Menuntut ilmu adalah ibadah yang agung. Dengannya, manusia
diangkat derajatnya, dibedakan dari yang lain, dan diarahkan menuju jalan
kebenaran. Namun, dalam perjalanan mulia ini, ada satu unsur yang sering kali
terlupakan, padahal ia adalah ruh dari seluruh proses belajar itu sendiri: akhlak.
Ilmu bukan sekadar kumpulan informasi yang dihafal, bukan
pula sekadar kecerdasan logika yang diasah. Lebih dari itu, ilmu adalah cahaya
yang Allah titipkan ke dalam hati. Dan cahaya itu tidak akan menetap kecuali
pada hati yang bersih, yang dihiasi dengan akhlak yang mulia.
1. Akhlak sebagai Tujuan Utama Ilmu
Rasulullah ﷺ
bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
yang mulia."
(HR. Ahmad)
Hadits ini menjadi bukti bahwa inti dari ajaran Islam adalah
pembentukan akhlak. Maka, ilmu yang dipelajari seharusnya bermuara pada
perbaikan akhlak, bukan sekadar menambah wawasan.
Seseorang yang berilmu tetapi tidak berakhlak, justru bisa
menjadi sumber kerusakan. Ilmunya digunakan untuk membantah, merendahkan,
bahkan menyesatkan. Sebaliknya, orang yang berakhlak baik, meskipun ilmunya
tidak banyak, akan tetap membawa manfaat bagi sekitarnya.
2. Akhlak sebagai Syarat Datangnya Keberkahan Ilmu
Dalam hadits yang lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka
Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."
(HR. Muslim)
Namun, kemudahan menuju surga ini tidak hanya bergantung
pada aktivitas belajar, tetapi juga pada bagaimana seseorang bersikap dalam
proses tersebut. Akhlak yang baik menjadi sebab turunnya keberkahan.
Para ulama salaf sangat menjaga adab dalam menuntut ilmu.
Dikisahkan bahwa Imam Syafi’i رحمه
الله pernah mengadu kepada gurunya tentang sulitnya menghafal, lalu
gurunya menasihati:
“Ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan
kepada pelaku maksiat.”
Ini menunjukkan bahwa akhlak—baik kepada Allah maupun kepada
sesama—sangat mempengaruhi keberhasilan dalam menuntut ilmu.
3. Bentuk-Bentuk Akhlak dalam Menuntut Ilmu
Akhlak dalam mencari ilmu bukan hanya konsep, tetapi harus
terwujud dalam sikap nyata. Di antaranya:
a. Meluruskan Niat
Niat adalah awal dari segalanya. Ilmu yang dicari karena Allah akan bernilai
ibadah, sementara ilmu yang dicari untuk pamer atau popularitas akan kehilangan
keberkahannya.
b. Tawadhu’ (Rendah Hati)
Kesombongan adalah musuh terbesar ilmu. Orang yang merasa sudah tahu segalanya
akan sulit menerima kebenaran. Sebaliknya, kerendahan hati membuka pintu
pemahaman.
c. Menghormati Guru
Dalam tradisi pesantren, adab kepada guru sangat dijaga. Tidak memotong
pembicaraan, mendengarkan dengan khusyuk, serta mendoakan guru adalah bagian
dari akhlak yang membawa keberkahan ilmu.
d. Sabar dan Istiqamah
Menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang penuh ujian. Kesabaran dalam
menghadapi kesulitan adalah bagian dari akhlak yang akan menguatkan seseorang.
e. Menjaga Lisan dan Perilaku
Ilmu harus tercermin dalam sikap. Percuma banyak ilmu jika lisannya kasar,
sikapnya angkuh, dan perilakunya tidak mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
4. Akhlak Lebih Didahulukan daripada Ilmu
Para ulama terdahulu memberikan perhatian besar terhadap
adab. Imam Malik رحمه
الله berkata:
“Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”
Hal ini karena akhlak adalah wadah bagi ilmu. Jika wadahnya
baik, maka ilmu akan tersimpan dengan baik dan memberikan manfaat. Namun jika
wadahnya rusak, maka ilmu pun akan sia-sia.
Di pesantren, nilai ini sangat terasa. Santri diajarkan
untuk duduk dengan sopan di hadapan guru, menjaga pandangan, serta menghindari
sikap yang tidak pantas. Semua itu bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari
proses pembentukan diri.
5. Dampak Akhlak terhadap Ilmu
Akhlak memiliki pengaruh besar terhadap kualitas dan
keberkahan ilmu, di antaranya:
- Ilmu
menjadi lebih mudah dipahami
- Ilmu
menjadi lebih melekat dalam ingatan
- Ilmu
membawa manfaat bagi orang lain
- Ilmu
menjadi jalan keselamatan di akhirat
Sebaliknya, buruknya akhlak dapat menyebabkan ilmu tidak
berkah, sulit dipahami, bahkan menjadi sebab kesesatan.
Penutup
Menuntut ilmu bukan hanya tentang menjadi pintar, tetapi
tentang menjadi baik. Akhlak adalah ruh yang menghidupkan ilmu, menjadikannya
bernilai dan bermakna.
Di tengah semangat belajar yang tinggi, jangan sampai kita
melupakan hal yang paling mendasar ini. Karena sejatinya, keberhasilan dalam
menuntut ilmu bukan diukur dari seberapa banyak yang diketahui, tetapi dari
seberapa dalam ilmu itu membentuk akhlak kita.
Maka, hiasilah perjalanan menuntut ilmu dengan akhlak
yang mulia. Karena dari sanalah lahir ilmu yang berkah—ilmu yang tidak hanya
menerangi diri, tetapi juga memberi cahaya bagi dunia.