Ada satu hal yang kadang dilupakan oleh sebagian orang tua: anak bukan hanya perlu makan, pakaian, dan sekolah formal. Anak juga butuh arah. Dan arah itu tidak cukup hanya dengan kasih sayang tanpa ilmu, atau perhatian tanpa nilai. Maka, ketika orang tua tidak mampu menjadi penuntun secara utuh—dalam akidah, akhlak, ibadah, dan pergaulan—namun juga enggan memondokkan anak, sesungguhnya dia sedang mengambil risiko yang mahal.
1. Kerugian Nilai: Anak Tumbuh Tanpa Fondasi Akhirat
Anak yang tidak dibekali ilmu agama sejak dini bisa tumbuh menjadi pribadi yang rapuh di tengah derasnya arus zaman. Pondok pesantren bukan sekadar tempat tinggal, tapi tempat pembentukan karakter yang sulit dicari tandingannya. Di sana, anak bukan hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi belajar mengenal dirinya, menghormati orang tua, dan menyadari hidup bukan hanya tentang dunia.
Jika orang tua tidak bisa memberikan itu, lalu tidak pula menitipkannya kepada pesantren, kepada siapa tanggung jawab itu dilimpahkan?
2. Kerugian Waktu: Masa Emas Berlalu Tanpa Arah
Usia muda adalah waktu terbaik untuk membentuk kebiasaan dan cara pandang hidup. Ketika orang tua membiarkan anak berjalan sendiri tanpa bimbingan agama yang kuat, mereka sedang membiarkan waktu emas anaknya terlewat sia-sia. Sebab pendidikan umum tak menjamin pembentukan akhlak, dan rumah tak selalu mampu menjaga jika orang tua sendiri sibuk atau kurang paham arah pembinaan.
3. Kerugian Pergaulan: Anak Terlena Dunia, Lupa Akhirat
Anak yang tidak dipondokkan dan juga tidak diawasi dengan ketat di rumah sangat mungkin larut dalam pergaulan yang bebas. Siapa teman dekatnya, apa yang dia tonton, siapa yang dia kagumi — semua bisa membentuknya diam-diam. Tanpa pendampingan ruhani, anak bisa tumbuh besar tapi kosong jiwa, pintar tapi tak tahu arah, berani tapi tak kenal malu.
4. Kerugian Hati: Menyesal di Ujung Waktu
Banyak orang tua yang menyesal ketika anak mulai kehilangan arah, tak lagi patuh, atau jauh dari nilai-nilai agama. Tapi penyesalan itu sering datang terlambat. Tidak memondokkan anak bukan kesalahan—selama orang tua mampu menggantikan fungsi pondok itu sendiri. Tapi jika tidak? Maka kerugian itu nyata: rugi dunia, rugi akhirat, rugi karena telah lalai pada amanah.