Kita Sibuk Mengejar Dunia, Tapi Lupa: Bukankah Allah yang Memberi Semuanya?

 

Kalau memakai hitung-hitungan manusia, mengabdi terkadang memang terlihat seperti sebuah kerugian.

Waktu kita habiskan untuk membantu orang lain. Tenaga kita berikan untuk kepentingan agama. Kesempatan mencari keuntungan kadang kita tinggalkan. Bahkan ada kalanya kita sudah berbuat banyak, tetapi tidak mendapatkan ucapan terima kasih.

Kalau semuanya dihitung dengan logika dunia, mungkin kita akan bertanya, “Lalu apa yang kita dapat?”

Tetapi jalan Allah tidak selalu bisa dihitung dengan kalkulator manusia.

Ada sesuatu yang tidak terlihat oleh mata, tetapi dicatat oleh Allah. Ada kebaikan yang hari ini terasa berat, tetapi suatu saat menjadi sebab datangnya pertolongan. Ada pengorbanan yang sekarang terasa sepi, tetapi kelak menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Allah berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ

“Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu akan mendapatinya di sisi Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 110)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang.

Mungkin manusia lupa.

Mungkin orang yang pernah kita bantu tidak mengingatnya.

Mungkin nama kita tidak disebut.

Tetapi Allah tidak pernah lupa.

Kadang Jalan Allah Memang Tidak Masuk Akal bagi Hitungan Dunia

Dalam kehidupan, kita sering diajarkan untuk menghitung untung dan rugi.

Berapa yang keluar?

Berapa yang masuk?

Apa yang kita dapat?

Apa manfaatnya untuk masa depan?

Semua itu penting dalam urusan dunia. Namun ketika seseorang mengabdikan dirinya di jalan Allah, ada bagian kehidupan yang tidak bisa hanya diukur dengan angka.

Seorang santri yang memilih mengajar daripada mencari keuntungan mungkin terlihat kehilangan waktu.

Orang yang memilih membantu pesantren daripada mengejar kesenangan pribadi mungkin terlihat tertinggal.

Seseorang yang tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan penghargaan mungkin terlihat seperti sedang menyia-nyiakan tenaga.

Tetapi Allah mempunyai perhitungan yang berbeda.

Apa yang hilang di hadapan manusia, belum tentu hilang di hadapan Allah.

Bisa jadi yang kita anggap tertunda sebenarnya sedang dipersiapkan.

Bisa jadi yang kita anggap sebagai pengorbanan sedang menjadi jalan datangnya keberkahan.

Dan bisa jadi sesuatu yang hari ini tidak kita mengerti, baru kita pahami bertahun-tahun kemudian.

Bukankah Allah yang Akan Memberi Apa yang Kamu Kejar?

Kadang kita terlalu takut kehilangan sesuatu ketika memilih jalan pengabdian.

Takut kehilangan waktu.

Takut tertinggal.

Takut tidak punya masa depan.

Takut kesempatan mencari rezeki menjadi sempit.

Padahal, bukankah Allah yang akan memberi apa yang kita kejar?

Lantas, mengapa kita terlalu sibuk mengejar pemberian-Nya sampai lupa kepada Dzat yang memiliki segala sesuatu?

Bukankah rezeki yang kita cari berada di tangan-Nya?

Bukankah masa depan yang kita khawatirkan berada dalam ketetapan-Nya?

Bukankah orang-orang yang kita harapkan pertolongannya juga sama-sama berada di bawah kehendak-Nya?

Lantas, mengapa ketika Allah memberi kesempatan untuk mengabdi, kita justru takut kehilangan?

Bukan berarti kita harus meninggalkan usaha atau berhenti memikirkan masa depan. Kita tetap belajar, bekerja, merencanakan kehidupan, dan berusaha sebaik mungkin.

Namun jangan sampai dalam mengejar masa depan, kita merasa bahwa masa depan hanya bisa didapat dengan meninggalkan jalan Allah.

Sebab bisa jadi justru melalui pengabdian itulah Allah sedang menyiapkan sesuatu yang belum mampu kita lihat hari ini.

Manusia sibuk menghitung apa yang ia keluarkan. Allah mengetahui apa yang ia korbankan.

Manusia melihat hari ini.

Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.

Maka jangan buru-buru menganggap waktu yang kita berikan untuk agama sebagai waktu yang terbuang.

Bisa jadi hari ini kita sedang memberikan waktu, tetapi Allah sedang menyiapkan keberkahan.

Kita sedang memberikan tenaga, tetapi Allah sedang menyiapkan pertolongan.

Kita sedang meninggalkan sesuatu, tetapi Allah sedang membuka jalan kepada sesuatu yang lebih baik.

Rencana Allah Tidak Berakhir Hari Ini

Manusia sering ingin melihat hasil dengan cepat.

Hari ini berbuat baik, besok ingin mendapatkan balasan.

Hari ini berjuang, besok ingin melihat hasilnya.

Padahal kehidupan tidak selalu seperti itu.

Petani menanam hari ini, tetapi tidak memanen pada hari yang sama.

Begitu pula amal.

Ada kebaikan yang balasannya Allah berikan di dunia. Ada yang Allah simpan untuk akhirat. Ada pula yang bentuk balasannya tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)

Perhatikan kalimatnya: di dunia dan akhirat.

Pengabdian kepada Allah bukan berarti seseorang harus menunggu akhirat untuk mendapatkan kebaikan.

Allah bisa membalasnya di dunia dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Diberikan kemudahan.

Dibukakan jalan rezeki.

Dipertemukan dengan orang-orang baik.

Dijauhkan dari keburukan.

Diberikan ketenangan hati.

Atau mungkin diberikan sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang dahulu kita harapkan.

Namun jika balasan dunia belum terlihat, bukan berarti Allah tidak membalas.

