Social Items


Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik manusia dalam penciptaan dan budi pekerti dan orang yang paling suka memberi petunjuk ke jalan yang benar. Budi pekertinya adalah Al-Qur’an, tabiatnya adalah pengampunan, pemberi nasehat kepada manusia, dan gemar berbuat baik.

 

Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna bentuk tubuhnya, perangainya. memiliki tubuh dan sifat-sifatnya yang luhur. Jika sedang gembira, wajahnya bagaikan belahan rembulan. Apabila beliau tersenyum, senyumnya sesejuk butiran air embun. Dan bila beliau berbicara, seakan Mutiara berjatuhan dari ucapannya.

 

Pada punggung beliau terdapat tanda kenabian. Bila berjalan senantiasa terlindung awan yang siap mematuhi perintahnya. Kedua pelipisnya cemerlang bercahaya. Rambutnya sepekat malam gulita. Hidungnya mancung bagaikan alif. Bulat mulutnya laksana huruf mim, dan lenkung keningnya laksana huruf nun.

 

Kesempurnaan bentuk tubuh, budi pekerti dan sifat-sifatnya yang luhur membuat Rosulullah di senangi, di cintai dan dijadikan teladan oleh para sahabat, tabi’in dan orang setelahnya. Cinta dan kasih sayang para sahabat pada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka. Karena para sahabat paling mengetahui kedudukan Rasulullah dan sejaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar.

 

Hal ini terbukti saat orang Badui datang menemuinya untuk bertanya tentang kapan datangnya hari kiamat. Ini sesuai dalam keterangan hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

 

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺃﻋﺮاﺑﻴﺎ، ﻗﺎﻝ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺘﻰ اﻟﺴﺎﻋﺔ؟ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” ﻣﺎ ﺃﻋﺪﺩﺕ ﻟﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: ﺣﺐ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻗﺎﻝ: ﺃﻧﺖ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺒﺒﺖ. رواه مسلم

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya seorang badui bertanya kepada Rasulullah Saw tentang hari kiamat. Lantas beliau menjawab: “Bekal apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya? kemudian orang banyak tadi menjawab:”cinta kepada Allah dan Rasulnya. Rasulullah Saw bersabda:”Kamu akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai. (HR. Muslim). Orang tersebut berlalu dengan gembira.

 

Sahabat Anas bin Malik yang saat itu hadir dalam perbincangan tersebut dan meriwayatkan kisah ini berkata, “Tidaklah kami bergembira seperti gembiranya kami mendengar sabda Nabi SAW yang sangat singkat tersebut, yakni: ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.”

 

Dan diantara Kisah yang sangat mengharukan tentang sahabat Rasul, Bilal bin Rabah, seorang berkulit hitam dari Habasyah yang memiliki suara merdu. Konon, semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal RA menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan azan lagi.

 

Ketika Khalifah Abu Bakar RA memintanya untuk menjadi muazin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, Biarkan aku hanya menjadi muazinnya Rasulullah. Rasulullah telah tiada maka aku bukan muazin siapa-siapa lagi.

 

Maka, Abu Bakar pun tak kuasa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan azan. Abu Bakar RA sangat memahami perasaan yang berkecamuk dalam hati Bilal sepeninggal Rasul, orang yang paling dicintainya itu.

 

Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah. Dia ikut pasukan Fath Islami menuju Syam, kemudian tinggal di Homs, Suriah.

 

Lama sekali Bilal tak mengunjungi Madinah. Sampai pada suatu malam Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal dan menegurnya, Hai, Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? (Ya, Bilal, wa maa hadzal jafa?) Mengapa sampai seperti ini? Bilal pun bangun terperanjat. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.

 

Setiba di Madinah, di depan makam Rasul yang mulia itu, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. Saat itu dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein.

 

Dengan mata sembap oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut. Salah seorang dari keduanya berkata kepada Bilal, Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.

 

Ketika itu Umar bin Khattab RA yang telah menjadi khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu. Beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan azan meski sekali saja.

 

Bilal pun memenuhi permintaan itu untuk mengenang Rasulullah SAW. Maka, saat waktu shalat tiba, dia naik ke tempat dahulu biasa dia azan pada masa Rasulullah masih hidup.

