Aku Tidak Percaya Mood Aku Percaya Alasan yang Membuatku Tetap Melangkah

 





Ada hari-hari ketika hati terasa ringan. Ada juga hari-hari ketika bangun tidur saja rasanya berat. Banyak orang menunggu mood datang agar bisa bergerak. Menunggu semangat muncul agar mau mulai. Tapi perlahan aku belajar satu hal penting: hidup tidak bisa digerakkan oleh mood, tapi oleh alasan.

Mood itu rapuh. Ia berubah karena cuaca, kata orang, atau satu kejadian kecil yang tak terduga. Jika aku menunggu mood untuk berbuat baik, untuk belajar, untuk beribadah, untuk bekerja maka sebagian besar hidupku hanya akan habis untuk menunggu. Dan menunggu terlalu lama sering kali berakhir dengan penyesalan.

Aku memilih percaya pada alasan.
Alasan kenapa aku harus bangkit meski hati tak sepenuhnya siap.
Alasan kenapa aku tetap melangkah meski rasa malas datang tanpa izin.
Alasan yang membuatku nyaman bukan karena segalanya mudah, tapi karena aku tahu untuk apa aku bertahan.

Dalam Islam, kebaikan tidak menunggu perasaan. Salat tetap ditegakkan meski hati sedang lelah. Amanah tetap dijaga meski jiwa sedang tidak bersemangat. Allah tidak menilai seberapa bagus mood kita, tapi seberapa jujur ikhtiar kita. Karena istiqamah bukan soal selalu kuat, melainkan tetap berjalan meski sedang goyah.

Nyaman yang sesungguhnya bukanlah hidup tanpa tekanan, melainkan hidup yang punya arah. Ketika alasan sudah jelas, lelah pun terasa lebih masuk akal. Tangis pun tidak lagi memalukan. Bahkan jatuh pun menjadi bagian dari perjalanan, bukan akhir dari segalanya.

Maka hari ini, aku tidak lagi bertanya, “Sedang mood atau tidak?”
Aku bertanya, “Apa alasan yang membuatku tidak berhenti?”

Karena pada akhirnya, orang yang bertahan bukan mereka yang selalu bersemangat, tetapi mereka yang punya alasan untuk tetap melangkah, meski tanpa mood.



Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama