"WAHAI ANAKKU" Bagian 1

Diceritakan, bahwa ada seorang murid yang menghabiskan umur mudanya untuk berguru kepada Imam Ghazali, sehingga ia menguasai berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan agama.

Suatu ketika saat semua hal dari ilmu itu terkumpul, ia merenung tentang keadaan dirinya, ia tampak gelisah dan bertanya-tanya; aku telah mempelajari semua jenis disiplin ilmu dan umur ini ku habiskan untuk mengumpulkan semuanya, aku harus tahu, ilmu yang mana yang bermanfaat untukku dan menenangkanku kelak di kuburku?!, terbesit dalam benaknya suatu hadist :
اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع

Ia terlarut-larut dalam kegelisahan itu, sehingga ia memutuskan untuk menulis sepucuk surat yang di tujukan kepada gurunya guna bertanya dan meminta saran dan nasehat, walapun ia tahu bahwa jawaban dari kegundahannya terdapat di dalam karangan-karangan gurunya seperti "Ihya Ulumuddin" dan yang lainnya, akan tetapi ia ingin mendapat balasan saran dan nasehat langsung, untuk di jadikan pedoman dalam sisa umurnya dan mendampinginya sampai ajal menjemput.

Kemudian balasan surat dari sang guru yang di tunggu-tunggu pun datang dan sampai di tangannya,
Dengan penuh riang dan gembira ia mulai membaca dan menyimak kalimat demi kalimat yang tersusun rapi, bermula dengan kata :

WAHAI ANAKKU

Bersambung ...

"Wahai Anakku" ~ Gus Zah Faid (Episode 1)



"WAHAI ANAKKU" Bagian 1

Diceritakan, bahwa ada seorang murid yang menghabiskan umur mudanya untuk berguru kepada Imam Ghazali, sehingga ia menguasai berbagai disiplin ilmu dan pengetahuan agama.

Suatu ketika saat semua hal dari ilmu itu terkumpul, ia merenung tentang keadaan dirinya, ia tampak gelisah dan bertanya-tanya; aku telah mempelajari semua jenis disiplin ilmu dan umur ini ku habiskan untuk mengumpulkan semuanya, aku harus tahu, ilmu yang mana yang bermanfaat untukku dan menenangkanku kelak di kuburku?!, terbesit dalam benaknya suatu hadist :
اللهم إني أعوذ بك من علم لا ينفع

Ia terlarut-larut dalam kegelisahan itu, sehingga ia memutuskan untuk menulis sepucuk surat yang di tujukan kepada gurunya guna bertanya dan meminta saran dan nasehat, walapun ia tahu bahwa jawaban dari kegundahannya terdapat di dalam karangan-karangan gurunya seperti "Ihya Ulumuddin" dan yang lainnya, akan tetapi ia ingin mendapat balasan saran dan nasehat langsung, untuk di jadikan pedoman dalam sisa umurnya dan mendampinginya sampai ajal menjemput.

Kemudian balasan surat dari sang guru yang di tunggu-tunggu pun datang dan sampai di tangannya,
Dengan penuh riang dan gembira ia mulai membaca dan menyimak kalimat demi kalimat yang tersusun rapi, bermula dengan kata :

WAHAI ANAKKU

Bersambung ...