Rezeki kita memang sudah diatur oleh Allah, jauh sebelum kita
lahir. Tidak akan tertukar, tidak akan tertinggal. Apa yang menjadi bagian
kita, pasti sampai—cepat atau lambat, dengan cara yang sering kali tak kita
duga.
Namun
perlu diingat, takdir rezeki tidak berarti
kita boleh diam. Ikhtiar adalah bentuk ketaatan. Bekerja, belajar,
berusaha dengan jujur—itu semua bagian dari jalan rezeki. Allah mengatur hasilnya, tapi kita diminta menempuh jalannya.
Kadang
rezeki tidak datang dalam bentuk uang. Ia hadir sebagai kesehatan, ketenangan
hati, ilmu yang bermanfaat, orang-orang baik di sekitar kita, atau kesempatan
untuk memperbaiki diri. Dan sering kali, justru rezeki seperti inilah yang
paling mahal nilainya.
Maka tugas kita bukan iri pada rezeki
orang lain, tapi mensyukuri yang ada,
menjemput yang belum, dan percaya bahwa Allah tidak pernah salah
memberi.
Apa yang kita kejar dengan cara yang baik, insyaAllah akan sampai dengan cara
yang baik pula.
