Kadang kita merasa sudah berusaha keras, bekerja siang malam, tapi hasilnya tetap terasa sempit. Uang datang lalu cepat pergi, ada pemasukan tapi tidak pernah benar-benar cukup. Hati gelisah, pikiran tidak tenang. Lalu kita mulai bertanya dalam hati, kenapa rezeki terasa seret?
Mungkin
masalahnya bukan pada jumlah, tapi pada keberkahan yang mulai hilang. Karena
dalam Islam, rezeki bukan hanya tentang banyak atau sedikit, tapi tentang
ketenangan yang menyertainya. Bisa jadi ada dosa yang kita anggap biasa,
padahal diam-diam menghalangi datangnya kebaikan. Pandangan yang tidak dijaga,
lisan yang mudah menyakiti, atau hati yang perlahan menjauh dari Allah.
Kita juga
sering berharap rezeki lancar, tapi jarang memperbanyak istighfar. Padahal
istighfar bukan hanya menghapus dosa, tapi juga membuka pintu rezeki. Selain
itu, hati kita terkadang terlalu bergantung pada usaha sendiri, seakan semua
berasal dari kerja keras kita, lalu lupa bahwa Allah adalah pemberi rezeki yang
sebenarnya.
Ditambah lagi
dengan kurangnya rasa syukur. Yang terlihat selalu yang kurang, sementara yang
sudah ada terasa biasa saja. Padahal bisa jadi rezeki kita sudah cukup, hanya
saja kita tidak pernah benar-benar mensyukurinya. Dan sesuatu yang tidak
disyukuri, seringkali terasa tidak pernah cukup.
Di sisi lain,
ibadah mulai dilalaikan. Shalat ditunda, doa jarang dipanjatkan, Al-Qur’an
mulai jarang dibaca. Lalu kita heran kenapa hidup terasa berat, padahal mungkin
kita sendiri yang perlahan menjauh dari sumber ketenangan itu.
Pada akhirnya,
mungkin rezeki kita tidak benar-benar seret. Hanya saja hati kita yang tidak
lagi merasakan cukup. Karena rezeki bukan hanya tentang apa yang kita miliki,
tapi tentang apa yang Allah tenangkan di dalam hati. Rezeki yang berkah akan
terasa lapang, meskipun sederhana.
Jadi, coba
tanya diri sendiri… yang sebenarnya kurang itu rezekinya, atau kedekatan kita
dengan Allah?
.png)