Kisah Santri Nakal yang Pulang dengan Hati Berubah

 


Kisah Santri Nakal yang Pulang dengan Hati Berubah

Di sebuah pesantren sederhana, ada seorang santri yang terkenal “nakal”. Bukan karena jahat, tapi karena sering melanggar aturan: telat jamaah, kabur ngaji, dan lebih hafal jalan ke warung daripada jalan ke masjid. Namanya jarang disebut saat doa bersama—lebih sering disebut saat laporan pelanggaran.

Suatu malam, kiai memanggilnya. Bukan untuk dimarahi, tapi diminta menemani kiai shalat tahajud. Santri itu bingung. Ia berdiri di belakang, canggung, sementara kiai sujud lama—sunyi, khusyuk, seperti sedang berbincang dengan Allah.

Usai shalat, kiai berkata pelan,
“Ilmu itu bukan soal cepat atau lambat. Tapi soal mau pulang ke Allah atau terus lari.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada hukuman apa pun. Malam itu, santri “nakal” itu menangis—bukan karena takut, tapi karena sadar: ia lelah berlari.

Hari-hari berikutnya, ia masih jatuh-bangun. Masih salah. Masih ditegur. Tapi satu hal berubah: ia mulai pulang. Ke masjid. Ke kitab. Ke adab. Ke doa.

Bertahun kemudian, orang-orang mengenalnya sebagai ustaz yang lembut pada santri bermasalah. Katanya,
“Yang paling paham gelap, biasanya yang pernah.

Di pesantren, kadang yang tampak paling nakal justru sedang Allah siapkan untuk pulang paling dalam.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama