Ada satu kegelisahan yang sering dialami banyak orang, bahkan mereka yang
tampak tenang di luar: takut berbicara di
depan publik.
Lidah terasa kelu, pikiran buyar, suara bergetar, dan kata-kata yang sudah
disiapkan tiba-tiba hilang entah ke mana.
Padahal, tidak semua kegugupan lahir karena
kurang latihan.
Sebagian muncul karena hati belum
benar-benar tenang.
Di sinilah para ulama dan kekasih Allah
memberi teladan. Mereka tidak hanya mengandalkan teknik berbicara, tetapi menguatkan batin sebelum lisan bergerak.
Salah satu amalan yang dikenal luas datang
dari Habib Ahmad bin Hasan al-‘Attas,
yang beliau baca sebelum mengajar, berceramah, atau berbicara di hadapan banyak
orang.
Beliau membaca doa:
رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ
وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ
لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ
وَسَدِّدْ لِسَانِيْ وَاهْدِ قَلْبِيْ
بِحَقِّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﷺ
Doa ini bukan sekadar rangkaian kata.
Ia adalah pengakuan kelemahan seorang
hamba di hadapan Tuhannya.
“Ya Allah, lapangkan dadaku.”
Karena kegugupan sering lahir dari dada yang sempit oleh rasa takut dan ingin
dipuji.
“Mudahkan urusanku.”
Sebab berbicara bukan tentang tampil sempurna, tapi tentang menyampaikan
amanah.
“Lepaskan kekakuan dari lisanku.”
Karena lidah yang kaku sering kali disebabkan hati yang ragu.
“Supaya mereka memahami perkataanku.”
Ini inti terpenting: bukan terdengar
hebat, tapi dipahami dan memberi manfaat.
Tambahan doa “sadidkan lisani dan hidayahkan hatiku” mengajarkan satu hal
penting:
kelancaran bicara tanpa kelurusan niat justru bisa menjadi bumerang.
Amalan ini mengingatkan kita bahwa lisan adalah amanah, dan hati adalah
sumbernya.
Jika hati dibimbing, lisan akan mengikuti.
Maka sebelum berdiri di depan manusia, para
ulama berdiri lebih dulu di hadapan Allah.
Sebelum berharap tepuk tangan, mereka berharap ridha.
Dan mungkin, di situlah rahasia mengapa
kata-kata mereka terasa hidup, menenangkan, dan membekas lama di hati
pendengarnya.
Jika hari ini kita harus berbicara di mimbar,
di kelas, di forum, atau sekadar menyampaikan kebenaran
barangkali yang kita butuhkan bukan hanya keberanian,
tetapi doa yang melapangkan dada dan
meluruskan niat.
Karena ketika Allah yang memegang lidah kita,
kata-kata tak lagi lahir dari gugup,
melainkan dari cahaya.
