Di tengah derasnya arus modernitas, anak muda hari ini dihadapkan pada dua pilihan yang sering dipertentangkan: ta’aruf atau pacaran. Dua jalan ini bukan sekadar beda istilah, tapi mencerminkan cara pandang hidup, nilai, dan tujuan dalam menjalin hubungan. Lalu, di mana posisi kita hari ini?
Pacaran sudah menjadi hal yang dianggap lumrah di kalangan
anak muda. Bahkan, sebagian merasa aneh jika tidak pernah menjalaninya. Media
sosial, tontonan, dan lingkungan ikut membentuk persepsi bahwa cinta harus
diekspresikan melalui hubungan tanpa ikatan.
Namun, realitanya tidak selalu seindah yang dibayangkan.
Banyak yang awalnya berniat serius, tapi berakhir dengan luka. Waktu terbuang,
hati tersakiti, bahkan tidak sedikit yang melampaui batas yang seharusnya
dijaga. Dalam Islam, hubungan tanpa ikatan yang jelas rentan membuka
pintu-pintu maksiat, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Pacaran sering
menjanjikan kebahagiaan, tapi tidak selalu memberi arah.
Berbeda dengan itu, ta’aruf sering dianggap kuno, terlalu
serius, bahkan kaku. Padahal di balik kesederhanaannya, ta’aruf menyimpan
kemuliaan. Ta’aruf bukan sekadar proses mengenal, tapi juga bentuk penjagaan
diri. Ada batas, ada adab, dan ada tujuan yang jelas, yaitu pernikahan.
Memang, jalan ini tidak sepopuler pacaran. Tidak banyak yang
memamerkannya di media sosial, tidak selalu penuh cerita romantis yang bisa
ditunjukkan ke orang lain. Tapi justru di situlah letak keindahannya, tenang,
terjaga, dan penuh keberkahan. Ta’aruf mengajarkan bahwa cinta tidak harus
diumbar, cukup dijaga sampai waktunya tiba.
Anak muda zaman sekarang sebenarnya tidak kekurangan
pengetahuan. Banyak yang tahu bahwa ta’aruf lebih sesuai dengan nilai Islam.
Tapi masalahnya bukan pada tahu atau tidak, melainkan pada kuat atau tidak.
Lingkungan pergaulan, tekanan sosial, dan rasa ingin memiliki seringkali
mengalahkan prinsip.
Akhirnya muncul kalimat, “nanti saja ta’arufnya, sekarang
pacaran dulu.” Padahal yang sementara itu sering meninggalkan bekas yang lama.
Di sisi lain, tidak sedikit juga yang mulai sadar. Mereka memilih menjaga diri,
memperbaiki kualitas pribadi, dan menahan diri dari hubungan yang belum halal.
Meski terasa sepi, mereka percaya bahwa kesabaran akan berbuah manis.
Pertanyaannya bukan lagi mana yang lebih populer, tapi mana
yang lebih mendekatkan kita pada kebaikan. Jika tujuan hubungan adalah
pernikahan yang berkah, maka prosesnya pun seharusnya dijaga. Karena sesuatu
yang dimulai dengan cara yang baik, insyaAllah akan berakhir dengan kebaikan
pula.
Bukan berarti semua yang pernah pacaran itu buruk, dan bukan
pula ta’aruf menjamin segalanya sempurna. Tapi setidaknya, ta’aruf adalah usaha
untuk berjalan di jalan yang diridhai Allah.
Cinta sejati bukan yang membuat kita lalai, tapi yang
mendekatkan kita kepada Allah. Bukan yang membuat hati gelisah karena takut
kehilangan, tapi yang menenangkan karena dijaga dalam kebaikan.
Di zaman yang serba bebas ini, menjaga diri adalah bentuk
keberanian. Dan memilih ta’aruf di tengah budaya pacaran adalah pilihan yang
tidak mudah, tapi mulia. Karena pada akhirnya, yang kita cari bukan sekadar
hubungan, tapi keberkahan dalam perjalanan hidup.
