Banyak orang lelah bukan karena hidupnya terlalu berat, tetapi karena ia terus berperang dengan dirinya sendiri. Ingin terlihat kuat padahal hati rapuh. Ingin selalu benar padahal sering terluka. Ingin membahagiakan semua orang, namun lupa menenangkan diri sendiri.
Di sinilah seni hidup bahagia dimulai: berdamai dengan diri sendiri.
Berdamai bukan berarti menyerah. Ia justru tanda kedewasaan. Tanda bahwa kita berhenti memusuhi luka, berhenti menyangkal kekurangan, dan berhenti membandingkan perjalanan hidup kita dengan hidup orang lain.
Sering kali kita marah pada diri sendiri karena masa lalu. Menyesali keputusan, menyalahkan kegagalan, mengutuk diri yang “seharusnya bisa lebih baik”. Padahal masa lalu tidak pernah meminta untuk dibenci. Ia hanya ingin dipahami. Dari sana, kita belajar. Dari sana, kita tumbuh.
Hidup bahagia bukan soal memiliki segalanya, tapi menerima apa yang sedang kita jalani. Tidak semua doa harus terkabul sekarang. Tidak semua usaha langsung berbuah. Ada fase menunggu, ada fase diuji, dan ada fase ditata ulang. Semuanya sah.
Berdamai dengan diri sendiri juga berarti memberi ruang untuk lelah. Mengizinkan diri berhenti sejenak tanpa merasa bersalah. Kita bukan mesin. Kita manusia yang hatinya butuh istirahat, bukan terus dituntut sempurna.
Dalam Islam, ketenangan hati lahir dari penerimaan. Ridha pada takdir, tanpa kehilangan ikhtiar. Kita berusaha sebaik mungkin, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Saat itulah hati berhenti ribut, dan jiwa mulai tenang.
Bahagia tidak selalu terdengar seperti tawa. Kadang ia hadir dalam bentuk keikhlasan. Dalam tidur yang tenang. Dalam hati yang tidak lagi iri melihat keberhasilan orang lain. Dalam doa yang lirih namun penuh percaya.
Maka jika hari ini hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan dunia. Mungkin yang perlu dilakukan hanya satu: memeluk diri sendiri, dan berkata, “Aku sudah berusaha, dan itu cukup.”
Di situlah seni hidup bahagia bermula saat kita berhenti melawan diri sendiri, dan mulai berjalan berdampingan dengannya.
