FOMO vs JOMO: Ketika Takut Ketinggalan Berubah Menjadi Nikmat Menenangkan Diri

 




Di zaman sekarang, hidup sering terasa seperti perlombaan tanpa garis akhir. Orang lain upload pencapaian, kita ikut gelisah. Teman mulai usaha, kita merasa tertinggal. Ada yang menikah, sukses, viral, jalan-jalan, punya barang baru—dan hati mulai bertanya, “Kenapa hidupku belum seperti mereka?” Inilah yang sering disebut sebagai FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, muncul satu cara pandang yang lebih tenang, yaitu JOMO (Joy of Missing Out), menikmati ketenangan tanpa harus ikut semua hal.


Ketika FOMO Diam-Diam Menguras Hati

FOMO tidak selalu terlihat jelas. Kadang ia hadir dalam bentuk kecil seperti terlalu sering membuka media sosial, gelisah ketika tidak mengikuti tren, merasa minder melihat pencapaian orang lain, takut dianggap tidak gaul, hingga memaksakan diri ikut sesuatu demi pengakuan. Lama-lama hati menjadi lelah. Bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena terlalu sibuk membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Padahal apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan kenyataan sepenuhnya. Ada orang yang terlihat bahagia di media sosial, tetapi diam-diam sedang berjuang sendirian. Ada yang tampak sukses, namun kehilangan ketenangan hidupnya.


JOMO: Belajar Tenang Tanpa Harus Ikut Semua Hal

JOMO bukan berarti anti pergaulan atau menjauh dari dunia. JOMO adalah kemampuan untuk berkata, “Tidak semua hal harus aku ikuti.” Orang yang mulai memahami JOMO biasanya lebih damai. Mereka tidak sibuk mengejar validasi, tidak panik ketika tertinggal tren, dan tidak memaksakan diri demi terlihat hebat. Mereka sadar bahwa hidup bukan tentang siapa paling cepat terlihat sukses, tapi siapa yang paling mampu menjaga hati tetap tenang.


Dalam Islam, Hidup Bukan Ajang Pamer

Islam mengajarkan keseimbangan hidup. Bukan hidup untuk dipuji manusia, melainkan untuk mencari ridha Allah. Sering kali FOMO lahir karena hati terlalu fokus melihat manusia sampai lupa melihat nikmat yang sudah dimiliki sendiri. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas yang lain

(QS An-Nisa: 32)

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang punya jalan hidup masing-masing. Ada yang dipercepat rezekinya, ada yang diperlambat agar lebih matang, ada yang diuji dengan kekurangan, dan ada juga yang diuji dengan kelebihan. Karena itu, tidak semua yang terlihat indah harus dimiliki.


Bahagia Itu Tidak Selalu Ramai

Kadang ketenangan justru hadir saat kita berhenti memaksakan diri. Tidak harus selalu update, tidak harus selalu ikut tren, tidak harus selalu terlihat hebat, dan tidak harus membandingkan diri setiap hari. Sebab hidup yang tenang sering kali lahir dari hati yang mampu menerima dirinya sendiri. JOMO mengajarkan bahwa melewatkan sesuatu bukan berarti kehilangan segalanya. Kadang justru dengan tidak ikut terlalu banyak hal, kita bisa lebih mengenal diri sendiri, lebih dekat dengan keluarga, lebih fokus belajar, dan lebih dekat kepada Allah.


Penutup

FOMO membuat seseorang terus berlari tanpa henti, sedangkan JOMO mengajarkan cara menikmati hidup dengan lebih tenang. Tidak semua yang ramai harus diikuti dan tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi ukuran hidup kita. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling terlihat bahagia di depan manusia, tetapi siapa yang paling tenang hatinya di hadapan Allah

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama