Hasan Jufri - Menjelang haul beliau, saya ingin menceritakan tentang beliau KH Ali Maksum dari kisah ayahanda almarhum H.Nadhir Muhammad yang menyantri kepada beliau kurang lebih tujuh tahun lamanya. Semoga saja cerita ini bisa menurunkan Rahmat Allah bagi kita dan semoga juga Allah memberi kita kebaikan sebagaimana Allah telah memberi KH Ali Maksum kebaikan.

Pertama; KH Ali Maksum adalah kiai yang dermawan. Cerita ini sering disampaikan oleh ayahanda sambil berkaca kaca. Maklum, ayahanda yatim sejak umur tiga tahun. Ketika kuliah semester tiga di IAIN Sunan Kalijaga, ayahanda tidak memiliki dana untuk biaya tinggal di pondok. Hingga ayahanda dipanggil oleh salah seorang pimpinan pesantren dan diperingati dengan keras supaya membayar biaya mondok. Pulang ke kamar sambil menangis karena merasa beratnya menjadi orang tidak punya, KH Ali Maksum pun mendengar lalu menegur dengan tegas kepada pimpinan pesantren tersebut; "Nadhir selama mondok di sini adalah tanggunganku. Makan dan semua adalah tanggunganku". Itulah KH Ali Maksum, beliau mendirikan lembaga pendidikan untuk memberi dan bukan untuk menerima.

Kedua; KH Ali Maksum adalah kiai yang santun dalam memberi nasihat. Sudah menjadi kebiasaan ayahanda sering memijat KH Ali Maksum sambil beliau tidur tiduran. Satu saat, karena hubungan yang teramat dekat, dan sudah seperti dianggap anak sendiri, sambil memijat kiai ali yang sedang memejamkan mata, ayahanda mengambil rokok dari kiai Ali Maksum. Sambil tetap memejamkan mata, Kiai Ali Maksum berkata "ojok ake ake yo cung jepe'e (jangan banyak banyak ya ngambilnya).

Ketiga; KH Ali Maksum adalah Kiainya para putra putra kiai. Di Krapyak, hampir semua putera kiai tanah Jawa belajar di sana. Dari Jawa Barat ada putera kiai Aqil, gus Said Aqil Siraj. Dari Jawa Tengah ada putera kiai Bisri mustofa, gus mus. Dari Jawa Timur ada putra kiai Wahid Hasyim, gus dur. Ada juga putera Waliyullah KH Abdul Hamid pasuruan, gus nu'man dan gus idris. Dan masih banyak lagi. Ini semua menandakan bahwa para kiai mengakui bahwa KH Ali Maksum adalah seorang Kiai yang memang menduduki maqam sebagai mu'allim dan murabbi.

Keempat; KH Ali Maksum adalah kiai yang sakti. Mungkin banyak orang tidak mengerti hal ini karena tertutupi oleh ke'aliman beliau dalam masalah agama. Suatu saat, ada seorang santri dari gresik yang juga putera kiai, senang terbang hingga setinggi pucuk pohon kelapa lalu mengambil pohon kelapa. Setelah itu dibukanya kelapa dengan digigit sebegitu mudahnya. Mengetahui hal ini kiai Ali Maksum menasehati supaya fokus untuk menuntut ilmu agama terlebih dahulu. Mengetahui reaksi santri kurang begitu terima, maka kiai Ali Maksum mengambil besi panjang dan tebal lalu meminta santri itu untuk membengkokannya. Sang santri menyerah, lalu Kiai Ali Maksum dengan mudahnya melipat besi yang tebal dan panjang itu hingga melingkar. Mengetahui itu sang santri pun langsung malu dan kembali fokus mendalami ilmu ilmu agama.

Kelima; KH Ali Maksum adalah kiai yang humoris. Suatu saat kiai Maksum (ayah kiai ali) mengunjungi krapyak, lalu mengetahui ayahanda yang mondok di krapyak, beliau kiai maksum berkata "ngapain mondok di ali krapyak, masih lebih barokah mondok di aku" ayahanda hanya bisa terdiam. Lalu kiai Ali pun menjawab dan berkata pada ayahanda "Kalau barokah, memang bapak lebih barokah, tapi kalau ngalim, masih lebih ngaliman aku". seketika suasana pun cair dan semua tertawa.

