Ketika Dunia Dikejar, Akhirat Terlupa

 


Ada fase dalam hidup di mana semuanya terasa sibuk. Target harus tercapai, pekerjaan harus selesai, pengakuan ingin diraih. Hari-hari dipenuhi aktivitas, tapi tanpa sadar ada satu hal yang mulai tertinggal—hubungan dengan Allah.

Awalnya tidak terasa. Sholat masih dilakukan, tapi mulai di akhir waktu. Al-Qur’an masih dibaca, tapi semakin jarang. Doa masih dipanjatkan, tapi hanya saat benar-benar butuh. Semua masih ada, tapi tidak lagi hidup.

Di situlah jarak mulai terbentuk.

Dunia memang penting. Islam tidak pernah melarang kita untuk bekerja, berusaha, bahkan sukses. Tapi ketika dunia menjadi tujuan utama, dan akhirat hanya jadi pelengkap, arah hidup mulai bergeser. Yang tadinya mencari ridha Allah, berubah menjadi mencari pengakuan manusia.

Masalahnya, dunia tidak pernah benar-benar selesai dikejar. Semakin dikejar, semakin terasa kurang. Satu target tercapai, muncul target lain. Satu keinginan terpenuhi, lahir keinginan baru. Sampai akhirnya kita lelah sendiri, tapi tidak tahu kenapa hati tetap kosong.

Karena yang dikejar bukan yang seharusnya mengisi.

Akhirat sering terlupa bukan karena kita tidak percaya, tapi karena kita terlalu fokus pada yang terlihat. Kita sibuk memperbaiki yang luar, tapi lupa memperbaiki yang dalam. Kita khawatir soal masa depan dunia, tapi jarang khawatir tentang keadaan kita di hadapan Allah.

Padahal, ketenangan bukan datang dari banyaknya yang kita miliki, tapi dari dekatnya kita dengan-Nya.

Yang lebih halus lagi, kelalaian itu datang perlahan. Dari yang awalnya menunda ibadah, lalu terbiasa. Dari yang awalnya merasa bersalah, lalu mulai merasa biasa saja. Sampai akhirnya hati tidak lagi peka—tidak merasa kehilangan saat jauh, dan tidak merasa rindu untuk kembali.

Di titik itu, hidup tetap berjalan, tapi tanpa arah yang jelas.

Bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Justru dunia harus dijalani dengan benar. Bekerja, belajar, dan berusaha tetap penting. Tapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa tujuan utama.

Karena sejatinya, dunia hanyalah jalan, bukan tujuan.

Kalau hari ini terasa kosong di tengah kesibukan, mungkin bukan karena kita kurang aktivitas, tapi karena kita kurang kembali. Bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena hati terlalu jauh.

Dan kabar baiknya, selama kita masih sadar, belum semuanya terlambat.

Selalu ada jalan untuk kembali. Selalu ada ruang untuk memperbaiki. Tinggal satu pertanyaan sederhana: di tengah semua yang kita kejar, apakah kita masih ingat ke mana kita akan pulang?

Top of Form

Bottom of Form

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama