Social Items

BIOGRAFI KH. YUSUF ZUHRI


KH. Yusuf Zufri lahir pada tahun 1920-an dari pasangan KH. Zuhri dan ibu Fatma. Keduanya berasal dari Desa Lebak Kecamatan Sangkapura Bawean. Pendidikannya dimulai dari lingkungan keluarga sendiri. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta. Kurang lebih 3 tahun, beliau berhasil menghafalkan Al Qur’an 30 juz. Karena kecerdasnnya, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, KH. Munawwir, sering mengajaknya ke berbagai acara keagamaan.

Setelah itu. KH. Yusuf Zuhri melanjutkan ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Di tempat ini, beliau menghabiskan waktu 7 tahun. Beliau masih bertemu dengan KH. Hasan Jufri saat menjadi santri di Sidogiri.

 Sepulang dari Pondok Pesantren Sidogiri, beliau menikahi seorang gadis dari Desa Lebak yang bernama Muthiyah.

Muthiyah adalah keponakan KH. Hasan Jufri. Dari pernikahan ini, lahir 11 putra putri. Mereka adalah : KH. Mun’im (alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dan tinggal di Desa Lebak), KH. Hazin (alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Krapyak dan Tegal Rejo, tinggal di Jogyakarta), KH. Siraj (alumni pondok Pesantren Tebu Ireng dan Krapyak, menetap di Dusun gunung Lanjang Desa BuluLanjang), Mahmiyah (menetap di Malaysia), KH. Ghufran (alumni Pondok Pesantren Krapyak dan Universitas Umm Al Qura’ Saudi Arab’ia. Kini menetap di Australia), KH. Bajuri (alumni Pondok Pesantren Krapyak, Dar al Hadits Saudi Arabi’a dan Universitas Baghdad. Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri), HJ. Nur Laili (Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri), Maria Ulfa (menetap di Malaysia), KH. Zen (kini menetap di Selangor Malaysia), Hanifah (menetap di Kebunagung Lebak), dan HJ. Fatmawati (alumni IAIN Jogjakarta. Menetap di Purwokorto Jawa Tengah). Kesebelas putra putri tersebut mengabdikan dirinya di masyarakat. Mayoritas dibidang pendidikan dan pondok pesantren. Saat ini, tinggal dua yang masih hidup, yaitu : KH. Ghufron dan HJ. Fatmawati.


Saat KH. Hasan Jufri masih menjadi pengasuh, KH. Yusuf Zuhri sudah membantu mengajar. Beliau juga berdagang kain dan sembako di Pulau Jawa, Riau bahkan Singapura. Setelah menggantikan KH. Hasan Jufri, beliau meneruskan usaha-usaha yang telah dirintis pendahulunya. Beliau memperluas bangunan tempat pengajian. Dalam Mengajar, beliau dibantu oleh santri senior, yaitu : Mihdar, Mahin, Mukhtar, Asraf, Subadar.


Pada masa kepengasuhan KH. Yusuf Zuhri ini terjadi penurunan jumlah santri. Jika di masa KH. Hasan Jufri santrinya dari seluruh Bawean, kini hanya dari sekitar Desa Lebak. Hal ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu: Pertama, kesibukan KH. Yusuf Zuhri dalam berdagang sehingga sering kali meninggalkan pesantren. Kedua, KH. Yusuf Zuhri fokus dipengajian Al Qur’an dibanding ilmu-ilmu agama yang lain. Ketiga, pengajian mingguan untuk masyarakat juga ditiadakan.

Setelah kurang lebih 40 tahun mengasuh pondok pesantren, KH. Yusuf Zuhri meninggal dunia, tepatnya tahun 1981. Kepengasuhan pondok pesantren digantikan oleh putranya yang keenam, yakni KH. Bajuri Yusuf. Di era kepemimpinan KH. Bajuri Yusuf inilah, Pondok pesantren hasan jufri mengalami perkembangan pesat. Beliau yang memberi nama “Hasan Jufri” dengan maksud menghormati perintis pondok pesantren pertama di Dusun Kebunagung. KH. Bajuri Yusuf adalah cucu keponakan dari KH. Hasan Jufri.

