Aku menulis ini bukan sebagai seseorang yang sudah baik,
tetapi sebagai seseorang yang sedang merasa jauh.
Jauh dari ketenangan.
Jauh dari keikhlasan.
Dan mungkin… jauh dari cinta yang seharusnya paling aku jaga:
cinta kepada Nabiku, Nabi Muhammad.
Ada saat-saat aku berhenti dan bertanya pada diri sendiri:
Apakah selupa ini aku pada Nabiku?
Padahal beliau mengenalku sebagai umatnya,
bahkan sebelum aku mengenal beliau.
Aku yang Penuh Dosa, Tapi Masih Ingin Kembali
Aku sadar, langkahku tidak selalu lurus.
Ada banyak khilaf yang aku ulang.
Ada waktu-waktu di mana aku lebih memilih dunia,
daripada mengingat Allah dan Rasul-Nya.
Namun di dalam Al-Qur'an, aku menemukan harapan itu tidak pernah
benar-benar hilang.
Bahwa sebesar apa pun dosa,
pintu kembali tetap terbuka.
Dan di situlah aku berdiri hari ini—
bukan sebagai hamba yang suci,
tetapi sebagai hamba yang ingin pulang.
Rindu yang Belum Sempurna
Aku ingin mencintai Nabi seperti para sahabat mencintainya.
Yang rela berkorban, yang selalu merindukan, yang meneladani tanpa
ragu.
Namun aku jujur—
cintaku masih lemah.
Shalawatku kadang terputus.
Sunnahnya sering aku abaikan.
Namanya jarang hadir dalam doaku.
Tapi justru dari kesadaran itu,
aku ingin memulai.
Aku Ingin Syafaat Itu…
Di hari di mana tidak ada lagi pertolongan,
aku tahu ada satu harapan besar: syafaat dari Nabi Muhammad.
Namun aku juga sadar,
syafaat itu bukan untuk mereka yang tidak peduli.
Ia untuk mereka yang berusaha mencintai.
Ia untuk mereka yang berusaha mengikuti.
Ia untuk mereka yang, meski penuh dosa, tetap ingin dekat.
Dan aku ingin menjadi bagian dari itu.
Langkah Kecilku Menuju Cinta yang Lebih Besar
Aku tidak ingin menunggu menjadi sempurna.
Aku hanya ingin mulai.
melafazkan shalawat, meski sedikit
membaca Al-Qur'an, meski satu ayat
berdzikir, meski dalam lelah
belajar tentang kehidupan Rasul, meski perlahan
Karena aku percaya,
cinta tidak datang tiba-tiba—
ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga.
Takwa dan Cinta: Jalan yang Ingin Aku Pilih
Aku ingin mendekat, bukan karena takut semata,
tetapi juga karena cinta.
Takwa membuatku berhati-hati.
Cinta membuatku bertahan.
Dan ketika keduanya bertemu,
aku yakin langkahku akan lebih kuat.
Harapan Itu Masih Ada
Mungkin aku terlambat.
Mungkin aku terlalu sering jatuh.
Tapi aku tidak ingin berhenti berharap.
Karena selama aku masih mau kembali,
selama aku masih ingin memperbaiki diri,
selama aku masih menyebut nama Nabi Muhammad dengan hati yang
rindu—
maka harapan itu masih ada.
Penutup: Ini Awal, Bukan Akhir
Hari ini aku mengakui: aku jauh.
Tapi hari ini juga aku memutuskan: aku ingin dekat.
Bukan dengan langkah besar yang sempurna,
tetapi dengan langkah kecil yang istiqamah.
Semoga suatu hari nanti,
aku tidak lagi bertanya “apakah aku lupa?”
melainkan bisa berkata:
“Ya Rasulullah, aku berusaha mencintaimu… meski tertatih.”
Dan semoga, dengan rahmat Allah,
aku termasuk yang mendapatkan syafaatmu.
Aamiin.
