Ilmu adalah cahaya yang seharusnya melahirkan takut kepada Allah. Namun ketika orang alim melakukan dosa secara terang-terangan, cahaya itu perlahan padam. Yang rusak bukan hanya pribadi pelakunya, tetapi juga wibawa ilmu di mata umat.
Al-Qur’an memberi peringatan keras: “Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan” (QS. Ash-Shaff: 2–3). Ayat ini menegaskan bahwa ilmu tanpa pengamalan bukan sekadar kekurangan, melainkan dosa yang dibenci Allah.
Rasulullah ﷺ juga menggambarkan orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya: ia diseret ke neraka, sementara orang-orang berkata, “Bukankah engkau dahulu memerintahkan kami berbuat baik?” (HR. Muslim). Ilmu yang tidak dijaga justru menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya sendiri.
Lebih berat lagi ketika dosa dilakukan secara terbuka. Nabi ﷺ bersabda, “Setiap umatku dimaafkan kecuali orang-orang yang menampakkan dosa” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika yang menampakkan dosa adalah orang alim, maka fitnahnya meluas dan teladan pun runtuh.
Karena itu, semakin tinggi ilmu, semakin besar amanah. Cahaya ilmu hanya akan tetap menyala bila dijaga dengan rasa takut kepada Allah dan kesungguhan mengamalkannya. Tanpa itu, ilmu bisa berubah dari petunjuk menjadi sebab kebinasaan