Sumber : Pesantren Hasan Jufri Dari Masa Kemasa

As Shodiq


Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri 2

BIOGRAFI KH. YUSUF ZUHRI


KH. Yusuf Zufri lahir pada tahun 1920-an dari pasangan KH. Zuhri dan ibu Fatma. Keduanya berasal dari Desa Lebak Kecamatan Sangkapura Bawean. Pendidikannya dimulai dari lingkungan keluarga sendiri. Setelah itu, beliau melanjutkan pendidikannya ke pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta. Kurang lebih 3 tahun, beliau berhasil menghafalkan Al Qur’an 30 juz. Karena kecerdasnnya, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, KH. Munawwir, sering mengajaknya ke berbagai acara keagamaan.

Setelah itu. KH. Yusuf Zuhri melanjutkan ke Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan, Di tempat ini, beliau menghabiskan waktu 7 tahun. Beliau masih bertemu dengan KH. Hasan Jufri saat menjadi santri di Sidogiri.

 Sepulang dari Pondok Pesantren Sidogiri, beliau menikahi seorang gadis dari Desa Lebak yang bernama Muthiyah.

Muthiyah adalah keponakan KH. Hasan Jufri. Dari pernikahan ini, lahir 11 putra putri. Mereka adalah : KH. Mun’im (alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang dan tinggal di Desa Lebak), KH. Hazin (alumni Pondok Pesantren Tebu Ireng, Krapyak dan Tegal Rejo, tinggal di Jogyakarta), KH. Siraj (alumni pondok Pesantren Tebu Ireng dan Krapyak, menetap di Dusun gunung Lanjang Desa BuluLanjang), Mahmiyah (menetap di Malaysia), KH. Ghufran (alumni Pondok Pesantren Krapyak dan Universitas Umm Al Qura’ Saudi Arab’ia. Kini menetap di Australia), KH. Bajuri (alumni Pondok Pesantren Krapyak, Dar al Hadits Saudi Arabi’a dan Universitas Baghdad. Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri), HJ. Nur Laili (Pengasuh Pondok Pesantren Hasan Jufri Putri), Maria Ulfa (menetap di Malaysia), KH. Zen (kini menetap di Selangor Malaysia), Hanifah (menetap di Kebunagung Lebak), dan HJ. Fatmawati (alumni IAIN Jogjakarta. Menetap di Purwokorto Jawa Tengah). Kesebelas putra putri tersebut mengabdikan dirinya di masyarakat. Mayoritas dibidang pendidikan dan pondok pesantren. Saat ini, tinggal dua yang masih hidup, yaitu : KH. Ghufron dan HJ. Fatmawati.


Saat KH. Hasan Jufri masih menjadi pengasuh, KH. Yusuf Zuhri sudah membantu mengajar. Beliau juga berdagang kain dan sembako di Pulau Jawa, Riau bahkan Singapura. Setelah menggantikan KH. Hasan Jufri, beliau meneruskan usaha-usaha yang telah dirintis pendahulunya. Beliau memperluas bangunan tempat pengajian. Dalam Mengajar, beliau dibantu oleh santri senior, yaitu : Mihdar, Mahin, Mukhtar, Asraf, Subadar.


Pada masa kepengasuhan KH. Yusuf Zuhri ini terjadi penurunan jumlah santri. Jika di masa KH. Hasan Jufri santrinya dari seluruh Bawean, kini hanya dari sekitar Desa Lebak. Hal ini disebabkan oleh tiga hal, yaitu: Pertama, kesibukan KH. Yusuf Zuhri dalam berdagang sehingga sering kali meninggalkan pesantren. Kedua, KH. Yusuf Zuhri fokus dipengajian Al Qur’an dibanding ilmu-ilmu agama yang lain. Ketiga, pengajian mingguan untuk masyarakat juga ditiadakan.

Setelah kurang lebih 40 tahun mengasuh pondok pesantren, KH. Yusuf Zuhri meninggal dunia, tepatnya tahun 1981. Kepengasuhan pondok pesantren digantikan oleh putranya yang keenam, yakni KH. Bajuri Yusuf. Di era kepemimpinan KH. Bajuri Yusuf inilah, Pondok pesantren hasan jufri mengalami perkembangan pesat. Beliau yang memberi nama “Hasan Jufri” dengan maksud menghormati perintis pondok pesantren pertama di Dusun Kebunagung. KH. Bajuri Yusuf adalah cucu keponakan dari KH. Hasan Jufri.

Sumber : Pesantren Hasan Jufri Dari Masa Kemasa

As Shodiq


No comments