Hidup hari ini terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Kita dituntut cepat, dituntut mampu, dituntut selalu terlihat kuat. Dalam kondisi seperti itu, ikhlas sering menjadi hal yang paling sulit dipraktikkan. Bukan karena tak paham maknanya, tapi karena hati lelah menghadapi ekspektasi.
Ikhlas bukan berarti berhenti berusaha, melainkan meluruskan niat di tengah usaha. Kita bekerja, berjuang, dan memberi yang terbaik bukan demi pujian manusia, tapi karena Allah melihat setiap niat yang tersembunyi. Saat hasil tak sesuai harapan, ikhlaslah yang menjaga hati agar tidak hancur.
Dunia boleh terus menuntut, tapi jangan biarkan ia menentukan nilai diri kita. Allah tidak menilai dari seberapa keras dunia mengakui, melainkan seberapa jujur hati dalam berserah. Ikhlas membuat langkah tetap ringan, meski beban hidup terasa berat.
Belajar ikhlas memang tidak instan. Ia tumbuh dari doa yang pelan, dari sabar yang berulang, dan dari keyakinan bahwa apa pun yang dilakukan karena Allah, tak akan pernah sia-sia.
