Setinggi apa pun kita melangkah, sejauh apa pun kita pergi, di mata orang tua kita tetaplah anak kecil. Anak yang dulu digendong saat menangis, dituntun saat jatuh, dan didoakan diam-diam setiap malam.
Usia boleh bertambah, tanggung jawab boleh menumpuk, tapi di hadapan ayah dan ibu, kita tetap anak yang mereka khawatirkan. Saat kita pulang terlambat, mereka cemas. Saat kita lelah, mereka bertanya, “Kamu kenapa?” meski kita sudah pandai menyembunyikannya.
Kadang kita merasa sudah dewasa, ingin menentukan segalanya sendiri. Lalu menganggap nasihat orang tua sebagai campur tangan. Padahal, yang mereka berikan bukan kontrol, melainkan cinta yang takut kehilangan. Bukan karena kita lemah, tapi karena mereka terlalu sayang.
Islam mengajarkan adab yang indah kepada orang tua. Bukan sekadar taat, tapi lembut. Bukan hanya patuh, tapi rendah hati. Sebab di hadapan mereka, kedewasaan kita tak pernah menghapus status kita sebagai anak.
Suatu hari nanti, ketika suara mereka melemah dan langkah mereka melambat, kita akan sadar: menjadi “anak kecil” di mata orang tua adalah anugerah. Tidak semua orang masih punya tempat untuk pulang dan dimanjakan oleh doa.
Maka selama mereka masih ada, jangan gengsi untuk bersikap sebagai anak. Mendengar, menghormati, dan memeluk mereka karena di dunia yang sering keras, cinta orang tua adalah kelembutan yang paling tulus.
