Jangan Su’udzon, Tapi Jangan Juga Jadi Orang Bodoh


Pernah nggak, kamu menahan diri untuk nggak su’udzon, tapi akhirnya malah jadi orang yang paling sering dirugikan?
Dipakai tenaganya, dimanfaatkan kepercayaannya, lalu ditinggal begitu saja.
Dan saat hati mulai protes, kamu bilang ke diri sendiri: “Sabar, jangan buruk sangka.”

Masalahnya, itu bukan sabar. Itu menipu diri sendiri.

Islam memang melarang su’udzon. Tapi Islam tidak pernah menyuruh kita menutup mata. Ada beda besar antara menjaga hati dan membiarkan diri diinjak.

Dalam keseharian, kita sering tahu sebenarnya ada yang janggal. Nada bicara yang berubah, janji yang selalu diundur, senyum yang terasa dingin, perhatian yang hanya datang saat butuh. Semua itu bukan prasangka. Itu fakta yang berulang.

Dan anehnya, kita sering memilih mengabaikannya demi terlihat “baik”.

Padahal Islam mengajarkan:
niat orang lain urusan Allah, tapi dampak perbuatannya urusan kita.

Kamu tidak perlu menuduh isi hatinya. Tapi kamu wajib belajar dari sikapnya.
Bukan untuk membalas, bukan untuk membuka aib, tapi agar kamu tahu batas.

Rasulullah ﷺ tidak su’udzon, tapi beliau tidak naif.
Beliau percaya, tapi juga menimbang.
Beliau lembut, tapi tegas saat harus menjaga diri dan umatnya.

Di dunia nyata, apalagi hari ini, banyak orang pandai bicara nilai dan agama, tapi kelakuannya tak pernah konsisten. Kalau kita terus memaksa husnuzan tanpa akal sehat, yang rusak bukan iman—tapi harga diri.

Islam itu tegak dengan keadilan.
Dan keadilan dimulai dari keberanian berkata dalam hati:
“Aku tidak menuduhmu, tapi aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama.”

Jadi jangan su’udzon.
Tapi jangan juga menyerahkan diri pada orang yang sama berkali-kali melukai dengan cara yang sama.

Hati tetap bersih.
Akal tetap hidup.
Itulah Muslim yang utuh.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama