Alhamdulillah, Ramadhan kembali menyapa kita. Bulan yang bukan hanya mengajarkan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih jiwa agar lebih peka, lebih tunduk, dan lebih sadar bahwa hidup ini sedang diawasi oleh Allah SWT.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, tetapi membentuk takwa. Dan takwa itu tidak lahir dari perut yang kosong saja, melainkan dari hati yang terjaga dan lisan yang terkontrol.
Lisan: Ujian yang Paling Ringan, Tapi Paling Berat
Sering kali kita merasa puasa berjalan baik-baik saja. Tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hal yang membatalkan. Namun tanpa sadar, pahala puasa perlahan terkikis oleh kata-kata.
Padahal Rasulullah SAW bersabda:
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa sederhana pesannya. Hanya dua pilihan: berkata baik atau diam. Tetapi justru di situlah letak perjuangannya.
Di bulan Ramadhan, lisan menjadi ujian paling halus. Ia tidak terlihat, tidak berbunyi keras seperti pertengkaran fisik, tetapi efeknya bisa jauh lebih dalam. Satu kalimat ghibah, satu dusta kecil, satu sindiran tajam cukup untuk mengurangi cahaya puasa kita.
Puasa yang Hanya Lapar
Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa, tetapi yang ia dapatkan hanya lapar dan haus. Mengapa? Karena lisannya masih bebas mencela, mengadu domba, atau berdusta.
Menahan lapar itu mudah cukup jauh dari makanan.
Menahan lisan jauh lebih sulit karena ia selalu bersama kita.
Kadang kita tidak sadar, obrolan santai berubah menjadi ghibah. Candaan berubah menjadi ejekan. Diskusi berubah menjadi debat penuh emosi. Puasa yang seharusnya membersihkan jiwa justru ternodai oleh kata-kata yang tak terjaga.
Menghidupkan Lisan dengan Cahaya
Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah menjelaskan bahwa lisan diciptakan untuk memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an. Artinya, lisan bukan sekadar alat bicara, melainkan sarana mendekat kepada Allah.
Ramadhan adalah momen terbaik untuk “mengganti isi lisan” kita:
-
Dari ghibah menjadi dzikir
-
Dari keluhan menjadi doa
-
Dari perdebatan menjadi tilawah
-
Dari kata sia-sia menjadi nasihat
Semakin lisan sibuk dengan kebaikan, semakin kecil peluangnya tergelincir pada keburukan.
Ukuran Keberhasilan Puasa
Keberhasilan puasa tidak hanya diukur dari seberapa kuat kita menahan lapar, tetapi seberapa mampu kita menahan diri. Jika setelah Ramadhan kita lebih lembut dalam berbicara, lebih hati-hati dalam berkomentar, lebih bijak dalam merespons maka di situlah tanda puasa kita berbekas.
Ramadhan adalah madrasah. Dan salah satu pelajaran terbesarnya adalah mengendalikan lisan.
Karena bisa jadi, amalan yang paling berat hisabnya di hari kiamat bukanlah shalat atau puasa kita, tetapi kata-kata yang pernah kita anggap sepele.
Mari jadikan Ramadhan ini sebagai momentum memperbaiki cara kita berbicara. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah ibadah. Jika mampu berkata baik, maka itu adalah sedekah.
Semoga Allah menjadikan puasa kita bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan lisan. Bukan hanya menahan dahaga, tetapi juga menahan dosa.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
