Banyak sekali orang yang ada di luar sana berpikir, bahwasanya merayakan hari raya Idul Adha di pondok pesantren adalah hal yang sangat menyedihkan, eits… tunggu dulu, siapa bilang menyedihkan!, malahan merayakan hari raya idul adha di pondok itu adalah suatu kenikmatan yang tidak ada harganya, kenapa bisa begitu?, yuk Simak cerita kami sebagai santri pondok pesantren hasan jufri dalam merayakan hari raya idul adha di pondok dalam blog berikut.
Deruh Langka Kaki yang Penuh Makna: Persiapan Sholat Eid Berjamaah
Jam menunjukkan pukul 5 dini hari, tanda sholat shubuh berjamaah telah selesai dilaksanakan, waktu itu langit belum memancarkan cahayanya sedikitpun, tapi semangat para santri membara Ketika mereka melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mempersiapkan diri melakukan sholat EID berjamah.
Suasana pagi dipenuhi dengan suara gemuruh pintu kamar mandi dan celotehan para santri ketika mereka mengantri untuk mandi, di sisi lain, semerbak wangi parfum dengan berbagai macam aroma tercium dari balik pintu kamar mereka masing-masing.
Tapi, 15 menit sebelum sholat EID dilaksanakan, suara bel bendenging begitu kencang menandakan semua santri harus mengangkat kaki mereka dari kamar untuk menuju masjid karena sholat akan segera dimulai.
Di tengah-tengah perjalanan, terlihat senyum lebar dari wajah mereka yang menandakan kebahagiaan yang mereka rasakan dalam menyambut hari raya Idul Adha meskipun tanpa kehadiran orang tua.
Masjid Menjadi Saksi Nyata: Sholat EID Berjamah di Hari Raya Idul Adha
Tak lama dari itu, semua santri berdatangan mengisi shaf mereka masing-masing, tapi sebelum itu, petugas Pendidikan memberikan informasi mengenai tata cara sholat Idul Adha yang terdiri dari dua rakat sebagai berikut:
· Pada rakaat pertama: ada 7 takbir dan disela-sela takbir membaca bacan tasbih yang berbunyi:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
· Pada rakaat kedua: ada 5 takbir dan disela-sela takbir membaca bacaan tasbih yang berbunyi:
سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Ust Amirus Sholihin mepimpin berjalannya sholat EID dengan khusyuk, setelah pelaksanaan sholat EID, acara dilanjutkan dengan pembacaan khutbah, di mana pada tahun ini saudara Wahyu Saputra bertugas sebagai bilal dan Ust Abdurrahim bertugas sebagai khotib
Dalam khotibnya, beliau menyampaikan asal-usul qurban yang bemula dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim A.S untuk menyembelih putranya yakni Nabi Ismail A.S, tanpa berpikir panjang Nabi Ibrohim kemudian bertanya kepada Nabi Ismail tentang hal tersebut dan kata نَعَمْ keluar dari mulut Nabi Ismail yang menandakan beliau siap untuk melakukannya, tapi karena ketekunan yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim, maka Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba.
20 menit berlalu, khutbah yang penuh dengan pelajaran telah selesai dilaksanakan, para santri tidak langsung pergi ke kamar mereka masing-masing, Sebab, keseruan yang sesungguhnya baru saja dimulai: momen penyembelihan kurban!".
Simak blog ini sampai akhir!
Ibadah Qurban: Amal Jariyah untuk Masa Depan
Pada tahun ini pondok pesantren hasan jufri kedatangan 7 sapi dan 3 kambing untuk diqurban, hewan-hewan tersebut merupakan hewan qurban sedekah dari para donatur yang selama ini membantu pondok pesantren hasan jufri.
Waktu penyembelihan merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh para santri, mereka dengan cermat mengamati proses penyembelihan hewan qurban mulai dari proses menjatuhkan hewan qurban ke tempat penyembelihan menggunakan tali, sampai proses penyembelihan yang membuat mereka merasa geli melihat darah yang keluar dari leher hewan qurban saat disembelih.
Ketika leher hewan qurban dipotong, semua santri sontak mengucapkan kalimat takbir secara bersama-sama sampai proses tersebut selesai. Proses penyembelihan ini berlangsung cukup lama mulai dari jam 8 pagi samapai jam 11 siang, hal ini dikarenakan banyaknya hewan yang akan diqurban.
Hewab qurban yang sudah disembelih, kemudian dipindahkan ke tempat pemontongan, dalam hal ini semua santri khususnya santri dari kalangan aljamiah (santri kuliah) dikerahkan untuk membantu dalam proses pemotongan daging, pembuatan sate, dan lainnya.
Setelah lelah berjam-jam mengurus hewan kurban, tibalah momen yang paling dinantikan: makan besar bersama!
Kenikmatan yang Tiada Harganya: Daging yang Melimpah
Di sinilah kenikmatan puncaknya jadi santri. Hari-hari biasa menu makan kami mungkin cuma seputar tahu, tempe, telur, atau ikan, akan tetapi, meskipun menunya sesederhana itu, kami selalu bersyukur. Tapi begitu Iduladha tiba, rasanya seperti dapet bonus besar karena bisa makan daging sepuasnya setiap hari!
Jadi, bagaimana menurut kalian, seru kan, meskipun jauh dari keluarga dan orang tua, kami masih bisa merasakan hangatnya perayaan hari raya Idul Adha bersama keluarga kecil kami di pondok.
Apakah kalian makan daging qurban pada hari raya kali ini, jangan lupa tulis di kolom komentat oke!