 

Mulailah dia mengumandangkan azan. Saat lafaz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala aktivitas terhenti. Semua terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

 

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu allaa Ilaha illalLaah, seluruh isi Kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak. Bahkan, para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Sebab, dahulu setiap ada suara seperti itu pasti ada Rasulullah SAW di masjid.

 

Mereka berlarian ke masjid karena kerinduan yang membara ingin berjumpa dengan Rasul yang telah sekian lama hilang dari pandangan mereka. Begitu suara azan Bilal terdengar, banyak yang tidak sadar bahwa Rasulullah telah wafat.

 

Saat Bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya.

 

Bahkan, Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan azannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu Madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah di antara mereka.

 

Hari itu adalah azan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Azan yang tidak bisa diselesaikan karena isakan tangis rindu kepada sosok Rasulullah SAW.

 

Dari kisah diatas, dapat kita simpulkan bahwa kelak pada hari kiamat seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai. Bila ia mencintai Rasulullah maka kelak akan dikumpulkan dengannya. Begitu juga seseorang yang mengidolakan artis pujaannya kelak akan dikumpulkan bersama orang yang ia kagumi. Maka dari itu, sangatlah beruntung sekali orang yang cinta Rasulullah, sahabatnya, ulama sebagai pewarisnya, dan keturunan Rosulullah SAW.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda ;

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

 

Artinya : “Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.”

 

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ

 

 

HAFI MULTIMEDIA

Cintanya Sahabat pada Rasulullah SAW


Nabi Muhammad SAW adalah sebaik-baik manusia dalam penciptaan dan budi pekerti dan orang yang paling suka memberi petunjuk ke jalan yang benar. Budi pekertinya adalah Al-Qur’an, tabiatnya adalah pengampunan, pemberi nasehat kepada manusia, dan gemar berbuat baik.

 

Rasulullah adalah manusia yang paling sempurna bentuk tubuhnya, perangainya. memiliki tubuh dan sifat-sifatnya yang luhur. Jika sedang gembira, wajahnya bagaikan belahan rembulan. Apabila beliau tersenyum, senyumnya sesejuk butiran air embun. Dan bila beliau berbicara, seakan Mutiara berjatuhan dari ucapannya.

 

Pada punggung beliau terdapat tanda kenabian. Bila berjalan senantiasa terlindung awan yang siap mematuhi perintahnya. Kedua pelipisnya cemerlang bercahaya. Rambutnya sepekat malam gulita. Hidungnya mancung bagaikan alif. Bulat mulutnya laksana huruf mim, dan lenkung keningnya laksana huruf nun.

 

Kesempurnaan bentuk tubuh, budi pekerti dan sifat-sifatnya yang luhur membuat Rosulullah di senangi, di cintai dan dijadikan teladan oleh para sahabat, tabi’in dan orang setelahnya. Cinta dan kasih sayang para sahabat pada Beliau jauh lebih besar dan lebih dalam dibandingkan kecintaan orang-orang yang datang sesudah mereka. Karena para sahabat paling mengetahui kedudukan Rasulullah dan sejaman dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak mengherankan jika cinta mereka kepada Beliau jauh lebih besar.

 

Hal ini terbukti saat orang Badui datang menemuinya untuk bertanya tentang kapan datangnya hari kiamat. Ini sesuai dalam keterangan hadis Nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Muslim :

 

ﻋﻦ ﺃﻧﺲ ﺑﻦ ﻣﺎﻟﻚ، ﺃﻥ ﺃﻋﺮاﺑﻴﺎ، ﻗﺎﻝ ﻟﺮﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻣﺘﻰ اﻟﺴﺎﻋﺔ؟ ﻗﺎﻝ ﻟﻪ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ” ﻣﺎ ﺃﻋﺪﺩﺕ ﻟﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: ﺣﺐ اﻟﻠﻪ ﻭﺭﺳﻮﻟﻪ، ﻗﺎﻝ: ﺃﻧﺖ ﻣﻊ ﻣﻦ ﺃﺣﺒﺒﺖ. رواه مسلم

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwasanya seorang badui bertanya kepada Rasulullah Saw tentang hari kiamat. Lantas beliau menjawab: “Bekal apa yang kamu siapkan untuk menghadapinya? kemudian orang banyak tadi menjawab:”cinta kepada Allah dan Rasulnya. Rasulullah Saw bersabda:”Kamu akan bersama-sama dengan orang yang kamu cintai. (HR. Muslim). Orang tersebut berlalu dengan gembira.

 

Sahabat Anas bin Malik yang saat itu hadir dalam perbincangan tersebut dan meriwayatkan kisah ini berkata, “Tidaklah kami bergembira seperti gembiranya kami mendengar sabda Nabi SAW yang sangat singkat tersebut, yakni: ‘Kamu bersama orang yang kamu cintai’.”

 

Dan diantara Kisah yang sangat mengharukan tentang sahabat Rasul, Bilal bin Rabah, seorang berkulit hitam dari Habasyah yang memiliki suara merdu. Konon, semenjak Rasulullah SAW wafat, Bilal RA menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan azan lagi.

 

Ketika Khalifah Abu Bakar RA memintanya untuk menjadi muazin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata, Biarkan aku hanya menjadi muazinnya Rasulullah. Rasulullah telah tiada maka aku bukan muazin siapa-siapa lagi.

 

Maka, Abu Bakar pun tak kuasa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan azan. Abu Bakar RA sangat memahami perasaan yang berkecamuk dalam hati Bilal sepeninggal Rasul, orang yang paling dicintainya itu.

 

Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah. Dia ikut pasukan Fath Islami menuju Syam, kemudian tinggal di Homs, Suriah.

 

Lama sekali Bilal tak mengunjungi Madinah. Sampai pada suatu malam Rasulullah SAW hadir dalam mimpi Bilal dan menegurnya, Hai, Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? (Ya, Bilal, wa maa hadzal jafa?) Mengapa sampai seperti ini? Bilal pun bangun terperanjat. Segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah SAW. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.

 

Setiba di Madinah, di depan makam Rasul yang mulia itu, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih. Saat itu dua pemuda yang telah beranjak dewasa mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah SAW, Hasan dan Husein.

 

Dengan mata sembap oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut. Salah seorang dari keduanya berkata kepada Bilal, Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan azan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.

 

Ketika itu Umar bin Khattab RA yang telah menjadi khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu. Beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan azan meski sekali saja.

 

Bilal pun memenuhi permintaan itu untuk mengenang Rasulullah SAW. Maka, saat waktu shalat tiba, dia naik ke tempat dahulu biasa dia azan pada masa Rasulullah masih hidup.

 

Mulailah dia mengumandangkan azan. Saat lafaz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap. Segala aktivitas terhenti. Semua terkejut. Suara yang telah bertahun-tahun hilang, suara yang mengingatkan pada sosok agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

 

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu allaa Ilaha illalLaah, seluruh isi Kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak. Bahkan, para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Sebab, dahulu setiap ada suara seperti itu pasti ada Rasulullah SAW di masjid.

 

Mereka berlarian ke masjid karena kerinduan yang membara ingin berjumpa dengan Rasul yang telah sekian lama hilang dari pandangan mereka. Begitu suara azan Bilal terdengar, banyak yang tidak sadar bahwa Rasulullah telah wafat.

 

Saat Bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah. Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya.

 

Bahkan, Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan azannya. Lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu Madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah di antara mereka.

 

Hari itu adalah azan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Azan yang tidak bisa diselesaikan karena isakan tangis rindu kepada sosok Rasulullah SAW.

 

Dari kisah diatas, dapat kita simpulkan bahwa kelak pada hari kiamat seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai. Bila ia mencintai Rasulullah maka kelak akan dikumpulkan dengannya. Begitu juga seseorang yang mengidolakan artis pujaannya kelak akan dikumpulkan bersama orang yang ia kagumi. Maka dari itu, sangatlah beruntung sekali orang yang cinta Rasulullah, sahabatnya, ulama sebagai pewarisnya, dan keturunan Rosulullah SAW.

 

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda ;

أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي

 

Artinya : “Cintailah Allah karena nikmat yang diberikan kepada kalian cintailah aku karena kecintaan (kalian) kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan (kalian) kepadaku.”

 

ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ

 

 

HAFI MULTIMEDIA

No comments