Suasana sore
berjalan seperti biasa suasana yang hening yang diselimuti oleh penjelasan Kyai
Zah Faidh Bajuri kepada para santri. Beliau baru saja selesai menyampaikan
penjelasan kitab dengan begitu detail dan mendalam. Namun, ketegangan mengaji
tiba-tiba mencair ketika beliau melontarkan sebuah pertanyaan tak terduga, "Kalian
mau nobar pildun?" Sontak, seluruh santri serentak menjawab, "Iya!"
dengan penuh semangat. Tentu saja, kesenangan ini tidak gratis. Karena
pertandingan final tayang jam 02.00 WIB dini hari, beliau memberikan syarat
mutlak: kami dilarang begadang sebelum jam tayang. Aturan ini dibuat agar kami
tetap punya waktu istirahat yang cukup, sehingga keesokan harinya tidak ada
rasa ngantuk di kelas saat jam sekolah.
Tak terduga
moment final ternyata berjalan begitu cepat. Memasuki waktu malam, setelah
sholat maghrib berjamah, petugas HMM (Multimedia) mengumumankan ke seluruh
santri, mereka menawarkan stiker tempel bendera Spanyol dan Argentina seharga
Rp1.000 saja per lembar untuk meramaikan suasana. Benar saja, setelah shalat
Isya berjamaah, para santri langsung berkerumun layaknya semut. Mereka berebut
membeli bendera negara jagoan masing-masing, meskipun malam itu mayoritas
santri terlihat lebih condong mendukung tim Matador, Spanyol.
Ketika bel
tidur berbunyi, tidak ada ocehan, guyonan seperti hari-hari biasanya. Semua
santri justru bergegas beranjak ke kasur dengan rapi. Rasa tidak sabar
menyaksikan partai puncak World Cup 2026 membuat mereka ingin cepat-cepat
memejamkan mata agar waktu berputar lebih cepat. Tepat jam 02.00 WIB, suasana
hening malam pecah saat pengurus keamanan mulai berkeliling membangunkan santri
dari kamar ke kamar. Nobar pun dimulai! Rasa kantuk yang awalnya terlihat di
raut wajah mereka langsung sirna begitu saja saat gemuruh suara suporter dari
layar siaran bergema di area pondok. Semua santri menonton dengan penuh
semangat hingga peluit panjang ditiup.
Begitu laga
usai, keseruan tidak langsung berhenti begitu saja, melainkan langsung
disambung dengan kewajiban utama kami: shalat Shubuh berjamaah. Barulah saat
pagi menjelang, suasana pondok benar-benar berubah menjadi riuh. Di setiap
sudut pondok penuh dengan ocehan dan analisis dadakan tentang jalannya
pertandingan semalam. Kontras sekali terlihat antara pendukung Spanyol yang
tersenyum lebar dan berbahagia, sementara para pendukung Argentina hanya bisa
diam seribu bahasa meratapi kekalahan timnya.
Pelajaran
Penting dari Lapangan Hijau
Di balik
keseruan menonton bola dan sorak-sorai kemenangan, pertandingan final Piala
Dunia kemarin sebenarnya memberikan banyak pelajaran berharga yang bisa kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari di pondok:
·
Pentingnya Kedisiplinan dan
Manajemen Waktu: Syarat dari Kyai untuk tidak begadang mengajarkan kita bahwa
bersenang-senang itu boleh, asalkan kewajiban (seperti sekolah dan menjaga
kesehatan) tidak dikorbankan.
·
Sportivitas dan Jiwa Besar: Menang dan
kalah adalah hal biasa. Bagi yang jagoannya menang tidak perlu jumawa, dan bagi
yang kalah (seperti pendukung Argentina) harus berlapang dada tanpa harus
berkecil hati.
·
Kerja Sama Tim (Teamwork): Sepak bola
adalah permainan tim, bukan individu. Kemenangan hanya bisa diraih jika semua
pemain menekan ego mereka dan bekerja sama demi satu tujuan—sama seperti kita
di pondok yang harus saling kompak menjaga kebersamaan.
·
Fokus dan Kerja Keras Hingga Akhir: Di lapangan,
fokus sedetik saja hilang bisa berakibat fatal. Ini menjadi pengingat bagi kita
untuk selalu fokus berjuang dalam menuntut ilmu hingga garis finish nanti.
Bagaimana,
apakah kalian juga menonton final world cup 2026? Negara jagoan
kalian siapa? Jangan lupa tulis di kolom komentar!!