Hikmah dan Peristiwa Bersejarah di Bulan Rabiul Akhir

 


Hikmah dan Peristiwa Bersejarah di Bulan Rabiul Akhir

Bulan Rabiul Akhir menyimpan hikmah dan Sejarah penting dalam Islam. Melalui perspektif syariat, kita temukan makna serta pelajaran yang berharga.

Menurut Sejarah, bulan Rabiul Akhir pada masa Jahiliah disebut dengan nama bulan Wubshan atau Wabshan. Sementara bulan Rabiul Awal disebut dengan bulan Khawwan atau Khuwwan.

Adapun orang yang pertama kali menamai dengan bulan Rabiul akhir menurut satu pendapat yang kuat adalah Killab bin Murrah, cicit kelima Rasullah SAW. Penamaan itu tidak terlepas dari peristiwa alam musim rabi’ atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab. Pada musim semi itu rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah. Karena umumnya musim semi tersebut terjadi selama dua periode, lantas nama ini pun disematkan kepada dua bulan di mana terdapat musim tersebut, yakni Rabiul Awal dan Rabiul Akhir.

Bulan Rabiul Akhir sendiri merupakan bulan ke-4 dalam kalender Hijriah atau penanggalan berbasis bulan (lunar calendar). Yang mana, letak tepatnya adalah setelah bulan Rabiul Awal dan sebelum bulan Jumadil Ula. Selain menjadi nama bulan, kata rabi’ juga menjadi nama musim di antara enam musim yang ada, yaitu ar-rabi’ al-awwal (musim semi pertama), shaif (musim panas), qaizh (puncak musim panas), ar-rabi’ al-tsani (musim semi kedua), kharif (musim gugur), dan syitha (musim dingin). Masyarakat Arab sendiri selalu mengawali penyebutan nama ini dengan kata syahr yang berarti ‘bulan’. Sementara pengucapannya bisa dua versi, yaitu syahru rabi’in al-akhir, bisa juga syahru rabi’il akhir, dengan idhafah.

Rabiul Akhir ada pula yang menyebutnya dengan Rabi’uts Tsani, yakni bulan yang identik dengan peristiwa lahirnya Nabi Muhammad SAW. Bulan Rabiul Akhir juga memiliki beberapa peristiwa penting yang bisa diambil hikmahnya. Di antaranya adalah penurunan Surah Al-Hasyr (pengusiran) yang disebabkan upaya pembunuhan kepada Rasulullah yang dilakukan oleh kaum Yahudi Bani Nadir. Kaum ini adalah kaum yang pertama dikumpulkan dan diusir dari Madinah. Hal ini disebutkan dalam Al-Quran Surah Al-Hasyr ayat 2:

﴿ هُوَ الَّذِيْٓ اَخْرَجَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِاَوَّلِ الْحَشْرِۗ ﴾ [سورة الحشر: ٢]

Artinya: “Dialah yang mengeluarkan orang-orang yang kufur di antara Ahlulkitab (Yahudi Bani Nadir) dari kampung halaman mereka pada saat pengusiran yang pertama. Para ahli tafsir menyebut bahwa pengusiran terhadap kaum Yahudi itu terjadi karena dua hal yakni kepemimpinan Rasulullah yang tegas dan keridaan Allah terhadap umat muslim.

Peristiwa lainnya yang terjadi pada Rabiul Akhir selanjutnya adalah sejarah diutusnya Khalid bin Al-Walid oleh Rasulullah SAW kepada Bani Al-Harits bin Ka’b pada tahun 10 Hijriah. Berkat perjuangan Khalid, Bani Al-Harits bin Ka’b masuk Islam. Selain itu beberapa peperangan di zaman Nabi juga pernah terjadi pada bulan Rabiul Akhir ini. Di antaranya adalah Perang Dzat Ar-Riqa pada tahun ke-4 Hijriah, Perang Al-Ghabah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW pada tahun ke-6 Hijriah, dan Perang Al-Ghamr yang dipimpin oleh ‘Ukasyah bin Mihshan.

Peristiwa berikutnya adalah pengutusan Khalid bin Al-Walid oleh Rasulullah SAW kepada Bani Al-Harits bin Ka’b. Berkat perjuangan Khalid, mereka masuk Islam di hadapannya. Peristiwa itu berlangsung pada bulan Rabiul Akhir 10 Hijriah. Menurut Ibnu Ishaq, Perang Dzat Ar-Riqa juga terjadi pada bulan Rabiul Akhir keempat Hijriah, tepatnya setelah memerangi Bani Nadir. Berikutnya adalah peristiwa Perang Al-Ghabah yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun keenam Hijriah; kemudian Perang Al-Ghamr yang dipimpin oleh ‘Ukasyah bin Mihshan. Pengiriman pasukan ekspedisi yang dipimpin oleh Muhammad bin Maslamah ke wilayah Dzul Qashshah.

Dari beberapa peristiwa yang terjadi di bulan Rabiul Akhir ini, seolah Nabi Muhammad dan Islam adalah agama yang sering melakukan peperangan? Namun perlu diketahui, bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah bukan memulai perang. Peperangan yang dilakukan oleh Nabi adalah dalam rangka membela diri. Saat di Makkah, Allah SAW malah memerintahkan Nabi Muhammad untuk tidak melawan. Namun setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad dan pengikutnya diizinkan untuk berperang melawan orang-orang yang selama ini memerangi kaum Muslimin. Hal ini ditegaskan dalam Al-Quran Surah Al-Hajj ayat 39:

﴿ اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ۙ ﴾ [سورة الحج: ٣٩]

Artinya: Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa membela mereka.

Selain untuk membela diri, terjadinya peperangan di zaman Nabi adalah untuk memberi pelajaran terhadap musuh yang mencari gara-gara atau bersekongkol mengganggu umat Islam meskipun sudah ada perjanjian atau kerja sama. Peperangan ini adalah untuk melakukan penertiban atau penghukuman agar perjanjian yang telah dilakukan tidak dilanggar. Peperangan di zaman Nabi juga terjadi guna menggagalkan rencana musuh yang mengancam keselamatan kaum muslim.

Wabakdu, begitulah rentetan sejarah-sejarah yang terjadi di bulan Rabiul Akhir. Semoga darinya kita akan semakin mengerti atas apa yang terjadi dan alasan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Hal ini ditujukan agar kita tidak salah dalam memahami sejarah sekaligus kita bisa mengambil ibrah atau hikmah dari peristiwa-peristiwa tersebut.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama