Berdzikir Dan Berpikir Adalah Jalan Menuju Allah

 


Berzikir dan Berpikir adalah Jalan Menuju Allah

Dzikir dan berpikir berjalan beriringan, menuntun hati dan akal mengenal allah, menyadari hikmah ciptaan, serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Bahwa jalan menuju Allah SWT tidak ditempuh hanya dengan satu sisi, melainkan dengan perpaduan antara dzikir dan pikir. Keduanya adalah pedoman ruhani yang saling melengkapi dalam perjalanan seorang hamba menuju tuhannya.

Dalam firman Allah SWT menjelaskan:

ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَـٰذَا بَـٰطِلًا سُبْحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.'" (QS. Ali 'Imran: 191)

Ayat ini, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa dzikir dan pikir berjalan beriringan.

Dari satu sisi, mereka senantiasa berdzikir kepada Allah dalam segala kondisi, saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Dzikir menjadi ikatan hati yang terus tersambung dengan Allah tanpa terputus oleh keadaan.

Dari sisi yang lain, mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi. Perenungan ini bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan jalan menuju kesadaran akan hikmah dan tujuan penciptaan.

Dari dzikir yang hidup dan pikir yang jernih inilah lahir pengakuan yang tulus: “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.” Kesimpulan ini tidak berhenti pada kekaguman semata, tetapi berujung pada doa dan permohonan perlindungan kepada Allah dari azab neraka.

Dengan demikian, dzikir menjaga kehadiran hati, sementara pikir menuntun kedalaman makna, keduanya mengantar seorang hamba untuk berjalan lurus menuju Allah SWT.

Bahwa spiritualitas Islam tidak memisahkan hati dan akal. Dzikir tanpa pikir dapat menjadi kering, sementara pikir tanpa dzikir mudah kehilangan arah.

Ketika keduanya dipadukan, seorang hamba tidak hanya mengenal Allah dengan lisannya, tetapi juga dengan kesadaran dan perenungan yang mendalam.

Inilah jalan yang menuntun menuju pengenalan, ketundukan, dan kedekatan sejati kepada Allah SWT.

 

 

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama