Kembalinya Santri Hasan Jufri Ke Pesantren Setelah Liburan Idul Fitri

 

Foto Lama


Saat itu, tepatnya pada tanggal 10 Syawal 1447 H. Santri Hasan Jufri kembali kepesantren dengan menata hati dan semangat untuk belajar kembali dipesantren. Di momen itu, ada banyak suatu hal yang memberatkan, mau tidak mau santri harus kembali dengan keadaannya masing-masing. Ada yang menangis, sumpek, malas, dan lain sebagainya. Itu semua dikarenakan faktor lingkungan yang sudah sekian hari berada di rumah.


Meskipun di kondisi demikian, santri Hasan Jufri harus bangkit, berjuang demi ilmu yang nantinya akan ia dapatkan. Karena bagaimanapun mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi semua umat islam. Apalagi dengan keberadaan santri di mana mereka berada di lingkungan  atau wadah dalam lingkup mencari ilmu.


Setelah kembali kepesantren, Gus Zah Faidh menekankan dalam penyampaiannya waktu itu sesudah shalat maghrib berjama’ah di Masjid, akan betapa beruntungnya seorang santri yang kembali kepondok tepat pada waktunya. Mengingat akan suatu hal dalam penyampampaiannya, bahwa terkadang ada hambatan yang terjadi pada seorang pelajar di pesantren, di mana mereka terhalang oleh berbagai cobaan yang menimpanya, sehingga tidak memungkinkan baginya untuk kembali kepesantren. Disadari atau tidak, saat itu santri Hasan Jufri sudah tentu dalam keadaan sangat bersyukur dan juga beruntung bagi mereka yang kembali tepat pada waktunya.


Waktu itu, tentu banyak hal yang sangat menyayat hati Sebagian mereka, melihat akan berbagai karakter yang selama 1 tahun diajarkan di pesantren, kini pudar disebabkan pengaruh yang ada di luar. Sangat disayangkan bagi mereka yang sudah capek-capek belajar tentang Akhlak, ‘Ubudiyah, dan sebagainya itu, tetapi tidak menjadikannya betul-betul mengamalkan apa yang selama ini dipelajari di pesantren. Karena mengingat bahwa ilmu itu sangat dan harus butruh pada pengamalan.


Semoga dengan kembalinya santri ke pesantren, menjadi awal bagi mereka untuk semangat terus belajar, demi masa depannya kelak, untuk dirinya, agamanya, lingkungan sekitarnya, serta penerus bagi bangsa juga menjadi kebanggaan Rasulullah SAW.







Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama