Harapan dan Kegelisahan Orang Tua dalam Mendidik Anak Menurut Islam

 

1.     Aku sedih, bila anakku lebih mengenal dunia daripada Tuhannya.

2.     Aku bahagia, bila anakku mencintai Allah melebihi segala sesuatu.

3.     Aku sedih, bila anakku malas menunaikan salat.

4.     Aku bangga, bila anakku menjaga salat tepat pada waktunya.

5.     Aku sedih, bila anakku lupa membaca Al-Qur'an setiap hari.

6.     Aku bersyukur, bila anakku akrab dengan Al-Qur'an.

7.     Aku sedih, bila anakku tumbuh tanpa adab.

8.     Aku bahagia, bila anakku santun kepada siapa pun.

9.     Aku sedih, bila anakku durhaka kepada orang tuanya.

10.  Aku bangga, bila anakku berbakti kepada ayah dan ibunya.

11.  Aku sedih, bila anakku menyakiti hati orang lain.

12.  Aku bahagia, bila anakku senang menolong sesama.

13.  Aku sedih, bila anakku lebih sibuk mengejar pujian manusia.

14.  Aku bahagia, bila anakku ikhlas mengharap ridha Allah.

15.  Aku sedih, bila anakku mudah berdusta.

16.  Aku bangga, bila anakku selalu berkata jujur.

17.  Aku sedih, bila anakku tidak amanah.

18.  Aku bahagia, bila anakku dapat dipercaya.

19.  Aku sedih, bila anakku meremehkan ilmu agama.

20.  Aku bangga, bila anakku semangat menuntut ilmu.

21.  Aku sedih, bila anakku tidak menghormati gurunya.

22.  Aku bahagia, bila anakku memuliakan guru-gurunya.

23.  Aku sedih, bila anakku memilih teman yang buruk.

24.  Aku bahagia, bila anakku berteman dengan orang-orang saleh.

25.  Aku sedih, bila anakku suka berkata kasar.

26.  Aku bangga, bila lisannya dipenuhi kata-kata yang baik.

27.  Aku sedih, bila anakku sombong.

28.  Aku bahagia, bila anakku rendah hati.

29.  Aku sedih, bila anakku gemar menggunjing.

30.  Aku bangga, bila anakku menjaga lisannya.

31.  Aku sedih, bila anakku melalaikan amanah.

32.  Aku bahagia, bila anakku bertanggung jawab.

33.  Aku sedih, bila anakku tidak menghargai waktu.

34.  Aku bangga, bila anakku memanfaatkan waktunya untuk kebaikan.

35.  Aku sedih, bila anakku mencintai maksiat.

36.  Aku bahagia, bila anakku menjauhi dosa.

37.  Aku sedih, bila anakku melupakan doa.

38.  Aku bangga, bila anakku menggantungkan harapannya kepada Allah.

39.  Aku sedih, bila anakku mudah putus asa.

40.  Aku bahagia, bila anakku yakin pada pertolongan Allah.

41.  Aku sedih, bila anakku tidak peduli kepada saudaranya.

42.  Aku bangga, bila anakku menyayangi sesama muslim.

43.  Aku sedih, bila anakku boros.

44.  Aku bahagia, bila anakku hidup sederhana.

45.  Aku sedih, bila anakku enggan bersedekah.

46.  Aku bangga, bila anakku ringan tangan berbagi.

47.  Aku sedih, bila anakku mudah marah.

48.  Aku bahagia, bila anakku mampu menahan amarahnya.

49.  Aku sedih, bila anakku membalas keburukan dengan keburukan.

50.  Aku bangga, bila anakku membalas keburukan dengan kebaikan.

51.  Aku sedih, bila anakku lupa bersyukur.

52.  Aku bahagia, bila anakku selalu bersyukur.

53.  Aku sedih, bila anakku iri kepada orang lain.

54.  Aku bangga, bila anakku ridha dengan ketetapan Allah.

55.  Aku sedih, bila anakku mengabaikan keluarganya.

56.  Aku bahagia, bila anakku menyayangi keluarganya.

57.  Aku sedih, bila anakku enggan meminta maaf.

58.  Aku bangga, bila anakku berani mengakui kesalahan.

59.  Aku sedih, bila anakku suka merendahkan orang lain.

60.  Aku bahagia, bila anakku memuliakan setiap manusia.

61.  Aku sedih, bila anakku menganggap remeh dosa kecil.

62.  Aku bangga, bila anakku berhati-hati dalam setiap perbuatan.

63.  Aku sedih, bila anakku lalai mengingat kematian.

64.  Aku bahagia, bila anakku mempersiapkan bekal akhirat.

65.  Aku sedih, bila anakku hanya mengejar kekayaan.

66.  Aku bangga, bila anakku mengejar keberkahan.

67.  Aku sedih, bila anakku tidak menjaga auratnya.

68.  Aku bahagia, bila anakku menjaga kehormatan dirinya.

69.  Aku sedih, bila anakku malas bekerja.

