Ada masa di mana seseorang masih terlihat muda, masih tertawa,
masih aktif di media sosial, tetapi diam-diam sedang bingung dengan hidupnya
sendiri. Umur terus berjalan, teman-teman mulai punya pencapaian, sebagian
sudah bekerja, menikah, sukses, atau terlihat bahagia. Sementara dirinya masih
merasa tertinggal jauh di belakang.
Inilah yang sekarang banyak dialami anak muda: quarter life
crisis.
Fase ketika seseorang mulai mempertanyakan hidupnya sendiri.
“Aku sebenarnya mau jadi apa?”
“Kenapa hidupku begini-begini saja?”
“Kenapa orang lain terlihat lebih berhasil?”
Dan pertanyaan paling melelahkan:
“Apakah aku sudah terlambat?”
Di zaman sekarang, tekanan hidup tidak hanya datang dari dunia
nyata, tetapi juga dari layar handphone. Setiap hari kita melihat pencapaian
orang lain. Ada yang pamer karier, hubungan, uang, pencapaian, bahkan
kebahagiaan. Tanpa sadar, semua itu membuat banyak anak muda mulai
membandingkan dirinya sendiri.
Akhirnya, hidup berubah menjadi perlombaan yang melelahkan.
Banyak orang terlihat baik-baik saja, padahal pikirannya penuh
kecemasan. Mereka tersenyum di depan orang lain, tetapi malam harinya sulit
tidur karena memikirkan masa depan. Mereka terlihat kuat, padahal hatinya
sedang lelah.
Quarter life crisis bukan hanya tentang pekerjaan atau uang. Kadang
seseorang kehilangan arah karena terlalu lama memendam kecewa, gagal, merasa
tidak dihargai, atau merasa hidupnya tidak memiliki tujuan yang jelas.
Yang lebih berat lagi, sebagian anak muda merasa harus sukses
sebelum usia tertentu. Seolah umur menjadi ancaman. Padahal setiap orang
memiliki jalan hidup yang berbeda.
Tidak semua orang berhasil di usia 20 tahun.
Tidak semua orang menemukan arah hidupnya dengan cepat.
Dan tidak semua keterlambatan berarti kegagalan.
Kadang hidup memang membawa seseorang berputar-putar terlebih
dahulu agar ia belajar tentang sabar, kuat, dan mengenal dirinya sendiri.
Ironisnya, banyak orang hari ini terlalu sibuk mengejar pengakuan
manusia sampai lupa menenangkan dirinya sendiri. Mereka ingin terlihat berhasil
di mata orang lain, tetapi kehilangan damai di dalam hati.
Padahal hidup bukan tentang siapa yang paling cepat. Hidup adalah
tentang siapa yang tetap berjalan meski pernah hancur berkali-kali.
Dalam Islam sendiri, manusia diajarkan bahwa hidup adalah ujian.
Tidak semua fase hidup akan mudah. Ada saat di mana Allah membuat seseorang
merasa lemah agar ia kembali mendekat kepada-Nya. Karena sering kali manusia
baru benar-benar mencari Tuhan ketika hidupnya mulai terasa kosong.
Quarter life crisis bukan akhir dari kehidupan. Bisa jadi itu
adalah awal seseorang menemukan dirinya yang sebenarnya. Awal untuk berhenti
menjadi orang lain. Awal untuk memahami bahwa hidup tidak harus selalu
sempurna.
Tidak apa-apa jika hari ini masih bingung.
Tidak apa-apa jika langkahmu masih pelan.
Tidak apa-apa jika hidupmu belum seperti orang lain.
Sebab terkadang, arah hidup tidak ditemukan ketika seseorang
berlari terlalu cepat, tetapi ketika ia berhenti sejenak, lalu kembali mengenal
siapa dirinya dan untuk apa ia hidup di dunia ini.