Keenam; KH Ali Maksum adalah kiai yang sangat rendah hati. Diceritakan ketika kiai Ali ditunjuk menjadi Rais 'Am, sambil menangis beliau menerima permohonan para kiai saat itu dengan syarat hanya satu periode saja. Dan ketika KH Ali Maksum telah selesai mengemban amanat, maka beliau mengumpulkan santri santri krapyak dan makan bersama sama sebagai rasa syukur karena tidak lagi menjabat sebagai Rai 'Am.

Ketujuh; ini termasuk yang sering diceritakan ayahanda dan memiliki nuansa tersendiri. Ketika ayahanda telah selesai menyantri, maka ayahanda pun pamit pada beliau. Dan yang mengherankan, KH Ali Maksum mengambil kitab ahkam sulthaniyah karangan Imam Mawardi. Kitab yang membahas Fikih Negara dalam Islam. Lalu KH Ali Maksum memberikan pada ayahanda sambil berkata "bacalah kitab ini, karena suatu saat kamu nanti akan membutuhkan kitab ini". Ayahanda tidak tahu apa maksudnya saat itu. Sampai ketika ayahanda sudah berkeluarga, mulai dari tahun 82 hingga tahun 2004, dengan izin dari Waliyullah KH Abdul Hamid Pasuruan, Allah mentakdirkan ayahanda untuk berjuang di politik melalui DPR dari tingkat kabupaten hingga pusat. Sehingga suatu saat ayahanda berkata pada kami "KH Ali Maksum adalah Kiai yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi.

Kiai Ali, masih banyak cerita tentang kiai Ali, tapi biarlah Allah saja kelak yang akan menunjukkan di akhirat nanti bahwa Kiai Ali adalah memang kiai yang Allah cintai.

الى الشيخ على معصوم رحمه الله الفاتحة

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين
الرحمن الرحيم
مالك يوم الدين
اياك نعبدواياك نستعين
اهدناالصراط المستقيم
صراط الذين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولاالضالين
آمين يا الله

Sumber: Ahmad Gholban Aunir Rahman Nadhir, Talangsari Jember

KH.Ali Maksum Krapyak, Guru KH. Bajuri Yusuf


Hasan Jufri - Menjelang haul beliau, saya ingin menceritakan tentang beliau KH Ali Maksum dari kisah ayahanda almarhum H.Nadhir Muhammad yang menyantri kepada beliau kurang lebih tujuh tahun lamanya. Semoga saja cerita ini bisa menurunkan Rahmat Allah bagi kita dan semoga juga Allah memberi kita kebaikan sebagaimana Allah telah memberi KH Ali Maksum kebaikan.

Pertama; KH Ali Maksum adalah kiai yang dermawan. Cerita ini sering disampaikan oleh ayahanda sambil berkaca kaca. Maklum, ayahanda yatim sejak umur tiga tahun. Ketika kuliah semester tiga di IAIN Sunan Kalijaga, ayahanda tidak memiliki dana untuk biaya tinggal di pondok. Hingga ayahanda dipanggil oleh salah seorang pimpinan pesantren dan diperingati dengan keras supaya membayar biaya mondok. Pulang ke kamar sambil menangis karena merasa beratnya menjadi orang tidak punya, KH Ali Maksum pun mendengar lalu menegur dengan tegas kepada pimpinan pesantren tersebut; "Nadhir selama mondok di sini adalah tanggunganku. Makan dan semua adalah tanggunganku". Itulah KH Ali Maksum, beliau mendirikan lembaga pendidikan untuk memberi dan bukan untuk menerima.

Kedua; KH Ali Maksum adalah kiai yang santun dalam memberi nasihat. Sudah menjadi kebiasaan ayahanda sering memijat KH Ali Maksum sambil beliau tidur tiduran. Satu saat, karena hubungan yang teramat dekat, dan sudah seperti dianggap anak sendiri, sambil memijat kiai ali yang sedang memejamkan mata, ayahanda mengambil rokok dari kiai Ali Maksum. Sambil tetap memejamkan mata, Kiai Ali Maksum berkata "ojok ake ake yo cung jepe'e (jangan banyak banyak ya ngambilnya).

