Wisuda MDT Wustho dan ‘Ulya Putri ke-6: Momentum Syukur dan Semangat Baru di Pondok Pesantren Hasan Jufri

Kamis, 12 Februari 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi keluarga besar santri banat Pondok Pesantren Hasan Jufri. Di Gedung Aula Utama yang dipenuhi para santri dan wali wisudawati, terselenggara Wisuda Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho dan ‘Ulya Putri ke-6 Tahun Ajaran 2025/2026. Bukan sekadar seremoni kelulusan, hari itu adalah pertemuan antara perjalanan panjang, doa-doa yang tak pernah putus, serta harapan yang tumbuh pelan namun pasti dari waktu ke waktu.



Sejak awal acara, suasana khidmat terasa begitu kuat. Seluruh wali wisudawati turuthadir menyaksikan momen bersejarah itu. Kehadiran para wali wisudawati menambah kehangatan ruangan. Wajah-wajah yang selama ini hanya mendengar cerita perjuangan dari kejauhan, kini menyaksikan langsung buah dari kesungguhan putri-putri mereka. Ada bangga yang tak terucap, ada haru yang tersimpan di balik senyum.


Sambutan motivasi dari Ustadzah Neng Ulfatun Najihah, M.H.I. menjadi salah satu momen yang paling membekas. Beliau tidak hanya menyampaikan nasihat, tetapi menghadirkan pengalaman hidupnya sebagai pelajaran nyata. Kisah perjalanan beliau menuntut ilmu—dari Dalwah, kemudian ke Yaman, Mesir, Malaysia, hingga Singapura—membuka cakrawala para hadirin bahwa menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan ketaatan kepada orang tua. Pesan tentang pentingnya sabar, istiqamah, dan menjaga niat terasa begitu relevan. Bahwa ilmu bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk membentuk diri menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab dan bermanfaat.

Wisuda kali ini juga dirangkai dengan pengumuman kenaikan kelas. Suasana yang tadinya hangat berubah menjadi tegang. Ada harap yang menggantung, ada doa yang terucap pelan. Ketika nama-nama diumumkan, sebagian santri tersenyum lega, sebagian lainnya menerima hasil dengan lapang dada. Semua menjadi bagian dari pendidikan itu sendiri: bukan hanya soal nilai, tetapi tentang pembentukan mental, kedewasaan, dan kemampuan menerima takdir dengan hati yang teguh.




Persembahan Mars Hasan Jufri dan lagu perpisahan menghadirkan suasana yang semakin menggetarkan. Suara-suara yang awalnya tegar perlahan berubah menjadi haru. Beberapa ustadzah terlihat mengusap air mata, tak kuasa menahan perasaan saat lagu perpisahan dinyanyikan sambil saling menggenggam tangan erat. Lagu itu bukan sekadar rangkaian nada, melainkan rekaman perjalanan: belajar bersama, berjuang bersama, jatuh dan bangkit dalam lingkungan yang sama. Ditambah dengan pembacaan puisi yang disampaikan dengan tangis tersedu-sedu, suasana menjadi semakin menyentuh, mengingatkan bahwa setiap perpisahan adalah tanda bahwa sebuah fase telah diselesaikan dengan sepenuh hati.

Seluruh rangkaian acara berjalan tertib dan penuh kekompakan. Dari pembukaan hingga penutup, setiap bagian tersusun rapi, menunjukkan sinergi seluruh elemen pondok. Pesan yang terus ditegaskan adalah bahwa wisuda bukan akhir perjalanan, melainkan awal tanggung jawab baru. Gelar kelulusan bukanlah puncak, tetapi pijakan untuk melangkah lebih jauh.


Wisuda ini mengajarkan satu hal penting: setiap proses memiliki waktunya masing-masing. Ada yang melangkah cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Namun selama semangat belajar tetap menyala dan niat memperbaiki diri tetap terjaga, setiap langkah memiliki nilai dan arti. Tidak ada perjuangan yang sia-sia ketika dijalani dengan kesungguhan.

Hari itu, Pondok Pesantren Hasan Jufri kembali menorehkan sejarah. Bukan hanya meluluskan santri, tetapi membentuk karakter, menanamkan keteguhan, dan menyiapkan generasi yang berani menghadapi masa depan. Dari aula yang dipenuhi doa dan harapan itu, lahir putri-putri yang membawa ilmu di dada dan akhlak sebagai cahaya. Sebuah langkah telah selesai, dan langkah baru telah dimulai—dengan keyakinan bahwa masa depan menanti mereka yang terus belajar, bersabar, dan berjuang tanpa henti.




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama