Social Items

 








Sebelumnya aku ditanya oleh orang tua “setelah ini kamu mau lanjut kemana nak?” Dengan pertanyaan yang sering ditanyakan ini, sehingga aku menjawab ingin mondok. Setelah wisudah gurukupun datang dengan menanyakan hal yang sama “kamu mau lanjut kemana?”  tak cukup dengan pertanyaan akan tetapi guruku juga berharap padaku untuk melanjutkan pendidikan ini (tidak mondok). Kebingunganpun datang dengan begitu mencolok sehingga butuh waktu bagiku untuk memutuskannya. Alhamdulillah dengan adanya kakak yang waktu itu liburan pondok  yang sering menasehatiku juga disertai dengan tutur kata yang halus, sehingga aku termotifasi jadi kepengen kayak kakak. Dan tak lama kemudian akupun mondok di Hasan Jufri yang letaknya di Kebonagung, Bawean.



Satu tahun dua tahun aku belum bisa memaknai tentang keberadaanku, masih butuh seseorang yang bisa mengarahkanku untuk berpikir lebih dewasa. Dan kini, aku mulai bisa memaknai tentang keberadaanku. Bahwa betapa pentingnya belajar  dengan seorang guru dan betapa pentingnya pemahaman yang didapatkan dari seorang guru. Bahkan dikatakan “orang yang belajar tampa seorang guru, pada hakikatnya dia sedang berguru pada setan” ngeri juga bukan! Karena itulah sosok seorang guru sangat dibutuhkan oleh seorang pelajar. Apalagi di zaman sekarang yang pegangannya HP, seakan-akan yang namanya HP ini sudah menjadi kebutuhan hidup. Berbeda dengan kita yang tiap harinya memegang kitab dan pulpen.  Dan bagi orang tua sudahkah memberi perhatian lebih terhadap perkembangan anaknya? Apakah  orang tua sudah memantau anaknya selama 24 jam?  Yang nantinya  akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah.

Tak terasa, kini aku berada di kelas empat, tentunya banyak pengalaman-pengalaman yang sudah dialami, yang kalau mengingatnya jadi kepengen kembali lagi kemasa-masa sebelumnya dan ingin memperbaiki. Sayangnya hal yang semacam itu mustahil. Akan tetapi adakalanya guruku mengatakan “tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu” sehingga semenjak itulah muncul lagi dalam diriku rasa semangat dan giat lagi untuk belajar. Lagi pula, umur itu bukan suatu faktor giat dan tidaknya seseorang dalam menuntut ilmu. Bahkan selama kita hidup, kita wajib untuk mencari ilmu. Kalau mengingat pelajaranku yang sudah lewat di dalam kitab ta’limul muta’allim dijelaskan bahwa “tuntutlah ilmu dari semenjak buaian sampai liang lahad”. Dan  karena aku yakin bahwa selama kita berusaha, capek dalam belajar, harus menghadapi suatu kebosanan, itu semua pada akhirnya tidak akan mengecawakan hasil dari apa yang kita harapkan dan yang kita perjuangkan.


Mengingat suasana yang sudah lewat, dimana orang-orang pada sibuk dan ketakutan dengan semaraknya covid-19 aku khawatir dengan keadaan di rumah. ayah, ibu dan semua keluarga, apakah mereka semua baik-baik saja? Mungkin mereka juga memikirkan hal yang sama “apakah anakku di pondok baik-baik saja?” waktu itu, aku juga sempat sedih mendengar kabar bahwa pembelajaran di luar sangat terbatas, sampai-sampai pembelajaran mereka harus tatap muka lewat HP (daring). Kata guruku, manfaat yang kita dapatkan dari belajar daring, hasilnya juga akan berbeda dibandingkan berada di kelas. Lalu bagaimana pembelajaranku di pondok? Tetap berjalan seperti biasanya dengan catatan mematuhi protokol-protokol yang ditetapkan oleh pihak yang berwajib seperti; memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, senam dan berbagai usaha-usaha yang lain.


Ternyata mondok itu seru ya!  Banyak dari temanku yang datang dari berbagai tempat. Ngaji bareng, saling menasehati dan keseruan-keseruan lainnya. Dan kebahagiaan di pondok tentunya tidaklah dimiliki oleh semua orang. Yakni pada saat liburan! Banyak dari temanku yang menantikan momen yang sangat ditunggu-tunggu, bahkan ada dari mereka yang punya jadwal khusus di dalamnya. ada yang rekreasi, membentuk suatu majlis, pengajian, khatmil qu’an, jalan-jalan ketempat wisata dan lain-lain. Namun aku lebih sering dirumah menggunakan waktu yang sadikit ini untuk berbakti kepada orang tua, kumpul bareng keluarga. Malah menurutku hal ini menyenangkan dan lebih manfaat.


Keberadaan santri sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat, dengan ilmu yang dimilikinya juga dikenal dengan masalah akhlak seperti; jujur, amanah, dan tanggung jawab. karena shifat itu semua akan membawa seseorang dalam menujuh suatu keberhasilan. karena kalau tidak, bayangkan saja jika di suatu daerah yang dipinpin oleh peminpin yang tidak amanah, bohong pada rakyatnya, sudah pasti akan timbul sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena itulah kita berada di pondok tidak hanya mengaji, akan tetapi kita juga dilatih untuk sabar dan sadar dengan cara mengaplikasikan kegiatan dan peraturan yang ada. Contoh saja,  kita dibangunkan oleh pengurus sebelum subuh untuk shalat. kita sadar bahwa betapa pentingnya seseorang untuk melakukan sholat.  Sehingga nanti pada saat kita keluar dari pondok, kita sudah terbiasa bangun untuk melaksanakan shalat. Dan dapat kita sadari bahwa kalau kita sendirian, siapa lagi yang mau membangunkan dan mengingatkan kita untuk melaksanakan sholat?


Melihat temanku yang selalu main game oline yang tidak ada  habisnya, yang samapi-sampai mereka tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarganya dan tidak punya waktu untuk berbakti demi kesenangan yang tidak ada manfaatnya. Meskipun aku tidak bisa main game sama halnya mereka, tapi aku sangat bersyukur. Untuk apa aku bisa main game kalo uang saja masih minta sama orang tua untuk dibelikan pulsa? Untuk apa aku bisa main game kalo nanti nanti pada akhirnya tidak ada sedikitpun manfaat yang kudapatkan? Pada akhirnya umur kita terhambur-hambur karena digunakan untuk sesuatu yang tidak  ada mafaatnya. Iya juga ya...


Ternyata benar apa yang disampaikan guruku bahwa “nikmat yang sangat besar kalian ada di pondok, Mengapa demikian? Karena banyak di luar sana yang lebih mampu daripada kalian akan tetapi Allah tidak bukakan hatinya untuk nyantren, juga banyak di luar sana yang teringin untuk mondok akan tetapi mereka tidak mempunyai  biaya”.  Andai  aku tidak mondok, kira-kira aku sekarang lagi di mana? Apakah bersama mereka para pecandu yang tiap harinya meresahkan warga? Apakah bersama mereka yang tiap harinya mancing murkanya Allah? Na’udubillahi min dzalik.


Terkadang aku berangan-angan tentang diriku nantinya mau jadi apa. Guruku bilang “belajar dulu, bekalilah dirimu dengan ilmu agama, nanti kalau seandainya kalian tidak jadi orang yang kaya raya, tidak bekerja di perusahaan-perusahaan besar, atau bahkan bisa kita katakan orang yang tidak punya, sehingga dengan ilmu yang kamu dapatkan  kamu bisa kaya dengan sendirimya. Karena kekayaan dan kemualiaan seseorang itu tidak terletak pada uang atau materi, akan tetapi terlatak pada ketenangan  hati (Muthmainnul qulub). Untuk apa kerja di luar negri kalau tidak bisa berkumpul dengan keluarga? Untuk  apa punya uang banyak kalau kita tidak bisa untuk mensedekahkan? Dari itulah kita jangan sesekali beranggapan pada seseorang yang munkin kehidupannya susah, karena munkin mereka lebih mengatahui arti dan makna daripada kehidupan ini, munkin mereka lebih tahu bagaimana bersyukur kepada Allah. Dan mungkin syukurnya mereka itu melebihi syukurnya orang-orang kaya. Karena orang kaya dalam kesehariannya yang  hidup dengan kemewahan akan terasa biasa-biasa saja beda halnya dengan orang fakir dan miskin, apabila mereka mendapatkan pemberian dari Allah, maka dia akan besyukur dan syukurnya mereka melebihi syukurnya orang orang yang kaya. Sedangkan hakikat harta kita adalah harta yang kita sedekahkan.


Di zaman sekarang, tempat mana sih yang lebih baik dari pondok pesantren? Tempat dimana nama Allah sering disebutkan, tempat lebih mengenal agama, tempat belajar untuk menjadi manusia yang sebenarnya, tempat belajar mandiri. Maka dari itu sangat penting dan wajib bagi kita untuk menuntut ilmu. Sadarkah akan ketidakthuan kita? Dan tidakkah ada rasa sedikitpun dalam diri kita untuk memperbaiki diri?


Selain kita mendapatkan ilmu tentunya juga banyak pahala yang kita dapatkan dari belajar, dan dikatakan bahwa pahalanya orang yang ada dalam majlis ta’lim walaupun sesaat itu lebih banyak daripada pahalanya orang yang melakukan seribu ibadah tampa dibarengi suatu ilmu.

Cukup sekian dari kami, semoga dengan adanya kita di pondok mendapatkan ridho dan naungan dari Allah  kelak di hari kiamat.

 

 

 

 

 

 

Alasan memilih untuk mondok Cerita Menarik Dari Anak Didik Kami

 








Sebelumnya aku ditanya oleh orang tua “setelah ini kamu mau lanjut kemana nak?” Dengan pertanyaan yang sering ditanyakan ini, sehingga aku menjawab ingin mondok. Setelah wisudah gurukupun datang dengan menanyakan hal yang sama “kamu mau lanjut kemana?”  tak cukup dengan pertanyaan akan tetapi guruku juga berharap padaku untuk melanjutkan pendidikan ini (tidak mondok). Kebingunganpun datang dengan begitu mencolok sehingga butuh waktu bagiku untuk memutuskannya. Alhamdulillah dengan adanya kakak yang waktu itu liburan pondok  yang sering menasehatiku juga disertai dengan tutur kata yang halus, sehingga aku termotifasi jadi kepengen kayak kakak. Dan tak lama kemudian akupun mondok di Hasan Jufri yang letaknya di Kebonagung, Bawean.



Satu tahun dua tahun aku belum bisa memaknai tentang keberadaanku, masih butuh seseorang yang bisa mengarahkanku untuk berpikir lebih dewasa. Dan kini, aku mulai bisa memaknai tentang keberadaanku. Bahwa betapa pentingnya belajar  dengan seorang guru dan betapa pentingnya pemahaman yang didapatkan dari seorang guru. Bahkan dikatakan “orang yang belajar tampa seorang guru, pada hakikatnya dia sedang berguru pada setan” ngeri juga bukan! Karena itulah sosok seorang guru sangat dibutuhkan oleh seorang pelajar. Apalagi di zaman sekarang yang pegangannya HP, seakan-akan yang namanya HP ini sudah menjadi kebutuhan hidup. Berbeda dengan kita yang tiap harinya memegang kitab dan pulpen.  Dan bagi orang tua sudahkah memberi perhatian lebih terhadap perkembangan anaknya? Apakah  orang tua sudah memantau anaknya selama 24 jam?  Yang nantinya  akan dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah.

Tak terasa, kini aku berada di kelas empat, tentunya banyak pengalaman-pengalaman yang sudah dialami, yang kalau mengingatnya jadi kepengen kembali lagi kemasa-masa sebelumnya dan ingin memperbaiki. Sayangnya hal yang semacam itu mustahil. Akan tetapi adakalanya guruku mengatakan “tidak ada kata terlambat untuk mencari ilmu” sehingga semenjak itulah muncul lagi dalam diriku rasa semangat dan giat lagi untuk belajar. Lagi pula, umur itu bukan suatu faktor giat dan tidaknya seseorang dalam menuntut ilmu. Bahkan selama kita hidup, kita wajib untuk mencari ilmu. Kalau mengingat pelajaranku yang sudah lewat di dalam kitab ta’limul muta’allim dijelaskan bahwa “tuntutlah ilmu dari semenjak buaian sampai liang lahad”. Dan  karena aku yakin bahwa selama kita berusaha, capek dalam belajar, harus menghadapi suatu kebosanan, itu semua pada akhirnya tidak akan mengecawakan hasil dari apa yang kita harapkan dan yang kita perjuangkan.


Mengingat suasana yang sudah lewat, dimana orang-orang pada sibuk dan ketakutan dengan semaraknya covid-19 aku khawatir dengan keadaan di rumah. ayah, ibu dan semua keluarga, apakah mereka semua baik-baik saja? Mungkin mereka juga memikirkan hal yang sama “apakah anakku di pondok baik-baik saja?” waktu itu, aku juga sempat sedih mendengar kabar bahwa pembelajaran di luar sangat terbatas, sampai-sampai pembelajaran mereka harus tatap muka lewat HP (daring). Kata guruku, manfaat yang kita dapatkan dari belajar daring, hasilnya juga akan berbeda dibandingkan berada di kelas. Lalu bagaimana pembelajaranku di pondok? Tetap berjalan seperti biasanya dengan catatan mematuhi protokol-protokol yang ditetapkan oleh pihak yang berwajib seperti; memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, senam dan berbagai usaha-usaha yang lain.


Ternyata mondok itu seru ya!  Banyak dari temanku yang datang dari berbagai tempat. Ngaji bareng, saling menasehati dan keseruan-keseruan lainnya. Dan kebahagiaan di pondok tentunya tidaklah dimiliki oleh semua orang. Yakni pada saat liburan! Banyak dari temanku yang menantikan momen yang sangat ditunggu-tunggu, bahkan ada dari mereka yang punya jadwal khusus di dalamnya. ada yang rekreasi, membentuk suatu majlis, pengajian, khatmil qu’an, jalan-jalan ketempat wisata dan lain-lain. Namun aku lebih sering dirumah menggunakan waktu yang sadikit ini untuk berbakti kepada orang tua, kumpul bareng keluarga. Malah menurutku hal ini menyenangkan dan lebih manfaat.


Keberadaan santri sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat, dengan ilmu yang dimilikinya juga dikenal dengan masalah akhlak seperti; jujur, amanah, dan tanggung jawab. karena shifat itu semua akan membawa seseorang dalam menujuh suatu keberhasilan. karena kalau tidak, bayangkan saja jika di suatu daerah yang dipinpin oleh peminpin yang tidak amanah, bohong pada rakyatnya, sudah pasti akan timbul sesuatu yang tidak kita inginkan. Karena itulah kita berada di pondok tidak hanya mengaji, akan tetapi kita juga dilatih untuk sabar dan sadar dengan cara mengaplikasikan kegiatan dan peraturan yang ada. Contoh saja,  kita dibangunkan oleh pengurus sebelum subuh untuk shalat. kita sadar bahwa betapa pentingnya seseorang untuk melakukan sholat.  Sehingga nanti pada saat kita keluar dari pondok, kita sudah terbiasa bangun untuk melaksanakan shalat. Dan dapat kita sadari bahwa kalau kita sendirian, siapa lagi yang mau membangunkan dan mengingatkan kita untuk melaksanakan sholat?


Melihat temanku yang selalu main game oline yang tidak ada  habisnya, yang samapi-sampai mereka tidak punya waktu untuk berkumpul bersama keluarganya dan tidak punya waktu untuk berbakti demi kesenangan yang tidak ada manfaatnya. Meskipun aku tidak bisa main game sama halnya mereka, tapi aku sangat bersyukur. Untuk apa aku bisa main game kalo uang saja masih minta sama orang tua untuk dibelikan pulsa? Untuk apa aku bisa main game kalo nanti nanti pada akhirnya tidak ada sedikitpun manfaat yang kudapatkan? Pada akhirnya umur kita terhambur-hambur karena digunakan untuk sesuatu yang tidak  ada mafaatnya. Iya juga ya...


Ternyata benar apa yang disampaikan guruku bahwa “nikmat yang sangat besar kalian ada di pondok, Mengapa demikian? Karena banyak di luar sana yang lebih mampu daripada kalian akan tetapi Allah tidak bukakan hatinya untuk nyantren, juga banyak di luar sana yang teringin untuk mondok akan tetapi mereka tidak mempunyai  biaya”.  Andai  aku tidak mondok, kira-kira aku sekarang lagi di mana? Apakah bersama mereka para pecandu yang tiap harinya meresahkan warga? Apakah bersama mereka yang tiap harinya mancing murkanya Allah? Na’udubillahi min dzalik.


Terkadang aku berangan-angan tentang diriku nantinya mau jadi apa. Guruku bilang “belajar dulu, bekalilah dirimu dengan ilmu agama, nanti kalau seandainya kalian tidak jadi orang yang kaya raya, tidak bekerja di perusahaan-perusahaan besar, atau bahkan bisa kita katakan orang yang tidak punya, sehingga dengan ilmu yang kamu dapatkan  kamu bisa kaya dengan sendirimya. Karena kekayaan dan kemualiaan seseorang itu tidak terletak pada uang atau materi, akan tetapi terlatak pada ketenangan  hati (Muthmainnul qulub). Untuk apa kerja di luar negri kalau tidak bisa berkumpul dengan keluarga? Untuk  apa punya uang banyak kalau kita tidak bisa untuk mensedekahkan? Dari itulah kita jangan sesekali beranggapan pada seseorang yang munkin kehidupannya susah, karena munkin mereka lebih mengatahui arti dan makna daripada kehidupan ini, munkin mereka lebih tahu bagaimana bersyukur kepada Allah. Dan mungkin syukurnya mereka itu melebihi syukurnya orang-orang kaya. Karena orang kaya dalam kesehariannya yang  hidup dengan kemewahan akan terasa biasa-biasa saja beda halnya dengan orang fakir dan miskin, apabila mereka mendapatkan pemberian dari Allah, maka dia akan besyukur dan syukurnya mereka melebihi syukurnya orang orang yang kaya. Sedangkan hakikat harta kita adalah harta yang kita sedekahkan.


Di zaman sekarang, tempat mana sih yang lebih baik dari pondok pesantren? Tempat dimana nama Allah sering disebutkan, tempat lebih mengenal agama, tempat belajar untuk menjadi manusia yang sebenarnya, tempat belajar mandiri. Maka dari itu sangat penting dan wajib bagi kita untuk menuntut ilmu. Sadarkah akan ketidakthuan kita? Dan tidakkah ada rasa sedikitpun dalam diri kita untuk memperbaiki diri?


Selain kita mendapatkan ilmu tentunya juga banyak pahala yang kita dapatkan dari belajar, dan dikatakan bahwa pahalanya orang yang ada dalam majlis ta’lim walaupun sesaat itu lebih banyak daripada pahalanya orang yang melakukan seribu ibadah tampa dibarengi suatu ilmu.

Cukup sekian dari kami, semoga dengan adanya kita di pondok mendapatkan ridho dan naungan dari Allah  kelak di hari kiamat.

 

 

 

 

 

 

No comments