Bahagia dengan Cukup, Tenang dengan Taat

 


Banyak orang mengejar bahagia dengan menumpuk keinginan, padahal hati justru lelah karena tak pernah merasa cukup. Dalam Islam, bahagia bukan soal memiliki segalanya, tetapi mampu mensyukuri apa yang ada. Cukup bukan berarti kekurangan, melainkan merasa aman dengan rezeki yang Allah tetapkan.

Ketika hati belajar cukup, hidup menjadi lebih ringan. Kita tak mudah iri, tak sibuk membandingkan, dan tak tertekan oleh standar dunia. Rasa cukup melahirkan syukur, dan syukur membuka pintu ketenangan yang tak bisa dibeli oleh apa pun.

Sementara itu, ketaatan adalah sumber tenang yang paling dalam. Hati yang dekat dengan Allah tak mudah goyah oleh keadaan. Meski hidup sederhana, jiwa terasa lapang karena tahu ke mana harus kembali. Taat menjaga hati tetap hidup, meski dunia sering membuatnya penat.

Bahagia dengan cukup, tenang dengan taat—itulah jalan hidup yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan kedamaian yang nyata. Sebab ketenangan sejati lahir bukan dari banyaknya yang dimiliki, melainkan dari kuatnya hubungan dengan Allah.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama