1.
Aku
sedih, bila anakku lebih mengenal dunia daripada Tuhannya.
2.
Aku
bahagia, bila anakku mencintai Allah melebihi segala sesuatu.
3.
Aku
sedih, bila anakku malas menunaikan salat.
4.
Aku
bangga, bila anakku menjaga salat tepat pada waktunya.
5.
Aku
sedih, bila anakku lupa membaca Al-Qur'an setiap hari.
6.
Aku
bersyukur, bila anakku akrab dengan Al-Qur'an.
7.
Aku
sedih, bila anakku tumbuh tanpa adab.
8.
Aku
bahagia, bila anakku santun kepada siapa pun.
9.
Aku
sedih, bila anakku durhaka kepada orang tuanya.
10.
Aku
bangga, bila anakku berbakti kepada ayah dan ibunya.
11.
Aku
sedih, bila anakku menyakiti hati orang lain.
12.
Aku
bahagia, bila anakku senang menolong sesama.
13.
Aku
sedih, bila anakku lebih sibuk mengejar pujian manusia.
14.
Aku
bahagia, bila anakku ikhlas mengharap ridha Allah.
15.
Aku
sedih, bila anakku mudah berdusta.
16.
Aku
bangga, bila anakku selalu berkata jujur.
17.
Aku
sedih, bila anakku tidak amanah.
18.
Aku
bahagia, bila anakku dapat dipercaya.
19.
Aku
sedih, bila anakku meremehkan ilmu agama.
20.
Aku
bangga, bila anakku semangat menuntut ilmu.
21.
Aku
sedih, bila anakku tidak menghormati gurunya.
22.
Aku
bahagia, bila anakku memuliakan guru-gurunya.
23.
Aku
sedih, bila anakku memilih teman yang buruk.
24.
Aku
bahagia, bila anakku berteman dengan orang-orang saleh.
25.
Aku
sedih, bila anakku suka berkata kasar.
26.
Aku
bangga, bila lisannya dipenuhi kata-kata yang baik.
27.
Aku
sedih, bila anakku sombong.
28.
Aku
bahagia, bila anakku rendah hati.
29.
Aku
sedih, bila anakku gemar menggunjing.
30.
Aku
bangga, bila anakku menjaga lisannya.
31.
Aku
sedih, bila anakku melalaikan amanah.
32.
Aku
bahagia, bila anakku bertanggung jawab.
33.
Aku
sedih, bila anakku tidak menghargai waktu.
34.
Aku
bangga, bila anakku memanfaatkan waktunya untuk kebaikan.
35.
Aku
sedih, bila anakku mencintai maksiat.
36.
Aku
bahagia, bila anakku menjauhi dosa.
37.
Aku
sedih, bila anakku melupakan doa.
38.
Aku
bangga, bila anakku menggantungkan harapannya kepada Allah.
39.
Aku
sedih, bila anakku mudah putus asa.
40.
Aku
bahagia, bila anakku yakin pada pertolongan Allah.
41.
Aku
sedih, bila anakku tidak peduli kepada saudaranya.
42.
Aku
bangga, bila anakku menyayangi sesama muslim.
43.
Aku
sedih, bila anakku boros.
44.
Aku
bahagia, bila anakku hidup sederhana.
45.
Aku
sedih, bila anakku enggan bersedekah.
46.
Aku
bangga, bila anakku ringan tangan berbagi.
47.
Aku
sedih, bila anakku mudah marah.
48.
Aku
bahagia, bila anakku mampu menahan amarahnya.
49.
Aku
sedih, bila anakku membalas keburukan dengan keburukan.
50.
Aku
bangga, bila anakku membalas keburukan dengan kebaikan.
51.
Aku
sedih, bila anakku lupa bersyukur.
52.
Aku
bahagia, bila anakku selalu bersyukur.
53.
Aku
sedih, bila anakku iri kepada orang lain.
54.
Aku
bangga, bila anakku ridha dengan ketetapan Allah.
55.
Aku
sedih, bila anakku mengabaikan keluarganya.
56.
Aku
bahagia, bila anakku menyayangi keluarganya.
57.
Aku
sedih, bila anakku enggan meminta maaf.
58.
Aku
bangga, bila anakku berani mengakui kesalahan.
59.
Aku
sedih, bila anakku suka merendahkan orang lain.
60.
Aku
bahagia, bila anakku memuliakan setiap manusia.
61.
Aku
sedih, bila anakku menganggap remeh dosa kecil.
62.
Aku
bangga, bila anakku berhati-hati dalam setiap perbuatan.
63.
Aku
sedih, bila anakku lalai mengingat kematian.
64.
Aku
bahagia, bila anakku mempersiapkan bekal akhirat.
65.
Aku
sedih, bila anakku hanya mengejar kekayaan.
66.
