Manusia Sering Kali Sibuk Menghitung Usia

 




Manusia sering kali sibuk menghitung usia.
Berapa tahun hidup dijalani, berapa angka yang bertambah setiap ulang tahun.
Padahal, dalam pandangan Islam, bukan panjang umur yang menjadi ukuran utama, melainkan bagaimana umur itu diisi.

Rasulullah pernah ditanya tentang siapakah manusia terbaik.
Beliau menjawab:

“Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalannya.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini sederhana, tapi menghantam kesadaran kita dengan keras.
Karena ternyata, hidup lama saja tidak cukup.
Ia baru bernilai ketika amalnya berkah.

Panjang Umur: Kesempatan, Bukan Jaminan

Panjang umur bukanlah prestasi.
Ia hanyalah kesempatan tambahan yang Allah titipkan.

Ada orang yang diberi usia panjang, tapi semakin jauh dari Allah.
Hari-harinya habis untuk menunda taubat, menumpuk dosa, dan mengulang kesalahan yang sama.
Umurnya bertambah, tapi hatinya semakin kering.

Sebaliknya, ada yang diberi usia panjang lalu mengisinya dengan kesadaran.
Semakin tua, semakin lembut lisannya.
Semakin banyak istighfarnya.
Semakin ringan tangannya dalam berbuat baik.

Di situlah letak kemuliaan umur.

Berkah Amal: Kecil Tapi Bernilai Besar

Amal yang berkah bukan selalu yang terlihat besar.
Bukan harus terkenal, bukan harus dipuji manusia.

Kadang ia hanya:

  • Menjaga shalat tepat waktu.
  • Konsisten membaca Al-Qur’an walau sedikit.
  • Menahan lisan agar tak menyakiti.
  • Ikhlas membantu tanpa ingin disebut.

Berkah itu muncul ketika amal terus hidup, meski pelakunya kelak tiada.
Ilmu yang diamalkan orang lain.
Doa yang lahir dari kebaikan kita.
Akhlak baik yang ditiru tanpa kita sadari.

Takutlah pada Umur yang Kosong

Yang seharusnya kita takuti bukan kematian.
Tapi umur panjang yang kosong dari kebaikan.

Umur yang berlalu tanpa taubat.
Hari-hari yang dihabiskan tanpa makna.
Waktu yang habis, tapi tak meninggalkan jejak kebaikan apa pun.

Karena di akhirat nanti, yang ditanya bukan:
“Berapa lama kamu hidup?”
melainkan:
“Untuk apa umurmu kamu habiskan?”

Menjadi yang Terbaik Versi Langit

Menjadi yang terbaik tidak harus mengalahkan orang lain.
Cukup mengalahkan diri sendiri setiap hari.

Hari ini lebih taat dari kemarin.
Hari ini lebih sabar dari sebelumnya.
Hari ini lebih dekat kepada Allah daripada kemarin.

Jika Allah masih memberi kita umur hingga hari ini, itu artinya:
kesempatan untuk memperbaiki amal belum dicabut.

Maka berdoalah:
“Ya Allah, panjangkan umur kami dalam ketaatan, dan berkahilah setiap amal kami.”

Karena sebaik-baik manusia
bukan yang paling lama hidupnya,
tetapi yang hidupnya paling bermakna di sisi-Nya.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama