Pernahkah kamu
merasa gatal untuk berkomentar ketika melihat unggahan yang sedang viral? Di
era media sosial sekarang, memberikan kritik pedas, ejekan, atau julukan buruk
kepada orang lain terasa sangat mudah, cukup dengan beberapa ketukan jempol saja,
kita sudah bisa mengirimkan kalimat yang bisa meruntuhkan mental or
ang lain.
Sering kali kita berlindung di balik kata candaan atau sekadar opini.
Kita merasa bahwa setelah layar HP dimatikan, urusan pun selesai.
Namun, di
sinilah letak bahayanya. Bayangkan sebuah paku yang ditancapkan ke batang
pohon. Meskipun paku itu dicabut, lubangnya akan tetap ada selamanya. Begitulah
dampak cyberbullying pada hati korbannya.
Lebih
mengerikannya lagi, mari kita gunakan analogi "Sampah yang Dibuang ke
Sungai". Jika kamu membuang satu kantong sampah ke sungai yang mengalir,
sampah itu tidak hanya diam di sana. Ia akan terbawa arus, melewati desa-desa
lain, dan mencemari air yang diminum banyak orang.
Di dunia
digital, komentar jahatmu adalah sampah tersebut. Begitu kamu menekan tombol send,
kalimat itu bukan lagi milikmu. Ia bisa di-screenshot, dibagikan ulang,
dan dibaca oleh ribuan orang bahkan setelah kamu menghapusnya atau bahkan
setelah kamu tiada. Inilah yang disebut dengan Dosa Jariyah. Kamu tidak
lagi melakukan perundungan itu, tapi dosanya terus mengalir setiap kali ada
orang baru yang membaca dan ikut membenci korban karena ketikanmu. Kita sedang
menabung beban yang tidak akan pernah berhenti "berbunga" di akhirat.
Islam
memberikan solusi yang sangat jelas untuk menjaga kita dari kebangkrutan di
akhirat akibat lisan (atau jempol) yang tidak terjaga:
- Prinsip Berkata Baik atau Diam: Sebelum mengetik, gunakan filter tiga lapis: Apakah ini benar? Apakah ini baik? Apakah ini bermanfaat? Jika salah satunya tidak terpenuhi, lebih baik urungkan niatmu.
- Ingat
Konsep Muflis (Orang Bangkrut): Rasulullah SAW pernah mengingatkan tentang
orang yang membawa pahala shalat dan puasa yang banyak, namun pahalanya
habis dibagikan kepada orang-orang yang pernah ia sakiti di dunia. Jangan
sampai kerja keras ibadahmu habis hanya untuk membayar satu komentar
jahat.
- Segera
Memutus Aliran Dosa: Jika kamu pernah melakukannya, jangan tunda untuk
menghapus konten tersebut. Jika memungkinkan, hubungi korbannya dan
mintalah maaf secara tulus. Meminta maaf kepada manusia jauh lebih berat
daripada bertaubat kepada Allah, karena urusan antarmalaikat tidak akan
selesai sebelum urusan antarmanusia tuntas.
Jari-jari kita
hari ini akan menjadi saksi yang berbicara di hadapan Allah kelak. Jangan
biarkan jejak digitalmu menjadi "warisan" buruk yang memberatkan
timbangan amalmu. Mari kita bangun budaya internet yang lebih sehat dengan
prinsip: Jika tidak bisa menjadi pemberi manfaat, minimal jangan menjadi sumber
luka.
Pernahkah kamu
merasa menyesal setelah memposting sesuatu di media sosial? Yuk, tulis
pengalamanmu di kolom komentar agar kita bisa saling belajar menjaga adab
digital.