70.  Aku bangga, bila anakku mencari rezeki yang halal.

71.  Aku sedih, bila anakku tidak menghormati tetangga.

72.  Aku bahagia, bila anakku berbuat baik kepada tetangga.

73.  Aku sedih, bila anakku melupakan silaturahmi.

74.  Aku bangga, bila anakku menjaga tali persaudaraan.

75.  Aku sedih, bila anakku keras hati.

76.  Aku bahagia, bila anakku lembut hatinya.

77.  Aku sedih, bila anakku enggan bertaubat.

78.  Aku bangga, bila anakku segera kembali kepada Allah saat berbuat salah.

79.  Aku sedih, bila anakku tidak peduli terhadap orang miskin.

80.  Aku bahagia, bila anakku memiliki kepedulian kepada yang membutuhkan.

81.  Aku sedih, bila anakku membenci nasihat.

82.  Aku bangga, bila anakku menerima nasihat dengan lapang dada.

83.  Aku sedih, bila anakku menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin.

84.  Aku bahagia, bila anakku menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.

85.  Aku sedih, bila anakku meninggalkan zikir.

86.  Aku bangga, bila lisannya basah dengan mengingat Allah.

87.  Aku sedih, bila anakku tidak menjaga pandangannya.

88.  Aku bahagia, bila anakku menjaga kehormatan matanya.

89.  Aku sedih, bila anakku tidak mencintai Rasulullah .

90.  Aku bangga, bila anakku meneladani akhlak Rasulullah .

91.  Aku sedih, bila anakku sibuk memperindah penampilan namun melupakan hati.

92.  Aku bahagia, bila anakku memperindah akhlaknya.

93.  Aku sedih, bila anakku tidak peduli dengan halal dan haram.

94.  Aku bangga, bila anakku berhati-hati dalam memilih yang halal.

95.  Aku sedih, bila anakku hidup tanpa tujuan akhirat.

96.  Aku bahagia, bila anakku menjadikan surga sebagai cita-citanya.

97.  Aku sedih, bila anakku jauh dari majelis ilmu.

98.  Aku bangga, bila anakku mencintai majelis ilmu dan ulama.

99.  Aku sedih, bila anakku tumbuh tanpa rasa takut kepada Allah.

100.                  Aku akan merasa menjadi orang tua yang berhasil, bila anakku tumbuh menjadi hamba Allah yang saleh, berakhlak mulia, bermanfaat bagi sesama, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah.

Maka tugasku sekarang adalah menjadi orang tua yang benar-benar hadir dalam kehidupan anakku. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian, dan pendidikan, tetapi juga menanamkan iman, adab, kasih sayang, serta memberikan teladan yang baik setiap hari. Sebab, anak adalah amanah dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

 

Karena aku sadar, dunia akan terus berubah. Godaan semakin banyak, lingkungan tidak selalu baik, dan zaman semakin penuh dengan fitnah. Jika aku lalai mendidiknya hari ini, aku khawatir akan menyesal ketika semua sudah terlambat.

 

Aku takut nanti anakku mengenal banyak hal, tetapi tidak mengenal Tuhannya. Aku takut ia pandai mencari rezeki, tetapi tidak pandai bersyukur. Aku takut ia berhasil di mata manusia, namun jauh dari ridha Allah. Aku takut ia tumbuh dengan ilmu, tetapi kehilangan adab. Aku takut ia dikelilingi banyak teman, namun tidak memiliki sahabat yang saleh. Aku takut ia sibuk mengejar dunia, sementara akhiratnya terlupakan.

 

Karena itu, selama Allah masih memberiku kesempatan, aku ingin terus mendoakannya, membimbingnya, menasihatinya dengan kasih sayang, mengajarkannya Al-Qur'an, membiasakannya beribadah, mengenalkannya kepada ulama, dan menanamkan akhlak yang mulia. Sebab keberhasilan terbesar seorang orang tua bukanlah melihat anaknya kaya, terkenal, atau memiliki jabatan tinggi, melainkan melihat anaknya hidup dalam ketaatan kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tuanya, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

 

Semoga Allah menjadikan anak-anak kita penyejuk hati di dunia, penyelamat bagi orang tuanya di akhirat, dan termasuk hamba-hamba-Nya yang saleh. Āmīn.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama