Harmoni Antara Ilmu Dzahir dan Ilmu Batin dalam Perspektif Nahdliyin



Dalam tradisi keilmuan Islam, seringkali dibicarakan tentang perbedaan antara ilmu dzahir (pengetahuan lahiriah atau eksoterik) dan ilmu batin (pengetahuan batiniah atau esoterik). Namun, dalam pandangan Nahdliyin, kedua jenis ilmu tersebut dianggap sebagai dua sisi dari satu mata uang yang sama, saling melengkapi dan harus berjalan seiring untuk memperdalam pemahaman terhadap agama dan kehidupan.


Nahdliyin, yang merupakan pengikut Gerakan Nahdlatul Ulama (NU), salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memandang bahwa ilmu dzahir dan ilmu batin merupakan dua aspek yang tak terpisahkan dalam menjalani kehidupan beragama. Pandangan ini tercermin dalam ajaran-ajaran tokoh-tokoh ulama Nahdliyin seperti KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU, dan KH Abdurrahman Wahid, yang dikenal dengan Gus Dur.


Ilmu dzahir merujuk kepada pemahaman terhadap ajaran-ajaran Islam yang dapat dilihat secara jelas dalam teks-teks agama, seperti Al-Qur'an dan Hadis. Ini mencakup pemahaman tentang hukum-hukum Islam, ritual, dan tata cara ibadah yang dijelaskan secara eksplisit dalam teks-teks tersebut. Ilmu dzahir memainkan peran penting dalam membentuk landasan keagamaan dan kehidupan sosial umat Islam.


Sementara itu, ilmu batin mengacu pada pemahaman yang lebih dalam dan spiritual terhadap ajaran-ajaran Islam. Ini melibatkan pencarian makna-makna yang tersembunyi di balik teks-teks agama, serta eksplorasi dimensi batiniah dalam hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama manusia. Ilmu batin membantu umat Islam untuk mengembangkan kesadaran spiritual, mengasah akhlak, dan mendalami makna hakiki dari ajaran Islam.


Dalam perspektif Nahdliyin, harmoni antara ilmu dzahir dan ilmu batin sangat diperlukan. Mereka meyakini bahwa kedua jenis ilmu tersebut saling melengkapi dan membantu umat Islam untuk mencapai pemahaman yang lebih utuh tentang agama dan kehidupan. Tanpa ilmu dzahir, pemahaman akan kebenaran agama dapat menjadi dangkal dan rentan terhadap penafsiran yang salah. Sementara itu, tanpa ilmu batin, ibadah dan kehidupan spiritual umat Islam dapat kehilangan makna dan kedalaman.


Namun, penting untuk dicatat bahwa dalam memadukan ilmu dzahir dan ilmu batin, Nahdliyin menekankan pentingnya menjaga keseimbangan. Mereka menolak pendekatan yang ekstrem dalam kedua jenis ilmu tersebut, seperti literalisme sempit dalam ilmu dzahir atau spekulasi tanpa dasar dalam ilmu batin. Sebagai gantinya, mereka mendorong pendekatan yang berbasis pada pemahaman yang komprehensif, kontekstual, dan seimbang terhadap ajaran Islam.


Dengan memadukan ilmu dzahir dan ilmu batin secara seimbang, Nahdliyin meyakini bahwa umat Islam dapat memperoleh kedalaman pemahaman yang lebih besar tentang agama mereka, serta menghadapi tantangan dan perubahan dalam kehidupan dengan bijaksana dan bermartabat. Hal ini juga membantu umat Islam untuk menjaga tradisi keilmuan yang kaya dan beragam dalam Islam, sambil tetap relevan dengan konteks zaman yang terus berubah.

Post a Comment

Previous Post Next Post