tidak pernah meninggalkan.
Dan rahasia paling dalam: menyadari bahwa Allah sering membersihkan hati melalui rasa sakit. Tidak semua kehilangan adalah hukuman. Ada yang justru bentuk kasih sayang agar kita tidak terlalu menggantungkan hidup pada sesuatu yang rapuh.
Hidup tenang bukan berarti lupa pada luka.
Hidup damai adalah ketika luka tidak lagi menentukan cara kita memandang dunia.
Jika hari ini kamu masih terluka, jangan terburu-buru sembuh.
Cukup jujur pada Allah, rawat hatimu perlahan, dan terus berjalan.
Sebab ketenangan sejati bukan datang saat dunia adil,
tetapi saat hati sudah yakin: Allah selalu cukup.
