Dalam Islam, hubungan persaudaraan bukan sekadar ikatan
darah atau pertemanan, tapi bagian dari iman. Bahkan Nabi Muhammad SAW
menegaskan bahwa seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Karena itu,
ada hal-hal yang harus dihindari agar ukhuwah tetap terjaga, dimulai dari cara
berpikir hingga sikap sehari-hari.
Pertama, pola pikir buruk (su’uzhan)
Berburuk sangka kepada saudara sendiri adalah racun dalam
hubungan. Sedikit kesalahan langsung ditafsirkan negatif. Padahal Islam
mengajarkan husnuzhan, yaitu berbaik sangka. Karena seringkali masalah besar
berawal dari prasangka kecil yang tidak diklarifikasi.
Kedua, merasa diri paling benar dan paling baik
Sikap ini melahirkan kesombongan halus. Dalam pandangan
Islam, kesombongan (kibr) sangat berbahaya karena menutup hati dari kebenaran.
Ketika seseorang selalu merasa benar, ia sulit menerima nasihat, dan akhirnya
merusak hubungan persaudaraan.
Ketiga, iri hati dan dengki (hasad)
Melihat saudara mendapat nikmat lalu berharap nikmat itu
hilang adalah penyakit hati yang serius. Hasad tidak hanya merusak hati
sendiri, tapi juga perlahan merusak hubungan. Islam justru mengajarkan untuk
ikut bahagia atas kebaikan orang lain.
Keempat, ghibah dan membuka aib
Membicarakan keburukan saudara di belakangnya, walaupun
benar, tetap dilarang. Apalagi jika sampai menyebarkan aib. Ini menghancurkan
kepercayaan dan kehormatan. Dalam Islam, menjaga kehormatan saudara itu bagian
dari menjaga kehormatan diri sendiri.
Kelima, mudah marah dan tidak bisa menahan emosi
Marah yang tidak terkontrol sering melahirkan ucapan yang
menyakitkan. Banyak persaudaraan hancur bukan karena masalah besar, tapi karena
kata-kata yang tidak dijaga. Islam sangat menekankan pengendalian diri sebagai
tanda kekuatan sejati.
Keenam, tidak peduli dan cuek terhadap saudara
Persaudaraan bukan hanya tidak menyakiti, tapi juga peduli.
Mengabaikan, tidak membantu saat dibutuhkan, atau bersikap dingin adalah bentuk
kerusakan hubungan yang sering tidak disadari.
Ketujuh, suka membanding-bandingkan
Membandingkan diri atau saudara dengan orang lain bisa
menimbulkan rasa tidak nyaman, iri, bahkan rendah diri. Islam mengajarkan untuk
melihat ke bawah dalam urusan dunia agar lebih bersyukur.
Kedelapan, tidak mau memaafkan
Menahan dendam hanya memperpanjang luka. Dalam Islam,
memaafkan bukan tanda lemah, tapi tanda kelapangan hati. Bahkan memaafkan bisa
menjadi sebab datangnya kemuliaan dari Allah.
Kesembilan, berkata kasar atau merendahkan
Ucapan yang menyakitkan, meremehkan, atau mempermalukan
orang lain adalah hal yang sangat dilarang. Lisan adalah cermin hati. Jika
tidak dijaga, ia bisa merusak hubungan yang sudah dibangun lama.
Kesepuluh, menjauh dari nilai kejujuran dan amanah
Berbohong, mengkhianati kepercayaan, atau tidak menepati
janji akan menghancurkan fondasi persaudaraan. Kejujuran adalah dasar utama
dalam hubungan apa pun dalam Islam.
Pada akhirnya, menjaga persaudaraan dalam Islam bukan hanya
soal “tidak bermusuhan”, tapi bagaimana menghadirkan hati yang bersih, pikiran
yang jernih, dan sikap yang penuh adab.
Kalau diringkas, yang harus dihindari bukan hanya tindakan
buruk, tapi juga akar dalam hati dan cara berpikirnya. Karena dari situlah
semua sikap bermula.