Aku
bangga, bila anakku mengejar keberkahan.
67.
Aku
sedih, bila anakku tidak menjaga auratnya.
68.
Aku
bahagia, bila anakku menjaga kehormatan dirinya.
69.
Aku
sedih, bila anakku malas bekerja.
70.
Aku
bangga, bila anakku mencari rezeki yang halal.
71.
Aku
sedih, bila anakku tidak menghormati tetangga.
72.
Aku
bahagia, bila anakku berbuat baik kepada tetangga.
73.
Aku
sedih, bila anakku melupakan silaturahmi.
74.
Aku
bangga, bila anakku menjaga tali persaudaraan.
75.
Aku
sedih, bila anakku keras hati.
76.
Aku
bahagia, bila anakku lembut hatinya.
77.
Aku
sedih, bila anakku enggan bertaubat.
78.
Aku
bangga, bila anakku segera kembali kepada Allah saat berbuat salah.
79.
Aku
sedih, bila anakku tidak peduli terhadap orang miskin.
80.
Aku
bahagia, bila anakku memiliki kepedulian kepada yang membutuhkan.
81.
Aku
sedih, bila anakku membenci nasihat.
82.
Aku
bangga, bila anakku menerima nasihat dengan lapang dada.
83.
Aku
sedih, bila anakku menjadikan hawa nafsunya sebagai pemimpin.
84.
Aku
bahagia, bila anakku menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.
85.
Aku
sedih, bila anakku meninggalkan zikir.
86.
Aku
bangga, bila lisannya basah dengan mengingat Allah.
87.
Aku
sedih, bila anakku tidak menjaga pandangannya.
88.
Aku
bahagia, bila anakku menjaga kehormatan matanya.
89.
Aku
sedih, bila anakku tidak mencintai Rasulullah ﷺ.
90.
Aku
bangga, bila anakku meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.
91.
Aku
sedih, bila anakku sibuk memperindah penampilan namun melupakan hati.
92.
Aku
bahagia, bila anakku memperindah akhlaknya.
93.
Aku
sedih, bila anakku tidak peduli dengan halal dan haram.
94.
Aku
bangga, bila anakku berhati-hati dalam memilih yang halal.
95.
Aku
sedih, bila anakku hidup tanpa tujuan akhirat.
96.
Aku
bahagia, bila anakku menjadikan surga sebagai cita-citanya.
97.
Aku
sedih, bila anakku jauh dari majelis ilmu.
98.
Aku
bangga, bila anakku mencintai majelis ilmu dan ulama.
99.
Aku
sedih, bila anakku tumbuh tanpa rasa takut kepada Allah.
100.
Aku
akan merasa menjadi orang tua yang berhasil, bila anakku tumbuh menjadi hamba
Allah yang saleh, berakhlak mulia, bermanfaat bagi sesama, dan wafat dalam
keadaan husnul khatimah.
Maka tugasku sekarang adalah menjadi orang tua yang benar-benar
hadir dalam kehidupan anakku. Bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, pakaian,
dan pendidikan, tetapi juga menanamkan iman, adab, kasih sayang, serta
memberikan teladan yang baik setiap hari. Sebab, anak adalah amanah dari Allah
yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena aku sadar, dunia akan terus berubah. Godaan semakin banyak,
lingkungan tidak selalu baik, dan zaman semakin penuh dengan fitnah. Jika aku
lalai mendidiknya hari ini, aku khawatir akan menyesal ketika semua sudah
terlambat.
Aku takut nanti anakku mengenal banyak hal, tetapi tidak mengenal
Tuhannya. Aku takut ia pandai mencari rezeki, tetapi tidak pandai bersyukur.
Aku takut ia berhasil di mata manusia, namun jauh dari ridha Allah. Aku takut
ia tumbuh dengan ilmu, tetapi kehilangan adab. Aku takut ia dikelilingi banyak
teman, namun tidak memiliki sahabat yang saleh. Aku takut ia sibuk mengejar
dunia, sementara akhiratnya terlupakan.
Karena itu, selama Allah masih memberiku kesempatan, aku ingin
terus mendoakannya, membimbingnya, menasihatinya dengan kasih sayang,
mengajarkannya Al-Qur'an, membiasakannya beribadah, mengenalkannya kepada
ulama, dan menanamkan akhlak yang mulia. Sebab keberhasilan terbesar seorang
orang tua bukanlah melihat anaknya kaya, terkenal, atau memiliki jabatan
tinggi, melainkan melihat anaknya hidup dalam ketaatan kepada Allah, berbakti
kepada kedua orang tuanya, dan meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Semoga Allah menjadikan anak-anak kita penyejuk hati di dunia,
penyelamat bagi orang tuanya di akhirat, dan termasuk hamba-hamba-Nya yang
saleh. Āmīn.
