Suasana Final Piala Dunia 2026 masih terasa hangat sampai hari
ini. Pertemuan dua raksasa sepak bola dunia, Spanyol dengan permainan
taktis ala Eropanya, melawan Argentina dengan gaya skillful khas
Latin, sukses membuat mata penonton tak berkedip. Di pesantren, suasana nobar
pasti pecah—ada yang tegang, ada yang heboh sorak-sorai, dan pastinya ada yang
saling ejek tipis-tipis antar pendukung.
Namun, di balik ketegangan yang tinggi dan riuhnya sorak penonton,
ada satu hukum alam sepak bola yang tidak bisa ditawar: dalam setiap
pertandingan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah.
Sebagai santri, kita tentu tidak cuma menonton skor akhir atau
indahnya gol yang tercipta. Ada pelajaran mental dan adab yang sangat berharga
yang bisa kita petik dari laga Spanyol vs Argentina ini.
Saat Menang: Menjaga Hati Agar Tidak Jumawa
Melihat tim kesayangan mengangkat piala dan merayakan kemenangan
memang momen yang sangat luar biasa. Tapi perhatikan bagaimana para pemain
profesional bersikap saat menang. Sebagian besar dari mereka merayakan dengan
penuh rasa syukur, bahkan tak jarang kita melihat aksi sujud syukur di atas
rumput hijau.
Di sinilah adab seorang pemenang diuji. Bagi santri, meraih
kemenangan—baik itu dalam pertandingan sepak bola antar-kelas, menjuarai lomba
kitab, atau ketika hafalan Al-Qur'an kita lancar dan khatam lebih cepat—punya
aturan main:
- Sujud Syukur & Merunduk:
Kemenangan adalah anugerah, bukan semata-mata karena kehebatan diri
sendiri. Tetaplah rendah hati (tawadhu).
- Menghormati Lawan: Euforia
boleh, tapi jangan sampai selebrasi kita merendahkan lawan yang kalah.
Menang yang berkah adalah menang yang tidak merusak hubungan silaturahmi (ukhuwah).
“Menang tanpa ngasorake” — Menang tanpa harus merendahkan orang lain.
Saat Kalah: Mental Thalabul 'Ilmi (Tawakal & Evaluasi)
Di sisi lain, melihat pemain dari tim yang kalah tertunduk lesu di
lapangan tentu bikin nyesek, apalagi kalau itu tim favorit kita. Tapi,
pernahkah kamu melihat tim kelas dunia langsung membubarkan diri hanya karena
kalah di satu laga final? Tentu tidak. Mereka akan bersalaman dengan lawan,
menerima medali, lalu kembali ke ruang ganti untuk evaluasi (muhasabah).
Dunia pesantren juga mirip seperti itu. Kita pasti pernah
mengalami "kekalahan" versi kita sendiri:
- Belum lulus saat sima'an hafalan.
- Nilai ujian kitab tidak sesuai harapan.
- Atau gagal saat mewakili pesantren di
perlombaan.
Kalah itu wajar, yang tidak wajar adalah berhenti mencoba. Santri
yang punya mental pembelajar (thalabul 'ilmi) tidak akan sibuk mencari
kambing hitam atau menyalahkan keadaan. Kekalahan justru dijadikan bahan bakar
untuk kembali latihan, memperdalam muthala'ah, dan memperbaiki strategi.
Ukhuwah di Atas
Peluit Panjang
Satu pemandangan paling indah setelah peluit panjang berbunyi
adalah ketika pemain Spanyol dan Argentina saling berpelukan, bertukar jersey,
dan merangkul satu sama lain. Di lapangan mereka adalah rival, tapi setelah 90
menit berlalu, mereka adalah sesama profesional yang saling menghormati.
Ini pesan penting buat kita semua di pondok. Mau kamu pendukung
Spanyol dan temanku pendukung Argentina, begitu nobar selesai dan azan
berkumandang, kita tetap kembali ke shaf sholat yang sama, makan di talam yang
sama, dan ngopi bareng di teras kobong. Jangan sampai beda tim idola bikin
silaturahmi kita ber berjarak.
Dari laga Spanyol vs Argentina, kita belajar bahwa menang dan
kalah adalah dua sisi mata uang yang pasti kita temui dalam hidup. Yang
menentukan kualitas diri kita bukanlah piala yang kita pegang, melainkan
bagaimana adab kita saat berada di puncak, dan sejauh mana daya juang kita saat
jatuh di bawah.
Jadi, gimana? Sudah siap kembali ke meja mengaji dan melanjutkan
hafalan dengan semangat baru ala juara dunia?