Bisa jadi Allah sedang menyimpannya untuk waktu yang lebih tepat.

Sebab rencana manusia berhenti pada apa yang bisa ia lihat, sedangkan rencana Allah melampaui apa yang mampu kita bayangkan.

Yang Kita Tanam Tidak Akan Hilang

Ada orang yang bertahun-tahun mengabdi, tetapi hidupnya terlihat biasa saja.

Tidak terkenal.

Tidak kaya.

Tidak banyak dipuji.

Tidak memiliki banyak pengikut.

Kalau ukurannya adalah popularitas, mungkin perjuangannya terlihat kecil.

Tetapi ukuran Allah bukanlah jumlah tepuk tangan manusia.

Seseorang yang mengajarkan satu ilmu kepada santri, membantu orang tua, melayani guru, menjaga masjid, mengurus pesantren, membantu orang yang kesulitan, atau mengorbankan waktunya untuk kebaikan, semuanya memiliki nilai di sisi Allah ketika dilakukan dengan ikhlas.

Bahkan mungkin ada kebaikan yang kita sendiri sudah lupa, tetapi Allah masih menyimpannya.

Inilah yang membuat orang yang berjalan di jalan Allah tidak pernah benar-benar rugi.

Sebab amalnya tidak hilang hanya karena manusia tidak melihatnya.

Kadang kita hanya menanam, sementara orang lain yang melihat pohonnya.

Dan tidak masalah.

Karena sejak awal, yang kita cari bukan tepuk tangan manusia.

Yang kita cari adalah ridha Allah.

Jangan Terlalu Cepat Menilai Hidup dari Hasil

Kadang kita melihat kehidupan orang lain dan mulai membandingkan.

“Dia sudah sukses.”

“Dia sudah punya pekerjaan.”

“Dia sudah punya banyak uang.”

“Sedangkan aku masih di sini, masih mengabdi, masih belajar, masih membantu orang lain.”

Dari sinilah terkadang muncul perasaan bahwa perjuangan kita sia-sia.

Padahal kita sedang melihat kehidupan hanya dari satu halaman.

Kita belum tahu bagaimana akhir ceritanya.

Bisa jadi orang yang hari ini terlihat tertinggal sedang berada dalam proses yang Allah susun dengan cara yang berbeda.

Bisa jadi sesuatu yang kita anggap lambat justru sedang membentuk diri kita.

Dan bisa jadi keberhasilan yang sebenarnya bukan tentang seberapa cepat kita mendapatkan sesuatu, tetapi tentang apakah perjalanan kita membawa keberkahan.

Allah yang menentukan kapan sebuah perjuangan berbuah.

Tugas kita adalah menjaga niat dan terus berjalan.

Ada Balasan yang Baru Terlihat Setelah Bertahun-tahun

Bisa jadi hari ini kita membantu seorang anak belajar membaca Al-Qur'an.

Kita tidak tahu bahwa bertahun-tahun kemudian ia menjadi orang yang mengajarkan Al-Qur'an kepada banyak orang.

Bisa jadi hari ini kita membantu seorang teman yang sedang kesulitan.

Kita tidak tahu bahwa suatu hari nanti Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang jauh berbeda.

Bisa jadi hari ini kita mengorbankan waktu untuk pesantren.

Kita tidak tahu berapa banyak kebaikan yang lahir dari tempat yang pernah kita bantu.

Begitulah amal.

Kadang kita hanya menanam, sementara orang lain yang melihat pohonnya.

Dan tidak masalah.

Karena yang kita cari bukan pengakuan manusia.

Yang kita cari adalah ridha Allah.

Jangan Berhenti Hanya Karena Belum Mendapatkan Balasan

Kalau seseorang mengabdi hanya karena ingin segera mendapatkan sesuatu, ia akan mudah kecewa.

Tetapi kalau seseorang mengabdi karena Allah, ia memiliki alasan untuk terus bertahan.

Dipujilah, ia tetap berbuat baik.

Tidak dipuji, ia tetap berbuat baik.

Dihargai, ia bersyukur.

Tidak dihargai, ia tetap yakin bahwa Allah mengetahui.

Karena sejak awal ia sadar:

Allah tidak pernah lupa membalas kebaikan.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)

Maka kalau hari ini kita sedang mengabdi, jangan terlalu sibuk bertanya, “Apa yang akan aku dapat?”

Cobalah bertanya:

“Apakah Allah ridha dengan apa yang sedang aku lakukan?”

Sebab selama Allah ridha, kita tidak sedang kehilangan apa-apa.

Mungkin dunia belum memberikan balasannya.

Mungkin manusia belum mengetahui perjuangan kita.

Mungkin hasilnya belum terlihat.

Tetapi Allah mengetahui setiap langkah, setiap lelah, setiap pengorbanan, dan setiap kebaikan yang kita lakukan.

Dan ketika waktunya tiba, kita akan memahami bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar sia-sia.

Yang kita kira tertunda, ternyata sedang dipersiapkan.

Yang kita kira hilang, ternyata sedang dicatat.

Yang kita kira rugi, ternyata sedang menjadi bekal untuk kembali kepada Allah.

Maka teruslah mengabdi.

Tetaplah belajar.

Tetaplah berbuat baik.

Tetaplah membantu selama ada kesempatan.

Bukan karena kita sudah tahu kapan balasannya.

Tetapi karena kita percaya kepada Allah yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Dan mungkin suatu hari nanti, setelah perjalanan yang panjang, kita akan menoleh ke belakang dan berkata dalam hati:

“Ternyata waktu yang dulu kukira hilang, justru menjadi bagian paling berharga dalam hidupku.”

Karena pada akhirnya, yang kita serahkan kepada Allah tidak pernah benar-benar hilang.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama