Di mata manusia
harta sering dianggap segalanya punya uang banyak berarti sukses punya aset
berarti aman punya segalanya berarti bahagia tapi kenyataannya tidak selalu
begitu ada yang hartanya melimpah tapi tidurnya gelisah ada yang hidupnya
terlihat mewah tapi hatinya penuh resah lalu muncul pertanyaan sederhana kalau
harta bisa membeli segalanya kenapa ketenangan tidak ikut terbeli
Jawabannya
mungkin pahit karena sejak awal harta memang tidak pernah diciptakan untuk
mengisi hati harta itu alat bukan tujuan ia hanya cukup untuk memenuhi
kebutuhan bukan untuk menenangkan jiwa ketika harta dijadikan pusat hidup di
situlah masalah mulai tumbuh semakin banyak didapat semakin besar rasa takut
kehilangan semakin tinggi yang dimiliki semakin sulit merasa cukup dan tanpa
sadar hati menjadi kosong bukan karena kurang harta tapi karena kehilangan arah
Dalam islam
harta bukan ukuran mulia atau tidaknya seseorang tapi bagaimana cara
mendapatkannya dan ke mana ia digunakan ada orang yang sedikit hartanya tapi
lapang dadanya karena ia tahu cukup ada juga yang banyak hartanya tapi sempit
hidupnya karena ia terus merasa kurang itulah bedanya antara harta di tangan
dan harta di hati kalau harta hanya di tangan ia bisa jadi berkah tapi kalau
sudah masuk ke hati ia bisa jadi musibah
Seringkali kekosongan itu bukan datang dari luar tapi dari dalam hati yang jauh dari Allah akan selalu merasa kurang meskipun dunia sudah di genggaman karena sejatinya yang dibutuhkan hati bukanlah angka tapi makna bukan sekadar memiliki tapi merasa cukup dan cukup itu tidak datang dari banyaknya harta tapi dari dekatnya diri kepada Allah
Maka jangan
heran kalau ada yang hartanya banyak tapi hatinya kosong karena mungkin ia
terlalu sibuk mengumpulkan dunia sampai lupa mengisi akhirat padahal yang
benar-benar menenangkan bukan apa yang kita miliki tapi siapa yang kita dekati
jadi sebelum terus mengejar harta coba tanya pada diri sendiri yang sedang
dicari ini kekayaan atau ketenangan karena keduanya tidak selalu berjalan
bersamaan