Ketiga; KH Ali Maksum adalah Kiainya para putra putra kiai. Di Krapyak, hampir semua putera kiai tanah Jawa belajar di sana. Dari Jawa Barat ada putera kiai Aqil, gus Said Aqil Siraj. Dari Jawa Tengah ada putera kiai Bisri mustofa, gus mus. Dari Jawa Timur ada putra kiai Wahid Hasyim, gus dur. Ada juga putera Waliyullah KH Abdul Hamid pasuruan, gus nu'man dan gus idris. Dan masih banyak lagi. Ini semua menandakan bahwa para kiai mengakui bahwa KH Ali Maksum adalah seorang Kiai yang memang menduduki maqam sebagai mu'allim dan murabbi.

Keempat; KH Ali Maksum adalah kiai yang sakti. Mungkin banyak orang tidak mengerti hal ini karena tertutupi oleh ke'aliman beliau dalam masalah agama. Suatu saat, ada seorang santri dari gresik yang juga putera kiai, senang terbang hingga setinggi pucuk pohon kelapa lalu mengambil pohon kelapa. Setelah itu dibukanya kelapa dengan digigit sebegitu mudahnya. Mengetahui hal ini kiai Ali Maksum menasehati supaya fokus untuk menuntut ilmu agama terlebih dahulu. Mengetahui reaksi santri kurang begitu terima, maka kiai Ali Maksum mengambil besi panjang dan tebal lalu meminta santri itu untuk membengkokannya. Sang santri menyerah, lalu Kiai Ali Maksum dengan mudahnya melipat besi yang tebal dan panjang itu hingga melingkar. Mengetahui itu sang santri pun langsung malu dan kembali fokus mendalami ilmu ilmu agama.

Kelima; KH Ali Maksum adalah kiai yang humoris. Suatu saat kiai Maksum (ayah kiai ali) mengunjungi krapyak, lalu mengetahui ayahanda yang mondok di krapyak, beliau kiai maksum berkata "ngapain mondok di ali krapyak, masih lebih barokah mondok di aku" ayahanda hanya bisa terdiam. Lalu kiai Ali pun menjawab dan berkata pada ayahanda "Kalau barokah, memang bapak lebih barokah, tapi kalau ngalim, masih lebih ngaliman aku". seketika suasana pun cair dan semua tertawa.

Keenam; KH Ali Maksum adalah kiai yang sangat rendah hati. Diceritakan ketika kiai Ali ditunjuk menjadi Rais 'Am, sambil menangis beliau menerima permohonan para kiai saat itu dengan syarat hanya satu periode saja. Dan ketika KH Ali Maksum telah selesai mengemban amanat, maka beliau mengumpulkan santri santri krapyak dan makan bersama sama sebagai rasa syukur karena tidak lagi menjabat sebagai Rai 'Am.

Ketujuh; ini termasuk yang sering diceritakan ayahanda dan memiliki nuansa tersendiri. Ketika ayahanda telah selesai menyantri, maka ayahanda pun pamit pada beliau. Dan yang mengherankan, KH Ali Maksum mengambil kitab ahkam sulthaniyah karangan Imam Mawardi. Kitab yang membahas Fikih Negara dalam Islam. Lalu KH Ali Maksum memberikan pada ayahanda sambil berkata "bacalah kitab ini, karena suatu saat kamu nanti akan membutuhkan kitab ini". Ayahanda tidak tahu apa maksudnya saat itu. Sampai ketika ayahanda sudah berkeluarga, mulai dari tahun 82 hingga tahun 2004, dengan izin dari Waliyullah KH Abdul Hamid Pasuruan, Allah mentakdirkan ayahanda untuk berjuang di politik melalui DPR dari tingkat kabupaten hingga pusat. Sehingga suatu saat ayahanda berkata pada kami "KH Ali Maksum adalah Kiai yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi.

Kiai Ali, masih banyak cerita tentang kiai Ali, tapi biarlah Allah saja kelak yang akan menunjukkan di akhirat nanti bahwa Kiai Ali adalah memang kiai yang Allah cintai.

الى الشيخ على معصوم رحمه الله الفاتحة

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين
الرحمن الرحيم
مالك يوم الدين
اياك نعبدواياك نستعين
اهدناالصراط المستقيم
صراط الذين انعمت عليهم غيرالمغضوب عليهم ولاالضالين
آمين يا الله

Sumber: Ahmad Gholban Aunir Rahman Nadhir, Talangsari Jember