Mengapa Saya Sering Merasa Kurang Saat Melihat Dunia



Perasaan kurang sering muncul ketika saya terlalu lama memandangi dunia di luar diri sendiri. Hidup orang lain terlihat rapi, terukur, dan seolah berjalan tanpa jeda. Di saat yang sama, hidup saya masih dipenuhi jeda dan pertanyaan.


Dari sanalah rasa kurang itu terbentuk. Bukan karena kebutuhan tidak terpenuhi, melainkan karena perhatian saya tersedot ke pencapaian yang bukan milik saya. Perbandingan bekerja pelan-pelan, lalu berubah menjadi beban.


Islam memberi arah yang sederhana dalam menyikapi hal ini. Nilai manusia tidak diukur dari posisi sosial, kecepatan berhasil, atau seberapa sering ia terlihat unggul. Yang diperhatikan adalah niat, usaha yang terus dijaga, serta kesabaran dalam menjalani takdir.


Ketika pandangan terlalu sering diarahkan ke luar, hati mudah gelisah. Sebaliknya, saat pandangan diarahkan ke dalam, seseorang mulai mengenali batas dan kemampuannya sendiri. Dari sana muncul rasa cukup yang sehat.


Pedoman hidup yang perlu dijaga adalah menata orientasi. Dunia cukup dijadikan sarana, bukan tujuan. Pencapaian orang lain bisa dijadikan pelajaran, bukan ukuran nilai diri. Setiap proses memiliki waktunya, dan setiap keterlambatan membawa hikmah yang tidak selalu tampak di awal.


Saya belajar menerima bahwa hidup tidak harus selalu terasa penuh untuk bisa bermakna. Selama langkah dijalani dengan jujur dan arah tetap mengarah kepada Allah, rasa kurang itu perlahan kehilangan kuasanya.






Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama