Mengapa Saya Merasa Kurang Saat Melihat Orang-Orang Terdekat


 

Anehnya, rasa kurang itu tidak selalu muncul ketika melihat orang jauh.


Ia justru paling sering datang dari lingkungan terdekat—teman sendiri, tetangga sendiri, orang-orang yang hampir setiap hari saya lihat.


Teman sebaya sudah bekerja.
Tetangga mulai mapan.
Yang dulu sama-sama berangkat dari titik nol, kini tampak melangkah lebih cepat.


Saya tidak iri, setidaknya itu yang saya katakan pada diri sendiri.
Namun tetap ada ruang kosong yang terasa:
kenapa saya belum seperti mereka?



Lingkungan dekat membuat perbandingan terasa lebih nyata.
Karena jaraknya pendek, keberhasilan orang lain terasa seperti cermin yang memantulkan kekurangan diri. Dari situlah pikiran mulai gaduh, meski hidup sebenarnya masih berjalan.


Islam mengajarkan agar manusia tidak terjebak pada ukuran yang keliru. Rezeki, waktu, dan jalan hidup tidak dibagi rata. Allah membaginya dengan cara yang tepat, meski sering kali tidak sesuai dengan keinginan kita.


Melihat keberhasilan teman dan tetangga seharusnya mengingatkan bahwa hidup memiliki banyak versi. Ada yang cepat dalam hasil, ada yang dalam dalam proses. Tidak semua yang tampak maju sedang tenang, dan tidak semua yang tertinggal sedang gagal.


Pedoman hidup yang perlu dipegang adalah menjaga hati tetap lurus. Lingkungan dekat cukup dijadikan pengingat, bukan tekanan. Kedekatan tidak otomatis menjadikan jalan hidup harus sama. Yang dituntut dari kita hanyalah kesungguhan menjalani bagian masing-masing.


Saya belajar satu hal:
jika hari ini saya masih berada di titik yang sederhana, itu bukan tanda kekurangan. Bisa jadi Allah sedang melatih kesabaran, agar ketika waktunya tiba, saya tidak tumbang oleh perasaan tinggi.


Hidup bersama orang-orang terdekat memang penuh perbandingan.
Namun iman mengajarkan untuk tetap tenang di tengah itu semua, berjalan dengan ritme sendiri, dan percaya bahwa Allah tidak pernah salah menempatkan hamba-Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama