Home Home Kilas Sejarah Syeikh Jumadil Kubro
Home

Oleh Vina Anom pada 12 Oktober 2010

Jangan sampai melupakan sejarah, kiranya tepat semboyan dari Soekarno ini senantiasa kita gelorakan dalam memahami jati diri bangsa. Bagi umat muslim pun selayaknya mempelajari sejarah pengembaraan dakwah para syuhada’ terdahulu. Budaya ziarah ke makam para syuhada’ dan waliyullah bisa sekaligus dimanfaatkan untuk mempelajari sejarah perjuangannya. Sehingga, akan member manfaat lebih menghayati ajaran Islam sesungguhnya. Bagaimana Islam diajarkan dengan nilai-nilai dakwah yang sesuai dengan nalar piker umat, yaitu perlahan tapi pasti. Dengan demikian Islam bisa berkembang dinamis dan diterima dengan penuh kesadaran sesuai dengan watak Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Di sisi lain, nilai spirit Islam dalam memberikan pencerahan tidak dipahami sebagai agama-ansich yang kini kerap dijadikan sebagai pengkotakan golongan manusia. Melainkan ajaran hidup untuk memenuhi ketaqwaan umat kepada tuhannya.

Spirit Islam bisa dipelajari salah satunya dari keteladanan perjuangan Syeikh Jumadil Kubro yang sarat ketulusan dalam berdakwah. Selain kita bisa melestarikan ajarannya, dan kemudian mengemasnya sesuai dengan konteks kekinian dan kedisinian. Tidak berlebihan, bila keberadaannya menjadi referensi sejarah, keilmuan, dan nilai moral yang begitu penting bagi pembinaan dan pendidikangenerasi dari zaman ke zaman.

Syeikh Jumadil Kubro merupakan tokoh kunci proses Islamisasi tanah Jawa yang hidup sebelum walisongo. Seorang penyebar Islam pertama yang mampu menembus dinding kebesaran Kerajaan Majapahit. Syeikh Jumadil Kubro bernama lengkap Syeikh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Beliau adalah cucu ke-18 Rasulullah Muhammad SAW dari garis Syyidah Fatimah Az Zahrah al-Battul. Ayahnya bernama Syeikh Jalal yang karena kemuliaan akhlaknya mampu meredam pertikaian Raja Campa dengan rakyatnya. Sehingga, Syeikh Jalal diangkat sebagai raja dan penguasa yang memimpin Negara Campa.Syeikh Jamaluddin tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayahnya sendiri. Setelah dewasa, beliau mengembara ke negeri neneknya di Hadramaut. Di sana beliau belajar dan mendalami beragam ilmu dari beberapa ulama yang terkenal di zamannya. Bahkan keilmuan yang beliau pelajari meliputi Ilmu Syari’ah dan Tasawwuf, di samping ilmu-ilmu yang lain.

Selengkapnya