Malam itu, suasana Pondok Pesantren Hasan Jufri terasa berbeda. Heningnya bukan sekadar sunyi, tapi penuh makna. Udara seolah ikut bersaksi, bahwa para santri sedang menjemput salah satu malam istimewa dalam kalender langit: Nisfu Sya’ban.
Usai shalat Maghrib berjamaah, para santri duduk rapi, hati tertata, niat diluruskan. Sebagaimana tradisi Nisfu Sya’ban pada tahun-tahun sebelumnya, lantunan Surah Yasin dibaca sebanyak tiga kali. Setiap ayat mengalir pelan, bukan hanya dari lisan, tapi dari relung hati yang berharap ampunan, kelapangan rezeki, dan keteguhan iman.
Setelah pembacaan Yasin, doa Nisfu Sya’ban pun dipanjatkan. Dipimpin langsung oleh Kiai Moh. Najahul Umam—pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri—suasana semakin khusyuk. Doa-doa itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan jeritan hati hamba yang sadar akan lemahnya diri dan besarnya rahmat Ilahi. Banyak kepala tertunduk, banyak hati yang diam-diam bergetar.
Malam itu terasa begitu dekat dengan langit.
Usai berdoa, suasana berubah menjadi hangat dan penuh kebersamaan. Para santri putra berkumpul untuk makan bersama—satu nampan untuk tiga orang. Sederhana, tapi sarat makna. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan. Yang ada hanyalah rasa syukur, tawa kecil, dan kebersamaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Di momen itulah terasa betul bahwa keberkahan tidak selalu hadir dalam kemewahan. Ia sering turun dalam kesederhanaan, dalam kebersamaan, dan dalam hati-hati yang saling menguatkan karena Allah.
Sungguh, malam Nisfu Sya’ban di Pondok Pesantren Hasan Jufri bukan hanya tentang ritual. Ia adalah tentang rasa. Tentang doa yang dipanjatkan bersama, tentang tradisi yang dijaga dengan cinta, dan tentang ukhuwah yang tumbuh tanpa dibuat-buat.
MasyaAllah Tabarakallah. Semoga malam itu menjadi saksi, bahwa di sudut pesantren yang sederhana ini, ada hamba-hamba Allah yang tulus mengetuk pintu langit.


