Doa yang Tidak Pernah Tertolak

 


Ia anak kampung biasa. Bapaknya buruh harian, ibunya penjual kue keliling. Setiap sore, ia duduk di serambi masjid, menatap santri-santri yang pulang mengaji dengan kitab di tangan. Hatinya ingin mondok, tapi dompet orang tuanya selalu menjawab lebih dulu: tidak mampu.

Formulir pendaftaran pesantren hanya tersimpan rapi di laci. Bukan karena malas, tapi karena biaya masuk terasa seperti tembok tinggi. Ia tak marah pada keadaan. Ia hanya belajar menundukkan kepala, lalu berdoa lebih lama dari biasanya.

Suatu hari, seorang kiai datang ke desanya. Mendengar kisah anak itu, sang kiai berkata pelan,
“Ilmu tidak pernah menolak orang yang sungguh-sungguh mencarinya.”

Anak itu diterima mondok dengan keringanan penuh. Tanpa kamar mewah, tanpa uang saku lebih. Hanya niat, adab, dan tekad. Ia menyapu pesantren setiap pagi, menjaga wudu setiap waktu, dan menabung harapan di setiap sujud.

Tahun-tahun berlalu. Anak itu paham satu hal:
bukan biaya yang menentukan jalan ilmu,
tetapi kesabaran dan doa yang tidak putus.

Sebab dalam Islam,
jika langkah tertahan oleh dunia,
Allah sering membuka jalan dari langit.

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama