Ia Membunuh 100 Orang… Tapi Akhir Kisahnya Membuat Langit Terdiam

 






Di zaman dahulu, ada seorang lelaki yang hidup dalam gelapnya dosa. Tangannya telah berlumur darah. Satu nyawa demi satu nyawa ia hilangkan tanpa rasa takut. Hingga jumlah korbannya mencapai sembilan puluh sembilan orang.

Namun anehnya, di balik kerasnya hati itu, masih ada satu pertanyaan yang terus menghantuinya setiap malam:

“Apakah Allah masih mau mengampuniku?”

Pertanyaan itu membuatnya gelisah. Ia mulai mencari seseorang yang dianggap paling ahli ibadah di daerahnya. Orang-orang menunjuk seorang rahib yang terkenal tekun beribadah. Lelaki itu pun datang menemuinya.

“Aku telah membunuh sembilan puluh sembilan orang,” katanya lirih. “Apakah masih ada pintu taubat bagiku?”

Rahib itu terkejut. Ia memandang lelaki tersebut dengan wajah takut lalu berkata,

“Tidak ada.”

Jawaban itu menghancurkan harapan terakhir di hati sang pembunuh. Dalam amarah dan putus asa, ia kembali menghunus senjatanya… dan membunuh rahib itu. Genaplah seratus orang telah mati di tangannya.

Tetapi anehnya, setelah itu ia tetap merasa kosong. Dosa tidak pernah benar-benar membuat hati tenang.

Ia kembali mencari orang yang berilmu. Kali ini ia bertemu seorang alim yang bijaksana. Dengan suara penuh penyesalan ia berkata,

“Aku telah membunuh seratus orang. Masih adakah kesempatan bagiku untuk bertaubat?”

Orang alim itu tidak langsung menghakimi. Ia justru berkata,

“Siapa yang bisa menghalangi rahmat Allah? Pintu taubat masih terbuka.”

Lelaki itu menangis. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia mendengar kalimat yang menumbuhkan harapan.

Namun sang alim melanjutkan,

“Negerimu adalah tempat yang buruk. Pergilah ke negeri lain, di sana ada orang-orang saleh yang beribadah kepada Allah. Tinggallah bersama mereka dan jangan kembali ke tempat lamamu.”

Tanpa menunda waktu, lelaki itu segera berangkat. Ia berjalan menembus padang yang panjang. Hatinya dipenuhi penyesalan dan harapan baru.

Tetapi di tengah perjalanan, ajal menjemputnya.

Malaikat rahmat dan malaikat azab datang memperebutkan dirinya. Malaikat azab berkata,

“Dia pembunuh besar. Belum pernah melakukan kebaikan.”

Namun malaikat rahmat berkata,

“Dia telah datang dengan hati yang bertaubat.”

Lalu Allah memerintahkan agar diukur jarak antara dua negeri itu. Ternyata lelaki tersebut lebih dekat kepada negeri orang-orang saleh, walau hanya sedikit.

Akhirnya Allah mengampuninya.

Kisah ini diriwayatkan dalam hadits shahih dan menjadi pelajaran besar bahwa sebesar apa pun dosa seseorang, rahmat Allah jauh lebih luas. Tidak ada manusia yang terlalu kotor untuk kembali kepada-Nya, selama pintu taubat belum tertutup.

Kadang yang membuat seseorang binasa bukan dosanya, tetapi putus asanya terhadap ampunan Allah.

Top of Form

 

Bottom of Form

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama