Di era sekarang, naik rank dalam game online bisa jadi kebanggaan tersendiri. Dari yang awalnya cuma “iseng”, lama-lama jadi serius. Push rank tiap malam, strategi makin matang, bahkan rela begadang demi satu kemenangan. Tapi di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan dengan jujur: apa yang ikut turun saat rank kita naik?
Banyak yang nggak sadar, waktu adalah taruhan utama dalam permainan ini. Satu match mungkin cuma belasan menit, tapi kalau terus diulang, tanpa terasa berjam-jam habis begitu saja. Malam yang seharusnya bisa dipakai istirahat atau ibadah, justru berlalu di depan layar. Bahkan tak jarang, adzan berkumandang, tapi headset masih terpasang. Sholat ditunda, lalu lupa. Di titik ini, masalahnya bukan lagi soal game, tapi soal prioritas.
Game pada dasarnya tidak haram. Ia bisa jadi hiburan,
pelepas penat, bahkan sarana membangun relasi. Tapi ketika game mulai menggeser
yang wajib, di situlah ia berubah arah. Bukan gamenya yang salah, tapi cara
kita memperlakukan waktu dan diri sendiri.
Fenomena lain yang sering muncul adalah perubahan sikap. Di
dalam game, kita mungkin sering menemukan—atau bahkan menjadi—pribadi yang
mudah marah, berkata kasar, menyalahkan tim, atau toxic. Padahal, akhlak
seorang Muslim tidak berhenti di dunia nyata saja. Apa yang kita ucapkan,
bahkan di dunia virtual, tetap tercatat. Lisan yang terbiasa kasar di game,
perlahan bisa terbawa ke kehidupan sehari-hari.
Lebih jauh lagi, ada yang sampai mengorbankan banyak hal
demi game: waktu belajar, waktu bersama keluarga, bahkan uang untuk membeli
item atau skin. Tanpa sadar, kita sedang menukar sesuatu yang nyata dan
bernilai, dengan sesuatu yang hanya bertahan di dunia virtual.
Coba renungkan sejenak. Kita begitu semangat meningkatkan
rank dalam game, tapi bagaimana dengan “rank” kita di sisi Allah? Seberapa
besar usaha kita untuk memperbaiki sholat, memperbanyak dzikir, atau
mendekatkan diri kepada-Nya? Jangan sampai kita sibuk mengejar kemenangan di
dunia maya, tapi justru kalah dalam kehidupan yang sebenarnya.
Bukan berarti harus berhenti total dari game. Islam tidak
melarang hiburan, selama tidak melalaikan. Yang perlu diperbaiki adalah kendali
diri. Mainlah secukupnya, jangan sampai berlebihan. Atur waktu dengan bijak.
Jangan biarkan game mengambil alih kendali hidupmu.
Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa
tinggi rank yang kita capai di layar, tapi seberapa dekat kita dengan Allah di
dunia nyata.
Jadi, kalau hari ini rank-mu naik, coba tanya pada diri
sendiri: imanmu ikut naik, atau justru diam di tempat… bahkan turun?
